Kedai Cerita

0
82

Lalu berjalan-jalan diantara ketiadaan, menapaki yang gelap, dan terlupa. Hal yang biasa, terkadang terang untuk sesaat, namun menimbulkan hujan gerimis, tapi lebih sering deras. Lalu selalu menggunakan payung yang terbuat dari harapan, mantel dari keinginan, dan melangkah dengan sepatu keyakinan. Lalu suka datang ke suatu kedai, dimana ia bisa menyesap secangkir teh dengan ditemani biskuit-biskuit kecil, seperti saat ini.

Kring kring kring

Bel pintu kedai berbunyi dan seorang pelanggan masuk. Hal itu menarik perhatian Logika, si bartender kedai. “Basah kuyup sekali kau kali ini.”

“Ya begitulah, hujan kali ini terasa begitu deras, lihat, mantelku sangat berat karenanya.” Lalu menaruh mantelnya pada tempat yang disediakan.

“Apa-apa? Ada apa dengan Tuan?”

“Ya seperti biasa, kau seperti tak tahu saja.”

“Biasanya hujan tak sederas ini, tak sampai membuat atap-atap hingga bernyanyi-nyanyi riang. Aku baru tahu bisa jadi sebuah melodi yang asik.”

“Ya ini karena tulisan yang Tuan buat dulu, saat ia SMK bersama kawannya, jika kau masih ingat. Aku selalu ingat, karena aku ada disana. Di sela-sela lelah pelajaran matematika yang selalu membuatmu bersemangat dan terkadang sakit karena kau kelelahan, Tuan bertukar surat dengan seorang wanita.”

Lalu melanjutkan, “Oh apakah kau tahu? Ada hal yang menarik. Aku tahu dari Rasa, kala kita bertemu di taman dekat sungai pinggir kota, taman yang begitu indah. Rasa bercerita padaku, ternyata Tuan memiliki perasaan yang rumit kepada wanita itu. Bukan rasa suka, karena bagi Tuan, wanita itu bukan untuk disukai, tapi disayangi. Sedangkan untuk mencintai, kita harus meminta izin dulu pada Pencipta, karena cinta hanya boleh diberikan kepada Pencipta, itulah kewajiban laki-laki.”

Lalu bercerita seolah tanpa jeda, “Ah Tuan, dia begitu lembut kepada wanita, sungguh beruntung wanita yang bersanding nanti dengan Tuan. Tuan juga menyimpan perasaan itu dalam-dalam, sehingga tak seorang pun tahu perasaan tuan kepada si wanita yang selalu berhasil menciptakan bunga-bunga baru. Saat bertukar surat kala itu, ya setahun lalu, bunga-bunga di taman bermekaran sangat indah, kau akan menangis bahagia jika melihatnya secara langsung, itu kata Rasa yang selalu ada disana.”

Logika berkomentar, “Ya seperti dirimu saat ini, begitu bahagia menceritakannya.”

“Ya, saat-saat itu aku begitu senang, dan begitu berkesan bagiku. Bagi Tuan pula tentunya. Ini adalah sebuah angan yang tak pernah aku lupa, sederhana memang, tapi ini istimewa.”

Logika tertawa, “Aku pernah bertemu dengan seseorang yang berbicara seperti kamu sekarang, kau tahu dia siapa?”

“Siapa?”

“Logika wanita.”

“Hah?”

Logika pun tertawa lagi, “Selalu menyenangkan berbincang denganmu, kamu mau pesan apa?”

“Seperti biasa, tapi aku ingin tehnya tak begitu pekat kali ini, dan aku mau cookies yang bertabur chocochips.”

“Siap, Tuan Lalu.”

“Aku lanjut cerita ya, selagi kamu bekerja?”

“Boleh, lagi pula teh bukan hal yang rumit.” Logika tersenyum.

“Hal yang membuat Tuan sedih kali ini ketika mengingatnya, karena ia tahu, tawa dan bahagia akan selalu menjadi kenangan luka. Dan hasilnya adalah hujan ini, mungkin Tuan bisa bertemu dengan wanita itu sesekali, tapi kenangan yang tercipta tak akan terulang. Hanya menjadi angan yang tergantung diantara bintang langit-langit dunia ini.” Lalu terdiam.

