Rudi Kajituru

0
150

Siang itu begitu terik, aku duduk bersandar memejamkan mata di atas becakku. Angin yang berhembus di bawah pohon mangga tempat mangkalku memang membuat terlena, terutama dalam hari-hari sepi penumpang macam hari ini.

Brakkk!

Aku terperanjat tatkala mendengar suara itu. Tak jauh dari tempatku, seorang anak muda dengan satu kaki telah jatuh tersungkur setelah diserempet sebuah mobil pick up. Kedua tongkatnya sampai terlempar sedikit jauh.

Aku sempat meneriaki mobil yang menyerempetnya, namun mobil itu kabur begitu saja. Herannya, saat kejadian itu seakan tidak ada orang lain peduli. Hanya aku dan Maryadi, kawanku sesama tukang becak, yang datang menghampirinya untuk menolong.

Anak itu terlihat gemetar ketakutan dan berkeringat. Aku dan Maryadi memeriksa tubuhnya barangkali luka. Syukur saja hanya beberapa lecet kecil di tangan serta lututnya.

“Kamu mau kemana?” Tanyaku kepada anak muda itu.

Dia hanya diam, kupikir karena syok. Aku tidak tega melihatnya, terutama dengan kondisinya yang cacat. Aku pun berniat membawanya ke rumah untuk menenangkannya, serta mengobati luka-luka kecilnya, setelah ia tenang nanti biar kuantar dia pulang.

“Ayo, Nak. Ikut ke rumah Bapak dulu. Mar, tolong bantu angkat.” Aku membawanya pulang dengan becakku.

Rumahku tak jauh dari tempat mangkal, kurang lebih hanya sekitar 500 meter, masuk dua gang. Di perjalanan, pemuda itu mengucapkan terima kasih dan memperkenalkan dirinya. Namanya Abdullah dan sebenarnya dia tengah mencari alamat kawannya yang bernama Jibril, tapi ternyata Jibril sudah tak lagi tinggal disitu.

Aku pun rasa-rasanya tak pernah mendengar nama tersebut, padahal profesiku yang tukang becak tentu saja sering bertemu serta mengenal banyak orang. Tak berhasil menemui kawannya, Abdullah berjalan kaki ke dekat jalan raya untuk menyetop taksi atau bus sampai akhirnya terserempet oleh pengemudi pick up ugal-ugalan tadi.

Ketika sampai di rumah, anak perempuanku, Hafshah, yang tengah menjemur kasur tampak keheranan dengan lelaki yang kubawa.

“Bapak, siapa dia?”

Aku menceritakan kejadian tadi.

“Innalillahi! Mari masuk. Biar Hafshah buatkan teh panas.”

Sesaat aku melihat raut wajah Hafshah memerah setelah matanya memperhatikan wajah lelaki yang usianya kurang lebih lima tahun diatasnya itu. Abdullah memang sangat tampan, kulitnya bersih, rambutnya sedikit ikal, wajahnya nampak tenang, bahkan jika diperhatikan sepertinya anak ini teralir darah timur tengahan.

“Bagus sekali lukisannya, Pak,” Abdullah mengamati sebuah lukisan kakbah tergantung di dinding batako ruang tamuku yang sempit.

“Ah, itu lukisan Hafshah, anakku yang tadi. Dia beri saya itu, dia bilang minta maaf belum bisa membawa Bapak ke Baitullah, hanya bisa beri gambarnya saja. Sejak dulu saya pengen pergi haji, selalu saya tabung uang dari narik becak, tapi habis untuk pengobatan Almarhumah Ibunya Hafshah.”

“Almarhumah? Jadi istri Bapak sudah tiada?”

Aku mengangguk, terbayang wajah istriku dan saat-saat terakhirnya. Tak lama kemudian Hafshah datang dengan teh panas, beberapa lembar kapas, plester luka, dan antiseptik untuk membersihkan luka kecil Abdullah.

“Sebetulnya saya pun yatim-piatu. Ibu saya meninggal dua tahun lalu karena penyakit gula sedangkan Ayah saya meninggal sebab kecelakaan beberapa bulan lalu yang juga merenggut kaki kiri saya. Ayah saya adalah seorang dokter, saya biasa hidup berkecukupan, namun sepeninggal beliau, saya musti bekerja keras sendirian sebab saya adalah anak tunggal, tidak memiliki saudara untuk bergantung.”

Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un. Harta, keluarga, jabatan, kesehatan… Segala yang kita miliki memang milik Allah. Tidak tahu kapan harus dikembalikan,” ucap Hafshah.

“Padahal rencananya tahun ini saya akan berangkat menunaikan ibadah haji dengan Ayah saya. Oh, Bapak ingin pergi haji, bukan? Kalau begitu maukah Bapak temani saya? Saya pun kesulitan berjalan, saya perlu seseorang untuk menjaga saya.”

Aku tidak percaya. Aku tidak percaya hari itu datang padaku. Allah mengirim seorang Abdullah untuk membawaku ke rumah-Nya. Berulang-ulang aku bertanya padanya apakah Abdullah bersungguh-sungguh dengan perkataannya, berulangkali pula dengan senyum simpul dia mengulangi kalimatnya.

Hari yang selalu kuimpikan sejak dulu benar terwujud. Kami berangkat dengan jemaah-jemaah lain yang beberapa diantaranya menjadi akrab denganku. Aku mendorong kursi roda Abdullah kemanapun, entah mengapa terasa ringan sekali. Aku tidak pernah merasa kelelahan selama menjalankan ibadah.

Ketika pertama kali melihat kakbah aku menangis sejadi-jadinya. Selama ini aku hanya memandang lukisan anakku. Terlebih lagi, jika mengingat bagaimana cara Allah menuntunku ke tempat ini dan bagaimana Allah mengatur pertemuanku dengan Abdullah. Aku benar-benar merasa segalanya merupakan suatu keajaiban terbesar dalam hidupku.

Di hadapan kakbah terus kupanjatkan doa untuk Hafshah, aku ingin dia dapat terus berkuliah walaupun Ayahnya hanyalah seorang tukang becak. Aku juga berdoa agar ia kelak mendapatkan suami yang mencintainya seperti Ayahnya.

Selain itu, aku berdoa untuk Abdullah, dia bagaikan pahlawan untukku, ku semogakan dia bisa membangun kembali hidupnya setelah berbagai duka silih berganti menyambanginya. Aku berdoa untuk istri dan orangtuaku yang semuanya sudah tiada.

Mudah-mudahan mereka mendapatkan tempat yang layak di sisi Allah dan aku ingin kembali berkumpul dengan mereka dalam Jannah.

Setelah melaksanakan seluruh rangkaian ibadah haji, kami pulang ke Indonesia. Aku ingat persis, aku tidur dalam pesawat saat itu, namun saat aku membuka mata…

Alhamdulillahirobbil ‘alamin… Pak… Bapak…”

Hafshah menangis di sisiku, yang membuatku semakin bingung mengapa banyak selang menempel di tubuhku. Apa pesawatku jatuh? Lalu dimana Abdullah?

“Dimana Abdullah?” Kalimat pertama yang keluar dari mulutku.

“Abdullah? Siapa Abdullah?” Hafshah mengerutkan dahi.

Segala pertanyaan memutari kepalaku, membuatnya semakin berat, aku benar-benar tidak mengerti. Bagaimana bisa Hafshah tidak mengenal siapa Abdullah?

“Apa yang terjadi padaku?”

Hafshah bercerita, dia bilang aku telah mengalami koma selama nyaris dua bulan setelah jadi korban tabrak lari oleh mobil pick up saat sedang narik becak. Maryadi yang membawaku ke rumah sakit. Penabrakku sudah tertangkap oleh polisi dan syukurnya dia mau bertanggungjawab dengan membiayai segala pengobatanku.

Di otakku sempat ada pembekuan darah, setelah dilakukan tindakan operasi, kondisiku tak kunjung membaik dan tak lekas sadar juga. Aku koma dalam waktu yang lama tanpa penyebab jelas dan hanya tampak seperti orang tidur panjang, bukan orang sakit.

Kadang aku mengigau dan bergerak-gerak tetapi setiap coba dibangunkan tidak pernah bangun. Mendengar kisah itu airmataku menetes.

