Senyum Temaram

0
211

Ilustrasi: Muhammad Jabal Noor/pabelan-online.com

 

Oleh: kulonuwun*

“Assalamu’alaikum,” ucapku selaras dengan decitan pintu tua yang terbuka, kumasuki rumahku. Tubuhku sangat lelah kali ini, mungkin memanjakan punggung di kasur adalah pilihan terbaik.

“Wa’alaikumussalam,” jawab seorang wanita yang tak lain adalah ibuku, disusul dengan jawaban salam dari ayah yang sedang menonton acara komedi favoritnya.

“Mau makan dulu ga, Di?” Ibu kini menghampiriku.

“Nanti agak maleman aja bu, Aldi capek banget, mau tiduran dulu. Ngerebahin punggung kayanya enak,” jawabku, meringis.

Ayah lalu memalingkan pandangan dari televisi, tatapannya kini tertuju padaku. “Jadi mahasiswa jangan sibuk-sibuk amat, supaya kita ada waktu buat ngobrol, Di,” kata Ayah.

“Lagi ada acara Yah, jadi agak sibuk, ini juga sesekali aja,” jawabku sembari menurunkan tas yang terasa begitu berat di pundak. Menjadi koordinator acara ulang tahun kampus jelas bukanlah hal yang mudah.

“Jangan sering-sering aja, nanti kalo ngga bisa kumpul-kumpul kayak dulu malah kecewa, mumpung orang tuamu masih utuh,” Ayah menyahut ucapanku, dan pandangannya kini beralih kembali pada layar televisi yang masih menampilkan acara komedi.

“Iya Yah.” Aku tahu mereka rindu saat dimana kami bisa berkumpul bersama, karena aku anak satu-satunya, aku punya tekad harus bisa membanggakan mereka. “Aldi keatas dulu.”

Selepas bekerja keras, tak ada yang lebih baik selain meluruskan punggung di atas kasur yang merindukanku, tak lama aku pun tertidur.

***

Kini aku duduk termenung, mengumpulkan nyawa yang masih tersisa. Aku lihat jam pada layar ponsel, pukul satu dini hari. Rupanya roh mengitari nirwana hanya empat jam lamanya, mungkin lebih sedikit. Mandi mungkin jadi ide yang buruk bagi sebagian orang, tapi harus kulakukan, untuk membantu menyadarkan diriku ini bahwa ada tugas yang harus aku kerjakan.

Sebelum sampai di kamar mandi, aku melewati ruang televisi. Masih ada Ayah disana yang sedang menonton. Mungkin beliau libur kerja, aku tak ambil pikir dan berlalu mandi.

Tak ada yang menarik dari acara mandi malam, hanya dingin menusuk kulit. Aku perhatikan layar televisi yang ditonton Ayah. Pertandingan bola, tak biasanya beliau menonton liga Inggris. Setahuku, Ayah tak suka pertandingan bola, baginya itu membosankan. Itu pertandingan Everton dengan Manchester United, ah aku tak boleh kelewatan.

“Tumben banget liat bola, Yah.” Aku taruh tangan kananku pada sofa. Sedetik berlalu dengan cepat dan tanpa bisa kuhindari sebuah pisau dengan mulus menembus tangan kananku. Tangan kiriku reflek menariknya dan menusuk pundak laki-laki itu, laki-laki besar yang jelas-jelas bukan Ayahku. Aku bergerak mundur, luka pada tangan kanan membuat aku tak bisa merasakan tanganku sendiri.

Tangan kiriku berusaha meraih saklar lampu, mungkin ini keputusan yang buruk. Aku ingin menangis, tapi tak bisa, seakan-akan mataku kering, dan mata ini tak mau menerima kenyataan yang ada. Bibirku kelu, ingin berteriak, namun hanya terdengar oleh batin. Aku kacau. Setelah beberapa saat, otakku baru menyadari bahwa dua orang terbaring di depan sofa dengan berlumuran darah dan tak bernyawa, dan itu adalah kedua orang tuaku.

