Surat untuk Mahasiswa Baru

0
480

Untuk: Teman-teman dan adik-adik mahasiswa baru

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh

“Dulu, nama besar kampus disebabkan oleh kehebatan mahasiswanya. Sekarang, mahasiswa ingin hebat karena nama besar kampusnya.” Pidi Baiq, penulis novel sejuta umat “Dilan” sepertinya ingin menyampaikan pesan dari kalimatnya tersebut. Memasuki semester baru, seperti biasa kampus-kampus kedatangan penghuni baru.

Pertanyaannya, apakah mereka benar-benar mau menjadi penghuni di sana atau hanya dijadikan tempat untuk menyembunyikan ketakutan dari pertanyaan orang, “Kok gak kuliah?” Atau hanya ingin menjadi penghuni yang dikenal karena rumahnya bukan karena prestasinya, seperti yang dikatakan oleh Pidi Baiq.

Tidak sedikit mahasiswa ingin kuliah hanya karena ingin dikenal sebagai mahasiswa di kampus yang nyentrik. Menjadi kebanggaan tersendiri bagi mahasiswa bisa menempuh pendidikan di perguruan tinggi favorit, padahal belum tentu mereka bisa menjadi nyentrik  juga di sana. Syukur-syukur diterima, kalau tidak, ya ujung-ujungnya malu saat ditanya, ”Kuliah di mana?”

Kuliah bukan soal mencari ketenaran atau bahkan mencari kepintaran. Layaknya pendidikan yang lain, seharusnya kuliah itu untuk mencari kebaikan, mencari bagaimana kita bisa menata hidup yang lebih baik, mengasah keahlian, merangsang kepekaan terhadap lingkungan sekitar.

Namun, selama ini masih banyak yang belum paham terkait itu. Mahasiswa itu manusia paling idealis. Pendewasaan dalam berpikir seharusnya bisa didapatkan saat sudah menyandang status mahasiswa. Problematika tentang mata kuliah, dosen, bahkan diri sendiri menjadi suntikan untuk kita belajar memahami kehidupan dan mencoba mencari solusi dari setiap masalah bukan lari.

Jadi mahasiswa baru mungkin akan mulai membentuk diri kita untuk bisa me-manage diri sendiri, karena semua tergantung pada kita, bukan lagi harus ke sekolah, piket kelas, ikut upacara, masuk kelas, absen, dan lain sebagainya dengan kegiatan-kegiatan yang saklek seperti itu. Kamu harus kembali beradaptasi dengan lingkunganmu.

Biasa diawali adaptasi dengan kampus yang kita kenal dengan istilah OSPEK atau kalau di UMS sendiri lebih dikenal dengan Masa Ta’aruf Penerimaan Mahasiswa Baru (MASTA PMB). Lanjut pengenalan dengan fakultas atau jurusan. Namun sebenarnya yang perlu kita lakukan adalah mengenal diri kita sendiri.

Bagaimana kita tadinya menentukan pilihan kita untuk kuliah, ketidaktepatan dalam menentukan pilihan inilah yang menyebabkan kebimbangan atau dalam bahasa anak sekarang kegalauan.

Rasa bimbang yang muncul pasti ada sebabnya. Selain dari karena sebenarnya kita tidak tahu apa yang mau kita capai, yang paling banyak karena masih belum puas dengan yang kita dapatkan saat ini. Ini menjadi gambaran karakter perkembangan peradaban manusia pada masa sekarang yang didominasi oleh cara pandang kapitalistik sehingga yang berkembang di dalam mayoritas denyut kehidupan masyarakat hanya dua macam, yaitu to be (menjadi) dan to have (memiliki).

Kehidupan manusia telah direkonstruksi sedemikian rupa sehingga memandang keinginan seolah-olah tampak sebagai kebutuhan. Sementara itu, pihak-pihak yang seharusnya bertanggung jawab terhadap pendidikan masyarakat justru melakukan dekonstruksi moral melalui berbagai macam saluran komunikasi publik maupun komunikasi sosial yang ada.

