Harapan Bangsa yang Paling Agung: Mahasiswa

1
280

Tajuk di atas mungkin bukan suatu ungkapan yang jarang kita dengar. Banyak karya tulis ataupun buku-buku yang bertajuk harapan bangsa. Namun untuk istilah tajuk diatas akan lebih sering kita dengar dari seorang Youtuber Gaming yang acap kali disapa Bkent. Dengan jumlah viewer yang mencapai kurang lebih 400 ribu perhari dan karakternya yang dianggap toxic mungkin menjadi daya tarik tersendiri. Nah tapi sayang sekali bukan itu yang akan menjadi pembahasan kali ini. Melainkan siapa sebenarnya harapan bangsa yang paling agung tersebut dan peran apa yang ada dalam diri harapan bangsa ini, lantas kesadaran apa yang dimilikinya tentang bangsa ini.

Sudah menjadi adopsi di pemikiran kita bahwa harapan bangsa ini lekat kaitannya dengan pemuda atau pelajar terkhusus saya menyebut Mahasiswa. Dimana label yang ada pada dirinya yang mencerminkan sosok harapan bangsa. Selain penerus estafet kepemimpinan, label yang sering kita dengar yaitu mahasiswa sebagai Direct of Change, Ageny of Change, Iron Stock, Social Control dan yang lainnya. Ditambah lagi dengan peranan seorang mahasiswa dalam bidang moral, sosial, dan intelektual yang seharusnya menjadi pondasi dalam kehidupannya.

 

Harapan Bangsa Vs Disintegrasi Bangsa

Disintegrasi bangsa ini bukan lagi sebuah wacana dan isapan jempol belaka. Ini sebuah kenyataan yang harus disikapi dan diantisipasi. Aceh dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM)-nya pernah melancarkan gerakan bersenjata selama bertahun-tahun untuk tujuan tersebut. Gerakan  Republik Maluku Selatan (RMS) juga menjadi sejarah tersendiri dalam keadaan disintegrasi bangsa. Bahkan Timor Timur berhasil lepas dari Indonesia sejak tahun 1999. Kini, Papua kembali bergejolak. Sebagian warganya menginginkan kemerdekaan. Dan sekarang ini benih-benih disintegrasi di negeri ini seperti ‘bara dalam sekam’, yang akan tiba masanya berubah menjadi kilatan api yang sulit dipadamkan.

Bangsa yang baru berusia 74 tahun ini memang masih dalam proses pencarian sistem pemerintahan dan hukum yang sempurna. Karena memang begitu rumit untuk menciptakan sistem yang bermuara pada integrasi dan kesejahteraan rakyat. Dengan kondisi bangsa yang Multikultural dan juga sangat plural akan ras dan etnis, haruslah dibarengi dengan nalar kedewasaan pada masyarakatnya. Jika tidak, maka akan berujung pada tindak diskriminasi yang tidak bisa dipungkiri, ia akan menjelma menjadi sebuah benih-benih disintegrasi. Hal semacam itu pasti jauh dari impian seorang harapan bangsa yaitu Mahasiswa. Akan tetapi, baru-baru ini perilaku diskriminatif kembali muncul kepermukaan dan dampaknya akan menjadi mimpi buruk apabila tidak segera terselesaikan.

Hesti Armiwulan dalam tulisannya berjudul Diskriminasi Rasial Dan Etnis Sebagai Persoalan Hukum dan HAM menyatakan, bahwa diskriminasi ras dan etnis yang timbul di tengah masyarakat ini antara lain disebabkan oleh stigma yang berkembang di dalam masyarakat terhadap suatu kelompok tertentu, ataupun akibat adanya kebijakan pemerintah yang bersifat diskriminatif. Mungkin itulah yang menjadi faktor permasalahan yang saat ini dialami oleh rakyat Papua.

Harapan bangsa (Mahasiswa) ini dengan setumpuk peran yang dimilikinya, jangan sampai hanya berpangku tangan (Do Nothing) melihat kebusukan (disintegrasi) yang terjadi pada bangsa ini. Atau malah kita menjadi belatung dalam kebusukan tersebut, sehingga nyaman berada di dalamnya. Karena memang tempatnya belatung ada dalam kebusukan. Dengan sejarah mahasiswa yang pernah menjadi harimau bertaring tajam, yang mampu mengoyak kepimimpinan bangsa yang otoriter. Seharusnya itu tetap kita pegang menjadi identitas kita untuk tetap menjaga bangsa ini. Dan menjadi promotor dalam gerakan pemersatu bangsa.

 

Keberadaan Harapan Bangsa

Peran harapan bangsa (Mahasiswa) sebagai kelompok intelektual haruslah memiliki sensitivitas tinggi terhadap segala permasalahan bangsanya. Apalagi problem di atas didukung dengan kecepatan tersebarnya berita melalui media sosial. Maka yang diharapkan adalah  para harapan bangsa ini melakukan diskursus dengan objektif. Seperti apa yang disampaikan oleh seorang mahasiswa  Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Reza Perwiranegara, yang mengatakan bahwa, “Mahasiswa itu bertugas memahasiswakan masyarakat.” Bukan hanya mendaftar ke universitas, melainkan dengan mencerdaskan masyarakat dan membangun nalar publik yang sehat. Dengan memberikan pengetahuan yang urgen dan relevan bagi masyarakat, yang dilandaskan dari sejumlah penelitian dan diskursus.

Hal yang tidak diinginkan adalah mahasiswa kehilangan objektivitas dalam mengkontruksi gerakannya. Dimana yang seharusnya terjadi peningkatan kualitas diri, sebagai modal mengatasi berbagai permasalahan bangsa ini. Bukan menjadikan gerakan sebagai penunjang eksistensi diri tanpa ada peningkatan kualitas internal. Menjadi harapan bangsa yang sadar akan kondisi bangsanya yang mampu meng-counter segala permasalahan dan juga mengontrol kebijakan pemimpinnya adalah puncak esensial keberadaan harapan bangsa.

 

Penulis : Nur Kholis Majid

               Mahasiswa Aktif Hukum Ekonomi Syariah UMS

Editor : Afitasari Mulyafi

 

1 KOMENTAR

Comments are closed.