Logika memberikan pesanan pada pelanggan satu-satunya malam ini. “Hey, kemana bahagiamu yang barusan?”

“Hemmm.”

“Sekarang kau tiba-tiba murung. Kau seperti wanita penjaga taman itu, selalu terpengaruhi oleh keadaan Tuan. Itulah yang membuat pekerjaanku lebih berat dari biasanya, hanya aku yang bekerja untuk menetralkan keadaan kalian.”

Logika menarik napasnya sejenak lalu melanjutkan kalimatnya lagi.

“Semua keadaan itu boleh kau tangisi, tapi jangan kau sesali, baik itu karena kenangan yang tak terulang, atau keadaan yang tak diinginkan. Semua itu adalah ketetapan, dan semua ketetapan tak akan pernah bisa disalahkan, karena itu keadaan terbaiknya.”

“Ya kau bijak seperti biasanya, harusnya kau buka saja tempat psikiater, bukan kedai remang seperti ini.”

“Orang tak mau membayar lebih untuk bercerita, tapi orang akan bercerita ketika membayar sebuah minuman,” ujar Logika, tertawa.

Teh yang masih mengepul asapnya diseruput Lalu sedikit.

“Oh iya, kau mengetahui banyak fakta tentang Tuan bukan?”

“Ya bisa begitu, karena aku suka datang ke perpustakaan kota ini, memang kenapa?”

“Aku terkadang bingung, hujan di kota ini suka aneh.”

“Aneh bagaimana? Hujan di kota ini selalu berawal dari aroma petrichor dan berakhir dengan genangan air.”

“Bukan seperti itu maksudku.”

“Lalu?”

“Ya, itu namaku.”

Senyap, dan mereka berdua tertawa.

“Kau ini, bukan itu?” Logika masih tertawa, “Aduh aku receh banget.”

“Jangan receh-receh lah, dolar saja sudah naik.” Mereka tertawa semakin lepas.

“Jadi apa yang ingin kau tanyakan?” Logika masih menahan tawanya.

“Aku bingung, kenapa hujan di kota ini terkadang turun dengan keadaan langit cerah, maksudku, hujan sih tapi kok masih ada matahari. Dan hujan seperti ini hampir tiap harinya.”

“Oalah, itu karena Tuan kita adalah pembohong yang ulung.”

“Maksudmu?”

“Tuan kita itu suka berbohong tentang perasaannya. Sebenarnya ia sedih, tapi ia tersenyum. Sebenarnya ia terluka, tapi ia terlihat suka. Dia suka merasakan duka, tapi dari luar dia terlihat bahagia. Tuan kita itu suka tertawa di atas penderitaannya sendiri. Kau tau kenapa di kota ini banyak sekali kafetaria dan kedai makan?”

“Kenapa?”

“Karena pura-pura bahagia itu butuh tenaga.”

“Berat ya jadi Tuan,” Lalu memakan kue terakhir yang ia pesan, “Hujan sudah reda, aku pergi dulu ya, aku harus mengunjungi Rasa di taman kota. Terima kasih teh dan kuenya, dan telah berbagi cerita denganku.”

“Santai saja lah, oh kapan-kapan datang lagi ya, aku sudah lama tak melihatmu berdebat bersama Kemudian, apalagi masalah Waktu, aku selalu menunggu itu.” Logika tertawa.

“Orang berantem, kamu malah suka,” Lalu mendengus, “Dah.” Lalu mengambil mantelnya yang masih basah, melambai pada Logika.

Bunyi bel menjadi isyarat perginya Lalu dari teh yang sempat ia sesapi dan kawan paling rasional yang ia temui.

Ketika memikirkan perkataan Logika yang terakhir, tentang Kemudian dan juga Waktu, Lalu tertawa tanpa sadar. ‘Ah sudah lama aku tak ketemu Kemudian,’ batin Lalu, ada perasaan rindu didalam dirinya.

Mereka jarang ketemu karena Kemudian tinggal di kota seberang dan dia cukup sibuk. Tidak seperti Lalu yang luntang-lantung. Berbicara tentang Waktu, Lalu sudah lama tak mendengar kabarnya.

 

Penulis: Kulonuwun*

*Nama pena dari Muhammad Yusrin Alfikri

Mahasiswa Aktif Politeknik Akademi Kimia Analisis Bogor 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here