Secara normatif, sebuah lembaga pendidikan didirikan dengan maksud turut serta mencerdaskan kehidupan berbangsa. Namun, pada sejarah dan praktiknya kini, tatkala iklim kompetisi diembuskan dan diketahui bahwa pendidikan menggiurkan pula sebagai lahan bisnis, visi normatif itu bisa saja tinggal kata-kata.

Pendidikan saat ini sepertinya berbanding terbalik dengan kreativitas. Pendidikan diselenggarakan untuk memenuhi tuntutan dunia industri yang menuntut adanya division of labuor (pembagian kerja) yang jelas dalam bidang-bidang pekerjaan manusia di dalam masyarakat.

Adanya sistem persekolahan yang demikian menyebabkan bidang-bidang eksakta dan teknis menjadi perhatian utama sementara wilayah yang mencakup kemanusiaan (ilmu sastra, seni, ilmu sosial, etika, dan sebagainya) cenderung termarginalkan.

Corak pendidikan dalam sistem persekolahan atau perkuliahan seperti ini lama-kelamaan menampakkan diri sebagai wajah pendidikan yang kering dari kreativitas dan inovasi, yang memperlihatkan gejala mayor hanya menghasilkan “generasi tukang”, bukan inovator atau kreator. Karena untuk berinovasi itu membutuhkan keberanian, sedangkan kebiasaan umum yang terjadi sekarang, dunia pendidikan justru menyebabkan peserta didik menjadi takut salah.

Seperti yang kita tahu guru terbaik adalah pengalaman, sedangkan harta yang paling berharga yaitu ilmu. Pengalaman itu tidak berarti harus selalu yang bersifat susah atau sulit, tetapi hal-hal sederhana yang kita temukan sehari-hari bisa jadi belum sungguh-sungguh kita pahami kalau belumbenar-benar kita teliti dan cermati. Sebagai mahasiswa kita tentu harus tahu bagaimana membedakan pengetahuan dan ilmu.

Pengetahuan adalah hal-hal yang kita peroleh karena kita diberi tahu, sedangkan ilmu merupakan pencapaian seseorang sebagai akibat dari telah bekerjanya akal. Kita tahu ini satu (1) dan ini dua (2) setelah — misalnya — bapak atau ibu kita memberi tahu. Itu namanya pengetahuan. Tapi kalau sesudah kita tahu 1 dan 2 lantas kita bisa menemukan cara berpikir tertentu yang akhirnya kita bisa mengerti 9 itu seberapa, 12 itu seberapa, itulah ilmu,

Sekarang ini jumlah sarjana sangat banyak yang dengan begitu bisa dibilang telah terjadi inflasi sarjana sehingga akibatnya seolah-olah sarjana itu tidak ada harganya. Dengan begitu berarti kita tidak bisa menyerahkan diri kita hanya pada kampus atau pendidikan formal karena secara alamiah kita mempunyai potensi kecerdasan yang sangat kompleks yang harus dilatih dan didorong serta ditemukan untuk kemudian dikembangkan sehingga kelak bisa menjadi piranti seseorang untuk menjalani hidup di masa depan.

Banyak media yang saat ini dapat menunjang itu semua, organisasi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) atau komunitas menjadi salah satu pilihan. Tuntutan dunia kerja saat ini lebih kompleks, persaingan lebih ketat, perkembangan zaman semakin pesat, kalau kita terus mengurung diri dengan ketidakmauan kita, dengan kemalasan kita sudah pasti kita akan ketinggalan, bahkan tidak akan menjadi apa-apa.

Juara itu bukan soal utama, tapi bagaimana atmosfernya seseorang itu bisa menjadi juara, itu yang lebih penting. Hebat itu boleh tapi jangan menghebati orang lain, pintar itu boleh tapi jangan minteri orang lain. Kita mahasiswa sudah saatnya harus tahu apa yang menjadi tujuan utama kita dan bekerja sama dengan apapun untuk mengenal diri kita sendiri.

Saya seorang mahasiswa, dan saya tidak takut dengan apa yang akan terjadi nantinya. Karena bukan ketakutan yang seharusnya kita pupuk, tapi optimisme dan mimpi yang besar sehingga kita terus mempersiapkan untuk segala kemungkinan yang terjadi nantinya.”

Penulis: Ashari Wahyu Budi Aji

Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta