Sri Mulyani: Ada Tudingan Mahasiswa PKN STAN Kurang Toleran

0
132

Terkait tudingan masyarakat yang menyebutkan adanya unsur eksklusif PKN STAN dan mahasiswa yang ingin menjadi kelompok intoleran, Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan Indonesia mengharuskan mahasiswa PKN STAN untuk bertanggungjawab pada tudingan tersebut.

Dilansir dari cnbcindonesia.com, dalam acara Dies Natalis ke-4 Politeknik Keuangan Negara STAN (PKN STAN), Sri Mulyani selaku Menteri Keuangan memberikan pidato didepan ratusan mahasiswa. Ia mengaku sering mendapat tudingan dari netizen sosial media yang menyebut mahasiswa PKN STAN tidak toleran terhadap sesama.

Ia tidak langsung membenarkan tudingan tersebut, justru mengatakan kepada para mahasiswa agar membuktikan apa yang ditudingkan itu tidak benar. Menurut Sri Mulyani, tudingan tersebut harus dijawab sendiri oleh mahasiswa karena hal tersebut menyangkut image STAN.

Tudingan itu diketahui berasal dari kolom komentar media sosial Facebook dan Instagram Sri Mulyani. “Kalian harus bertanggungjawab untuk memupuk image, berbeda tetapi tetap satu. Image yang merugikan STAN itu harus dibersihkan oleh anda sendiri, bukan kami,” ujar Sri Mulyani dalam pidatonya, Minggu (14/7/2019)

 

Tanggapan Politeknik Keuangan Negara STAN

Direktur Politeknik Keuangan Negara STAN, Rahmadi Purwanto memandang bahwa sikap intoleran dari alumni tersebut tak lepas dari perkembangan teknologi. Hal tersebut diungkapnya karena zaman sekarang, perkembangan teknologi tak dibarengi dengan perilaku yang baik, sehingga ada mahasiswa yang kurang bijak dalam bertutur di media sosial.

Rahmadi menambahkan, hal tersebut juga menjadi fenomena yang ada di berbagai perguruan tinggi. Akan tetapi, Rahmadi membenarkan sudah sepatutnya mahasiswa kedinasan memiliki standar attitude yang tinggi.

“Proses untuk perbaikan pola-pola kampus dalam pengelolaan karakter mahasiswa STAN harus ditangani dengan konsisten dan serius, apalagi disinggung oleh bu Sri, bahwa mahasiswa harus bisa membangun institusi yang memiliki bobot luar biasa, ilmu tinggi, kompetensi, integritas, dan kebangsaan,” tutur Rahmadi pada CNBC Indonesia, Senin (15/7/2019)

 

Reporter        : Secoundio Rabbanissa Asmoro

Editor             : Annisavira Pratiwi