Hanya Aku dan Kenanganku

0
264

Pagi itu perkuliahan akan segera dimulai. Aku kuliah semester satu di salah satu universitas swasta di Surakarta. Teman baru, tempat baru, bahkan dengan semangat yang baru. Semuanya tampak asing bagiku, namun alhamdulillah aku memiliki satu kawan yang kukenal saat daftar ulang, Tika namanya.

“Selamat pagi, perkenalkan nama saya Sila dari Surabaya. Semoga kalian suka dengan kepribadian saya,” begitu sapaku dengan teman-teman pada saat perkenalan untuk mengawali kelas mata kuliah Hukum Perdata hari itu.

Berminggu-minggu berlalu, seisi kelas sudah mulai bercengkrama dan memilih insan untuk dijadikan sahabat. Namun hari-hari sebelumnya, tak pernah sedikitpun terlintas dipikiranku untuk mengamati salah satu mahasiswa laki-laki di kelas. Hanya saja entah mengapa, hari itu aku melihatnya dengan tertegun.

Laki-laki dengan badan kurus namun tinggi, dan wajahnya selalu terlihat murung. Ternyata setelah satu minggu kuamati, ia selalu datang dengan sepatu hijau, tas ransel yang besar, selalu bersama buku kemanapun ia pergi. Disetiap jam kosong, ia nyaris tak pernah lepas dari earphonenya.

Mungkin bagi teman-temanku ia bukan sosok yang perlu mendapat perhatian untuk dipandangi, namun entah mengapa aku menyukai pribadi yang seperti itu. Pribadi yang tertutup, pendiam, dan penuh misteri.

“Nanda, kamu nanti ikut kelas ekonomi nggak?” celetuk salah satu teman yang kukenal, padanya. Dari situ aku baru mengerti ternyata ia bernama Nanda. Mulai saat itu, aku semakin tertarik untuk menyelami hidupnya. Dia sosok yang, jangankan untuk berbicara, untuk tersenyum saja, rasanya sungguh beban yang amat berat.

Aku tak menghitung sudah berapa lama aku telah menyukai laki-laki itu tanpa ada niat sedikitpun untuk mendekati. Namun, saat mata kuliah Pancasila,  tak kusangka kami satu kelompok. Dari situlah kami terasa mengenal satu sama lain. Seperti hari-hari biasa, ia selalu tampak dingin dan diam.

Namun ia tak pernah absen dalam memberikan pendapatnya untuk kerja kelompok kami. Dari situ aku menarik kesimpulanku sendiri, terlihat bahwa ia cerdas dalam kuliah. Aku sering menghindari bertanya kepadanya, karena aku lebih memilih diam ketimbang harus menghadapi laki-laki dingin ini.

Saat aku mengalami kesulitan dalam membuat opini tentang Nilai Integritas, aku tak punya pilihan lain selain memulai pembicaraan dengan Nanda.

“Permisi, Nanda. Aku mau tanya tentang integritas ini, kamu bisa bantu aku nggak tentang opini-opini yang membahas tentang ini, soalnya aku bingung,” tanyaku.

Namun, ia dengan ketus menjawab, “ Kamu baca aja berulang-ulang bab itu, namanya opini kan harus dari diri masing-masing.”

Maka sejak saat itu, aku berpikir untuk lebih baik diam saja. Bahkan untuk sekadar menatapnya, aku tak mampu. Namun yang lebih aneh, aku tak marah kepadanya, malah aku semakin mengagumi laki-laki ini.

Semester satu telah kami lewati dengan hasil ujian yang cukup untuk sedikit dibanggakan. Berminggu-minggu, aku tak pernah lagi mendengar kabar dari Nanda, karena ia sudah berbeda kelas denganku.

Gelisah sebenarnya, namun aku tak mau menanyakan kepada siapapun, hingga akhirnya kudengar salah satu teman asramanya bilang kalau Nanda sedang sakit. Dalam hatiku masih biasa saja rasanya mendengar berita itu, namun terasa berbeda saja. Biasanya, kami selalu satu kelas disetiap mata kuliah, dan aku hapal dimana tempat duduknya. Ia selalu duduk paling depan di barisan kedua atau ketiga, namun sekarang aku tak melihatnya di kursi itu.

