Mahasiswa Farmasi Keluhkan Pembimbing Akademik yang Tak Tetap

0
252

UMS, pabelan-online.com – Jumlah dosen Fakultas Farmasi (FF) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang terbatas, membuat seluruh dosen dijadikan Pembimbing Akademik (PA) yang bisa mengampu hingga 40 mahasiswa. 

Selaku Kepala Program Studi (Kaprodi) S1 Farmasi, Anita Sukmawati mengungkapkan, dosen pembimbing akademik (PA) di FF UMS mengalami perubahan setiap tahunnya. Ia mengatakan ada beberapa faktor mengapa hal tersebut bisa terjadi.

“Ada dosen yang pindah, otomatis mahasiswa ada yang engga dapat. Ada juga yang cuti sakit, dan dosen studi lanjut ke luar negeri, jadi engga saya kasih bimbingan akademik,” ungkapnya ketika ditemui tim Pabelan Online, Selasa (02/04/2019). Hal ini mengakibatkan beberapa mahasiswa terpaksa mendapatkan dosen PA yang berganti – ganti, alias tidak tetap.

Anita menambahkan, setiap dosen pembimbing akademik memiliki kuota maksimal, yakni sepuluh mahasiswa. Di Fakultas Farmasi sendiri, jumlah dosen yang aktif hanya 26 orang, dikurangi lima dosen yang masih menjalani studi lanjut. Sementara total mahasiswa S1 Farmasi ada sekitar 761 jiwa. Akibatnya, semua dosen dijadikan dosen PA dan harus mengampu 40 mahasiswa.

Anita juga menuturkan, dalam penentuan dosen PA, mahasiswa tidak memiliki kebebasan dalam memilih, sebab penentuan dosen PA sudah tersistem. “Kalau sampai ada yang nggak dapet PA, itu nggak mungkin deh, karena itu by sistem jadi semua pasti dapet,” tandas Anita.

Baca Juga: Kuliah Umum, IQT UMS Hadirkan Hamid Fahmi Zarkasyi

Salah satu mahasiswi yang tak mau disebut namanya mengungkapkan, bahwa selama enam semester berkuliah di FF UMS, dirinya sudah dua kali berganti dosen PA. Diakuinya, hal tersebut terkadang membuat mahasiswa menjadi kerepotan dan bingung. “Apalagi kalau setiap dosen membimbing sepuluh sampai 20 mahasiswa, harus antre kalau mau KRS-an,” keluhnya, Rabu (03/04/2019).

Mahasiswi ini pun berharap, agar selanjutnya dosen PA tidak diganti-ganti lagi, sehingga dapat mempermudah mahasiswa dalam bertanya atau konsultasi.

Hal senada dilontarkan oleh mahasiswi Farmasi lainnya, Khalifah Utami. Ia mengatakan, dosen PA yang seringkali berganti ini menyebabkan mahasiswa kelimpungan ketika hendak mengisi Kartu Rencana Studi (KRS). “Misalnya, pas ambil KRS sebelumnya kita sama dosen A, terus pas ambil Kartu Hasil Studi (KHS) dialihkan ke dosen B, jadi bingung aja,” ungkapnya saat ditemui tim Pabelan Online, Rabu (03/04/2019).

Khalifah menuturkan, ini sudah menginjak ketiga kalinya berganti dosen PA. Ia mengaku agak repot dan kebingungan ketika terjadi pergantian dosen PA terus menerus. Dirinya mengkhawatirkan ada kemungkinan dosen PA yang baru kurang mengetahui perkembangan mahasiswa, mengingat dosen PA tersebut tidak membersamai mahasiswa bimbingannya sejak awal. “Kan ada tuh PA yang benar-benar memberi bimbingan, tapi ada pula yang enggak gitu,” katanya.

Namun dirinya belum mengajukan keluhan ke pihak dekanat terkait hal ini. Ia pun berharap tidak ada lagi pergantian dosen PA, sehingga mahasiswa tidak lagi kebingungan saat butuh konsultasi dengan dosen pembimbing akademik.

 

Reporter         : Devi Wijayanti dan Secoundio Rabbanissa Asmoro

Editor             : Widia Arum Pratiwi