Sebuah benda melewatiku secepat kilat lalu tertancap pada tembok di belakang. Kampak! Benda itu kampak! Kualihkan pandangan ke laki-laki besar di depanku. Aku melihat tatapannya begitu tajam melalui topeng yang ia kenakan. Aku segera lari menuju pintu depan. Hah pintunya terkunci. Eh, lalu laki-laki itu masuk dari mana? Ah, bodo amat, kunci dimana kunci?

Pikiranku terus berputar, ah lemari sepatu! Ku cari kunci kecil sialan itu, aku tak menyangka hidup dan matiku akan ditentukan dari seberapa cepat aku menemukan kunci yang secara random Ayah taruh diantara puluhan sepatu-sepatu sialan ini. ‘Nanti kalo ga bisa kumpul-kumpul kaya dulu malah kecewa, mumpung orang tuamu masih utuh.’  Ucapan Ayah tadi malam kini terngiang di benakku, membuat airmataku tergenang di pelupuk.

Sebuah logam kecil menggelitik jari tangan kiri, “Akhirnya!”

Sebuah suara benda jatuh memecah keheningan. Aku tengok ke arah belakang, laki-laki besar itu berusaha melepas kampak yang tertancap pada tembok. Darahku kini mengalir makin deras, sial! Entah kenapa kunci tak masuk-masuk. Setelah saat-saat menyebalkan itu akhirnya kunci berhasil kuputar, cepat-cepat aku keluar rumah lalu ku tutup kembali.

Brak!

Sebuah kampak hampir menembus pintu, sukses membuatku kaget hingga terjatuh. “Agh,” erangku. Ketika tangan kanan menjadi tumpuan untuk bangun, rasa sakitnya menguap. Cepat-cepat aku bangun, berlari mencari pertolongan, aku teriak, namun tak membuahkan hasil.

Lagipula, perumahan macam apa yang ramai saat dini hari seperti ini. Ironisnya, bahkan dalam radius 100 meter jarak pandangku, satpam tak ada yang berkeliling. Aku berlari sambil terus menahan sakit pada tangan yang telah aku balut dengan kain hasil robekan lengan baju.

“Dua persimpangan lagi aku sampai di pos satpam,” gumamku. Selama itu, tak ada habisnya kenangan kedua orang tuaku berseliweran selayaknya camar di pantai kala senja.

Aku menjerit dan terjatuh, saat melihat kearah kaki, kini paha kiri belakang ku tertusuk oleh belati, tak usah tanya bagaimana rasanya. Perih, sangat perih. Dari belakang laki-laki itu berlari, jaraknya kian mendekat, sesaat ku berpikir, apa ini akhir hidupku?

Tidak! Bukan sekarang, ada janji yang perlu ku tepati. Dengan napas yang tersengal, aku berusaha berlari dengan kaki terpincang-pincang. Belati itu masih bersarang pada pahaku, aku nyaris tak punya tenaga untuk mencabutnya.

Napasku kian menderu, jantungku berpacu. Ini seperti balapan kuda, bedanya aku melawan kematian. Aku harap malaikat pencabut nyawa sedang ada urusan yang lebih penting daripada mendatangiku sekarang.

Sebuah tendangan keras kini menghantam punggungku, aku terpelanting hingga jatuh. Sesaat napasku tak bisa ku rasakan, ini terasa sangat sulit, sesak.

Badanku dibalik seperti daging pada pembakaran, dengan berlumuran darah tentunya. Wajah dengan topeng kelana itu sangat dekat denganku, tatapan kejinya begitu jelas ku lihat. Ia menindih tubuhku.

“Agh,” rintihku, bukan saja karena tubuhku tertindih, namun belati di pahaku tertancap makin dalam dan kurasa sudah melewati tulang pahaku.