Tiga hari kemudian, ia tak kunjung masuk kelas (aku mendengar kabar dari temanku), dan sepanjang tiga hari itu pula aku mengganggu jam tidur sahabatku Tika. Mungkin karena aku sebenarnya khawatir, namun aku lampiaskan semua kepada Tika.

Masih ku ingat jelas, waktu itu 14 Oktober. Selepas tiga hari itu, aku melihatnya duduk di bangku kelas yang biasa ia duduki, dan tanpa sadar aku mencoba bicara dengannya. Aku kaget, dia tidak lagi menjawab dengan ketus. Malahan, ia menjawab pertanyaanku disertai senyum yang berkembang di bibirnya.

Hubungan pertemanan kami lama-kelamaan semakin membaik. Mulai hari itu, rasanya aku sudah bosan berbicara dengan teman-temanku yang selalu membicarakan hal-hal yang sebenarnya tidak penting.

Entah mengapa kehadiran Nanda membuatku tak ingin bergaul dengan teman-teman yang lain. Dengan Tika, aku  sudah tidak pernah bercerita lagi tentang Nanda.

Untuk pertama kalinya, Nanda mengajakku pergi ke sebuah toko buku. Buku tentang perjuangan hidup yang ia suka, katanya. Siang itu, Nanda berceloteh banyak hal tentang buku yang ia gemari, genre musik yang ia suka, bahkan sampai kehidupannya pun ia ceritakan kepadaku. Namun, aku tak tahu mengapa aku merasa orang-orang di sekitarku ini menatapku begitu aneh.

“Nan, ada yang salah sama bajuku hmmm atau penampilanku? Kenapa orang-orang menatapku dengan pandangan seperti itu?” tanyaku bingung.

“Sudahlah, nggak ada yang salah dari kamu. Untuk apa juga mendengarkan omongan orang-orang,” ujar Nanda seraya menepuk bahuku dan tersenyum ceria.

Ya, entah mengapa sejak kedekatan kami Nanda terlihat begitu ceria, serasa tidak ada beban seperti sebelum-sebelumnya. Namun orang-orang selalu menatap aneh diriku semenjak sering jalan dengan Nanda. Karena aku menjadi seseorang yang tertutup, saat itu| orang-orang tidak mau berbicara denganku. Kubiarkan saja mereka selayaknya angin yang tidak pernah aku perhatikan.

Semakin hari kedekatanku dengan Nanda semakin erat, ditambah lagi kami sering bertemu di perpustakaan kampus dan sering mengobrol di pojok ruangan itu karena kami berada dikelas yang berbeda. Aku tak tahu alasan Nanda suka sekali mengajakku ke perpus, dan saat itu pula aku menganggap bahwa perpustakaan adalah tempat teromantis yang pernah ada.

Hingga suatu hari Tika protes dengan diriku, menanyakan keadaaanku tentang persahabatan kita. Aku pikir ia wajar berlaku seperti itu, karena hampir satu bulan ini aku tidak pernah menghabiskan waktu dengan Tika. Nanda selalu mengajakku pergi ke perpustakaan atau sekadar chatting. Yah apapun itu, selagi berhubungan dengan Nanda, aku rasanya bahagia dan menemukan sesuatu yang baru dalam hidupku.

Hari Minggu, Nanda mengajakku bertemu di sanggar musik yang ada di kota Surakarta. Aku baru tahu bahwa bukan hanya selera musiknya saja yang bagus, tetapi ia juga pandai dalam memainkan musik. Ia mengajariku bermain piano. Ia juga bisa bermain biola.