Ya Allah! Jadi haji yang telah kujalani hanya mimpi? Hatiku hancur tapi aku mencoba ikhlas, kalaupun itu hanya mimpi Ya Rabb sesungguhnya itu adalah mimpi terindah yang tidak akan pernah dapat aku lupakan.

Segala kejadiannya terasa nyata, sungguh. Aku masih tak bisa mempercayai bagaimana bisa mimpi sedetail itu. Semenjak terbangun aku hanya terus mencoba mengingat peristiwa hari-hari kemarin, tak ada ingatan yang tersisa selain menolong Abdullah anak muda yang mengajakku ke Baitullah. Mobil pick up? Maryadi? Kecelakaan? Ya Allah… aku tidak mengerti!

Beberapa minggu setelah keluar dari rumah sakit, aku mulai narik becak lagi dan perlahan aku mulai bisa melupakan kebingungan dan keganjilan dari peristiwa haji dalam tidur itu. Aku anggap semua sudah selesai.

Tapi tiba-tiba, ketika tengah duduk di pangkalan dengan Maryadi dan kawan-kawan tukang becakku yang lain, datang sepasang suami istri membeli bensin di dekat pangkalan, wajah keduanya nampak tidak asing lagi.

Aku segera teringat bahwa mereka adalah jemaah haji yang se-kloter denganku dalam mimpi itu. Secara spontan aku memanggil nama mereka, padahal tahu mereka pasti tidak akan mengenal aku.

“Pak Harun! Bu Syamsiah!”

Mereka menoleh. Tidak disangkanya…

“Alhamdulillahirobbil ‘alamiin kita jumpa lagi. Pak Rudi, jemaah satu kloter ‘kan?”

Mereka menghampiriku dan mengajakku bersalaman.

“Iya, Bu Syamsiah.”

“Bagaimana kabar Bapak? Bagaimana kabar Abdullah?”

Pertanyaan Pak Harun membuatku pusing lagi, jadi aku benar-benar ada dalam rombongan mereka? Jadi Abdullah benar-benar ada?

“Oh, baik alhamdulillah…” Jawabku setengah melamun.

Setelah Pak Harun dan Bu Syamsiah pergi, kawan-kawanku bertanya padaku, jemaah apa? Kloter apa? Barulah aku menceritakan kejadian aneh yang menimpaku.

MasyaAllah! Itu namanya keajaiban, Kang Rudi!” Lasmin berdecak.

“Tapi aku masih penasaran, siapa Abdullah?”

“Mungkin dia Malaikat yang mengubah wujudnya menjadi manusia! Atau jin baik! Eh, tapi, bukankah katamu tadi, kamu juga mengantarnya pulang setelah dia terserempet mobil itu? Mengapa tidak kamu coba cari lagi alamat rumah itu, siapa tahu dia memang benar-benar ada dan siapa tahu dia mengingatmu.” Kata Maryadi, dan benar juga.

Setelah itu kukayuh becakku, aku ingat alamat rumah Abdullah, sedikit jauh namun sebab hatiku bergerak ingin sekali benar-benar bertemu dengannya. Maka aku mencarinya, supaya hilang pula penasaranku.

Lalu sampailah aku pada suatu rumah, ya, tidak salah lagi ini rumah Abdullah. Tetapi saat kuketuk, yang keluar seorang perempuan berjilbab. Bukankah Abdullah anak tunggal? Tentu saja tidak memiliki saudari.

“Apakah benar ini rumah Abdullah?”

Perempuan itu mengernyitkan dahi.

“Abdullah? Maaf bukan. Tidak ada yang namanya Abdullah disini, Pak.”

Aku kembali dari rumah itu dengan terkekeh sepanjang jalan, mungkin benar kata Maryadi. Mungkin dia Malaikat, atau jin baik. Semenjak itulah aku dijuluki Rudi Kajituru alias Rudi, haji dalam tidur.

 

Penulis            : Tiv Firsta*

* Nama pena dari Tivana Firsta Haryono Putri

Mahasiswa Fakultas Adab dan Bahasa IAIN Surakarta

 

 

Editor              : Annisavira Pratiwi