Doa Pendosa

0
67

Puisi ini terinspirasi dari Al Qur’an Surah Ar Rahman

Badan titipan

Yang Kau ciptakan dari setabur tanah kering seperti tembikar

Telah dicela salah dan mungkar

Bila kini dikembalikan kepada tanah hampar

Mungkin hanya akan mencemari sang semayam

 

Aku tak layak dikebumikan di bawah bumimu

Tetapi aku tiada tempat lagi

Untuk membuang jasadku bila mati

Yang bisa kulakukan hanya terisak nyeri

Beri aku tumpangan sedikit hari

Biar yang hina sedikit bersuci

Selagi hidup begitulah pintaku selalu

Seperti di malam ini

 

Ar Rahman

Pemelihara timur dan barat

Yang membiarkan terjumpanya dua genang laut samudera

dan menciptakan sekat

Yang diantara kebinasaan memiliki wajah besar

dan kemuliaan yang kekal

Yang memperhatikan

dalam kesibukan mendengar doa

Sebelum langit menjadi terbelah merah mawar

Hambamu menawar

 

 

 

Aku tak sebening yakut dan marjan

Tetapi aku begitu rindu memandang dua surgamu

Apakah mata ini akan Kau buat buta dari yang hijau tua

Dan apa tangan ini akan Engkau buntungkan pula dari sekadar memetik kurma delima

 

Ar Rahman

Aku dalam ketakutan

Sebab nikmat-Mu yang mana saja selalu aku dustakan

 

Tepukan Bahu

Legam hitammu yang cemas

Wahai penggembala dingin

 

Kembara kasih sayang yang tak kunjung menuju akhir

Sedih

Kau bukan lagi penyabar

Tetapi telah mematikan hati yang semestinya hidup

 

Mega mendekap sebagai sisa sore

Sore yang pernah singgah

Secara megah menyelimuti penantianmu

Berpinta engkau mensyukurinya

 

Begitu engkau tak memuji

Begitu engkau tetap tak dilelapi

 

Parau suaramu

Panggil memanggil yang telah jauh labuh berlalu

Padahal sama saja

Tidak disahut

 

Jadi cukup sekian

Kupikir sekarang saatmu tidur

Percuma dia tidak mendengar

Atau mendengar tapi berpura-pura tuli

Atau memang tuli sudah

Kesempatannya

 

 

Jadi cukup sekian

Kupikir sekarang saatmu tidur

Nanti bangunlah tengah malam

Temui Tuhanmu

Dia lebih rindu

 

Asamu digunjing pagi

Kau enggan tidur suntuk semalam

Melupakan rekah fajar

Memilih lelap tatkala rizki embun memancar dari dedaunan

 

Sombong sekali kau rupanya

 

Siang pula resah bercerita

Betapa muram wajahmu

Tak pernah mau tersenyum lagi

 

Bagaimana?

Apa benar telah kau tinggalkan semuanya

Hanya untuk sepatah kata kau sebut cinta

 

Benar adanya cinta itu anugerah Lillah

Tetapi jangan berani meletak rendah kepada sesuatu yang salah

Tidakkah kau percaya pada kembali telahnya Siti Hawa kepada Sang Adam

Cinta hanya akan menemukan ketepatan dalam ketetapan

 

Ataupun terpatahnya hati Abu Bakar-Umar oleh Az Zahra

Dikarenakan Ali lebih tepat kepadanya

Sekali lagi cinta hanya akan menemukan ketepatan dalam ketetapan

Bersabarlah sebentar selagi pahit

Penyair           : Tivana Firsta Haryono Putri

Mahasiswi Aktif Fakultas Adab dan Bahasa IAIN Surakarta

Editor              : Rifqah