Deru napas itu begitu jelas kudengar. Ia membuka topengnya. Wajah dengan seringai itu tak pernah kulihat sebelumnya. “Mungkin ini malam terburuk untukmu, nak.” Suara berat itu bahkan tak pernah kudengar.

“Kenapa? Kenapa aku? Kenapa keluargaku?” tanyaku geram, bibirku sedikit bergetar, dan mungkin terbata-bata. Aku tak begitu yakin mengucapkan yang sebenarnya dalam pikiranku.

“Karena…,” ia menaruh kampak tepat di samping kiriku. Ia terlihat kesulitan untuk menggerakkan tangan kanannya, mungkin karena bahunya habis kutusuk. Lalu ia mengambil belati, terlihat begitu tajam dan bersih. “Rumahmu nomer 131 dan aku tak menyukai angka itu.”

“Gila kau! Hanya karena hal sepele, kau harus membunuh satu keluarga?” Aku marah dibuatnya, bukan hanya karena itu keluargaku, tapi alasannya tak bisa diterima. Walaupun tak ada alasan yang bisa diterima jika kau membunuh manusia.

Aku terdiam, mataku sangat dekat dengan mata pisau, pupilku mengecil, aku tak begitu yakin. Peluhku keluar dari pelipis. Aku tak tahu beberapa detik kedepan nasibku akan seperti apa,  tangan kiriku ia bebani dengan kakinya, sedangkan tangan kananku tak bisa digerakkan.

“Bagaimana? Aku dapat merasakan debar jantungmu dengan jelas,” ia belum menyingkirkan pisau dari depan mataku, “Apa kau sedang memikirkan nasibmu kedepan?” ia kemudian tertawa dan menyingkirkan pisau itu, membuatku sedikit lega.

Ya hanya beberapa saat.

“Agh,” rintihku kemudian.

“Kau pikir apa? Sakit?” Seringai itu tak hilang-hilang. Luka baru kini menghiasi pinggangku.

Ia sedikit berdiri. Lalu kupikir ini kesempatanku, kugerakkan lututku untuk menyerang titik vitalnya. Dia merintih kesakitan dan mundur. Aku berdiri, dengan cepat kutendang kepalanya, segera lari menyelamatkan diri. Entah dewi fortuna mungkin berada disampingku, atau mungkin Tuhan-ku lah yang masih melindungiku. Entahlah, aku hanya berpikir harus terus berlari sambil mengerang, karena sakitnya masih terasa.

Yang aku bingung adalah, ia tak pernah berlari ketika mengejar, berteriak memanggil atau mencelaku karena tindakanku yang sudah pasti membuatnya sakit secara fisik. Aku harap semua ini hanya mimpi yang terjadi karena aku terlalu lelah.

Keinginanku untuk tetap hidup menemukan titik terang, pos satpam sudah berada di depan mata. Entah kenapa aku tak bisa berteriak minta tolong, seakan-akan suaraku terhambat ketika sampai di tenggorokan.

Aku berusaha untuk menepuk tangan, sangat terasa sakit, walau terhalang oleh kain, tetap saja nyerinya terasa sangat menusuk. Suara derap kaki yang begitu keras berasal dari belakangku, sontak membuatku untuk menoleh ke arah suara itu. Laki-laki itu kembali lagi, astaga.

Meski letih, aku percepat langkahku dengan terpincang-pincang. Tak terhitung berapa kali aku mengumpat akan rasa sakit ini. Dan hal yang tak ku mengerti kembali terjadi, ia hanya berjalan, tanpa berlari mengejar. Aku bingung, tapi bersyukur, persentase aku untuk hidup meningkat. Seorang satpam sepertinya menyadari kehadiran kami dan segera mengajak temannya untuk mendekatiku.

“Tolong pak, orang itu ingin membunuhku,” cepat-cepat kuberi tahu kedua lelaki yang cukup kekar itu.

