Dinilai Multitafsir, Sekelompok Mahasiswa Solo Demo Tolak RUU PKS

0
269

UMS, Pabelan-online.com — Demonstrasi berupa penolakan terhadap RUU P-KS digelar oleh sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Garda Pembela Pancasila di depan gedung DPRD Surakarta, Kamis (26/09/2019).

Memasuki pukul 13.00 WIB, mengenakan pakaian serba putih, para pendemo mulai berdatangan dan berkumpul di depan gedung DPRD Surakarta. Sekumpulan personel berseragam polisi lengkap tampak telah bersiaga di sekitar titik kumpul tersebut.

Ketika orasi berlangsung, para pendemo yang mayoritas merupakan anggota Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) bergeming di bawah terik matahari sembari sesekali menjawab teriakan lantang orator.

Tuntutan mereka tegas dan ditujukan pada satu fokus utama: menolak pengesahan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS). Mereka menilai, RUU tersebut multitafsir dengan pembahasaan tidak lugas.

Di dalam paragraf pembuka Press Release aksi disebutkan, Aliansi Mahasiswa Garda Pembela Pancasila menyatakan penolakannya terhadap pengesahan RUU P-KS dengan anggapan RUU tersebut mengandung nilai liberalisme yang mengabaikan pancasila, ketahanan keluarga, agama, dan moralitas bangsa Indonesia.

Penolakan itu nantinya akan diterangkan dalam poin-poin berisi pandangan massa aksi mengenai RUU P-KS. Hal tersebut sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Hani Wahyu Nugroho selaku koordinator lapangan (korlap) aksi.

Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta tersebut berujar, “Aksi hari ini murni. Kita datang dengan panggilan moral agar kita bersama-sama menolak pengesahan RUU P-KS yang selama ini masih dibahas (oleh DPR, red).” (26/09/2019)

Berbagai macam spanduk berisi penolakan dan kritik dibentangkan sebagai sarana pendukung untuk menyuarakan aspirasi di jalan. Dituliskan dengan huruf serba kapital berwarna hitam, tulisan-tulisan pada spanduk juga dibentangkan pendemo ke arah pengguna jalan yang berlalu lalang melewati massa aksi.

Salah satu spanduk mengungkapan sindiran berupa pertanyaan retoris, yakni apabila RUU P-KS lolos, apakah lantas hasrat seksual sejenis diperbolehkan ketika pelakunya saling suka? Di tengah suasana demonstrasi yang berlangsung, ada juga spanduk yang berbunyi, “Hubungan kita saja yang sah, RUU P-KS jangan.”

Setelah sekitar satu jam melangsungkan demonstrasi, tiga puluh perwakilan mahasiswa diberikan kesempatan untuk menyampaikan tuntutan langsung di gedung DPRD Surakarta. Penyampaian tersebut rupanya membuahkan hasil dan berujung pada kemunculan seorang bapak anggota dewan, berbarengan dengan keluarnya perwakilan-perwakilan mahasiswa tadi.

Selaku narahubung anggota DPRD, anggota dewan yang tidak diketahui namanya tersebut menegaskan di hadapan pendemo bahwa pihaknya turut menolak pengesahan RUU P-KS. “Tadi sudah ada kesepakatan. Kita akan teruskan itu melalui fraksi,” ujarnya, Kamis (26/09/2019)

Demonstrasi berlangsung aman hingga berakhir setelah Hani selaku korlap memanjatkan doa dan juga menyampaikan ucapan terimakasih kepada bapak anggota dewan, personel polisi, juga massa peserta aksi yang hadir pada saat itu.

Reporter              : Akhdan Muhammad Alfawwaz

Editor                   : Annisavira Pratiwi