“Sila, tau nggak, sebenarnya musik itu memang indah kalau dialunkan sendiri-sendiri oleh ahlinya, tapi kamu tahu, musik akan lebih menakjubkan lagi kalau dipadukan dengan musik yang lain, seperti biola dengan piano. Karakter permainan piano dan biola jelas berbeda, tapi kalau sudah menjadi satu karakter musik, mereka menjadi luar biasa,” cerita Nanda padaku, menerangkan tentang dunianya.

“Kamu suka banget ya sama musik?” tanyaku.

“Bukan suka lagi, aku jatuh cinta. Lewat musik, aku bisa mengeluarkan karakterku. Juga aku jadi punya dunia dan teman yang baru,” jawab Nanda dengan diakhiri senyum simpul yang manis.

Hari itu, kami puas berjalan berdua.Aku merasa semakin mengenalnya. Namun diantara kami tak ada hubungan yang lebih spesial daripada teman.

Mata kuliah Tata Negara menyambut di hari Senin esoknya. Seperti biasa, aku tak pernah ikut berbincang lagi dengan teman-temanku. Aku hanya duduk disamping Tika, menanti dosen datang.

Tiba-tiba dosen pun datang, namun membawa kabar duka.

“Anak-anak, seorang teman kita kelas Hukum D telah meninggal sebulan yang lalu karena penyakit kanker otak. Kabar ini baru didapat, karena orang tua almarhum baru memberi kabar, namanya Nanda,” kata pak dosenku.

Seketika jantungku mencelos, merasa tak percaya dengan semua itu. Sontak saja, aku berlari ke kelas D mencari sosok pujaanku namun tak dapat kutemui ia. Aku terus berlari mencari Nanda di perpustakaan tanpa mempedulikan teriakan teman-teman.

Sosok tampan itu tak kutemui disana. Tanpa berpikir panjang, aku naik bis menuju sanggar musik yang pernah kami datangi. Tak ada sosok Nanda disana, namun aku menemukan Fahri, sahabat Nanda. Tak sedikitpun air mata menetes karena aku belum percaya dengan semua itu.

“Fahri, kamu ngapain kesini? Dimana Nanda? Kamu kesini sama Nanda kan?” semprotku padanya dengan pertanyaan bertubi-tubi.

“Sila, aku kesini karena rindu dengan Nanda. Sebenarnya ia memberiku surat untukmu namun ia menyuruhku memberikan ini setelah sebulan kepergiannya,” kata Fahri.

Aku tak kuasa menerima kenyataan tentang kepergian Nanda sebulan yang lalu ternyata nyata. Bukankah kemarin kami masih kesini bersama?

Lalu aku buka surat itu.

Sila,wanita yang sudah mencuri perhatianku. Aku selalu meminta kepada Tuhan untuk membentengi setiap jengkal hatiku akan semua ingin di hidupku. Kekasih anganku, kamu, ingin sekali aku menggenggam tanganmu dan mengajakmu menyusuri kehidupan ini. Namun maaf, aku tak pernah mengutarakannya dan maaf aku pergi untuk beristirahat dan menghadap Tuhan, Sila. Maaf.

Pecah sudah tangisku membaca semua itu. Ternyata selama ini, kenangan manis yang kita lalui bersama hanya kulewati sendiri. Namun entah mengapa aku masih menganggap sosok Nanda nyata dalam hidupku. Mungkinkah ia ingin menunjukkan perasaannya selama ini? Maka dari situ aku tau, kenapa semua orang menganggapku orang yang aneh. Nanda hanya terlihat olehku, tidak orang lain.

Aku menyusuri jalan dengan pilu ditemani bayanganku. Pikiranku mengawang entah kemana. Hingga aku bermonolog dengan pikiranku sendiri.

Nan, sejauh apapun kamu pergi dan tak nampak kamu didunia, pulanglah. Pulang dalam bayangku, jangan pernah sekalipun membuatku merindu. Sebab sejak saat kamu mengaduk hidupku, saat itulah aku menganggap kamu milikku.

 

Penulis: Devi Wijayanti

Mahasiswa aktif Prodi Hukum Ekonomi Syariah UMS