Peringkat UMS 2019 Versi Ristekdikti Anjlok, Ada Apa?

0
300

UMS, pabelan-online.com – Untuk meningkatkan mutu perguruan tinggi Indonesia, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) melakukan klasterisasi dari tahun ke tahun. Klasterisasi dapat menunjukkan informasi pada khalayak luas tentang performa sebuah perguruan tinggi di Indonesia.

Klasterisasi memungkinkan Kemenristekdikti untuk membina perguruan tinggi agar sesuai tujuannya, yaitu agar mutu perguruan tinggi mengalami peningkatan. Klasterisasi pun berlaku untuk Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Tahun 2019, UMS memperoleh peringkat ke-63. Padahal pada 2018 lalu, UMS berhasil naik peringkat menjadi 38, dari peringkat ke-66 pada 2017. Ada sejumlah faktor yang menyebabkan peringkat UMS anjlok dari tahun sebelumnya.

Satu hal yang cukup memengaruhi penurunan peringkat klasterisasi UMS ialah adanya perubahan indikator klasterisasi dibanding tahun sebelumnya. Menurut Supriyono selaku Kepala Biro Kerjasama dan Urusan Internasional (BKUI) UMS, dalam meningkatkan kualitasnya, UMS masih cenderung terpaku dengan indikator klasterisasi tahun lalu. “Dari kami selalu berusaha meningkatkan kualitas tanpa bergantung indikator klasterisasi, dan berharap ketetapan indikator itu konsisten setiap tahun,” ujar Supri, Rabu (11/09/2019).

Tak sampai disitu, Supri menceritakan ada kesalahan saat pengisian indikator klasterisasi  menggunakan sistem online. Hal itu terjadi karena miskomunikasi mengenai sistem pemasukan indikator klasterisasi antara Ristekdikti dan UMS. Supri mengakui, beberapa indikator didapati belum terisi sebab kurang informasi dari Ristekdikti. “Dari kami sebenarnya ada datanya untuk mengisi, karena sistem online yang ribet itu, ada miss sehingga membuat beberapa indikator tidak terisi,” ungkap Supri.

Tak dapat dihindari, UMS luput dalam mengisi indikator klasterisasi yang terbilang penting, seperti jumlah dosen asing serta jumlah mahasiswa tidak aktif yang masih dalam penanganan. Indikator tersebut tak dimasukkan ketika input data online ke Ristekdikti. Kendala itu membuat Supri berharap sistem input data untuk klasterisasi universitas di Indonesia bisa lebih maksimal dari ini.

Meski begitu, Supri beranggapan bahwa peringkat UMS dalam klasterisasi Ristekdikti masih terhitung memuaskan. Menurutnya, UMS telah memberikan upaya maksimal untuk memenuhi indikator klasterisasi, sebab dari peringkat yang diperoleh UMS sejak 2017 itu diketahui UMS masih termasuk Klaster II.

Senada dengan Supri, Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Universitas, Miftakhurrohman menyatakan puas terhadap peringkat UMS. Indikator klasterisasi yang diterapkan Kemeristekdikti menurutnya sesuai dengan kondisi UMS. Miftah berharap, UMS mampu untuk terus meningkatkan kualitasnya. Ia yakin UMS akan terus melangkah maju dan tidak cepat berbangga diri mengenai peringkat yang diperoleh UMS saat ini.

Reporter: Alvanza Adikara Jagaddhita

Editor: Annisavira Pratiwi & Inayah Nurfadilah