“Kau perlu kerumah sakit, luka kau parah kali,” respon yang sudah pasti terjadi ketika melihat orang diburu kematian. “Jang, kau papah dia ke pos, aku urus orang gila itu!” Air muka satpam dengan perawakan cukup kekar itu sangat marah.

“Ayo le, aku bantu kamu ke pos, setelah orang karo itu selesai dengan wong gelo iku, aku antar kamu ke rumah sakit,” ia memapahku dengan begitu baik, dan logat Jawa itu membuatku tenang.

Beberapa meter lagi kami sampai di pos satpam yang cukup besar itu. Aku rasa ini berakhir dengan happy ending, mungkin setelahnya aku harus pergi ke rumah Bude untuk melanjutkan hidup. Setidaknya disana juga ada nenekku. Ya, kehidupan baru.

Belum sampai angan-anganku habis berputar di kepalaku, waktu cepat berlalu hingga satpam berlogat Jawa yang menolongku itu jatuh tersungkur. Kampak menembus punggungnya. Sontak aku menoleh ke belakang.

“Hai.” Itulah pesan yang aku tangkap dari kepala yang ditenteng oleh lelaki sakit itu.

“Aagh,” lenguhku panjang menyadari ini bukanlah akhir, “Aku gak mau mati, pergi!”

Tanpa peduli sakitku separah apa sekarang, aku paksa kakiku berlari lagi, meninggalkan satpam yang telah kehilangan nyawa. Mungkin sekarang wajahku sudah pucat pasi. Aku berlari hingga persimpangan depan gerbang perumahan, berharap bisa mendapatkan taksi atau semacamnya.

Ku toleh kepalaku ke belakang, orang yang telah membunuh orang tuaku itu sedang sibuk mencabut kampak dari tubuh satpam. Aku berpikir untuk berlari, tapi kemana? Seolah menjawab keresahanku, klakson mobil terdengar dari belakang tubuhku. Sebuah taksi, Alhamdulillah! Tanpa pikir panjang, segera aku masuk ke dalam.

“Maaf mas udah mau pulang,” ujar lelaki di depanku sekarang yang mungkin sudah menikmati dunia lebih dari setengah abad.

“Tolong antar saya kerumah sakit, pak!” pintaku. Sesekali aku mengerang karena ketika duduk, luka pada paha ku semakin terasa.

“Rumah sakit mana mas?” ia sepertinya kasihan melihat keadaanku, dan mungkin panik, karena penumpangnya kali ini berlumuran darah.

“Udah mana aja!”

Kulihat keluar jendela, laki-laki gila itu telah rampung dengan urusan mencabut kampaknya. “Cepat berangkat!” Nadaku sedikit lebih tinggi, aku kesal.

Ketika taksi sudah berjalan, aku tak tahu apa yang kemudian terjadi. Seingatku hanya terasa sebuah guncangan sebelum aku benar-benar tak sadarkan diri.

***

Sinar matahari menyapa, kehangatannya memenuhi wajahku. Tak ada yang aneh, saat kubuka mataku, kini aku dapati diriku terbaring di kamar tercinta. Itu semua ternyata hanya mimpi? Tapi, rasanya begitu nyata.

“Hah! Aku kesiangan!” Aku segera bangkit dari kasur. Namun, aku malah terjatuh, paha dan tangan kananku terluka, luka tusuk yang dalam. Mengapa luka yang kudapat saat bermimpi menjadi kenyataan?

“Oh, putri tidur sudah bangun?”

Suara berat itu kembali terdengar. Aku memicingkan mataku. Ini suara laki-laki gila itu, apa yang terjadi semalam? Bukankah aku sudah berada di taksi, lalu kenapa?

“Apa kabar?” Seringai itu kembali memenuhi lensa mataku. Mimpi burukku yang nyata, seolah kini tiada akhir.

 

*Penulis: Muhammad Yusrin Alfikri 

Mahasiswa Aktif Politeknik Akademi Kimia Analisis (AKA) Bogor