Bercerita Romansa di Negara Maroko

0
78

**catatan untuk penulis: you know lah, zul, kenyataan hidup ini memang banyak yang pahit, maka mungkin yang ini bisa buat latihan saja hehehe

Seingat saya, karena tulisan ini nantinya akan dipenuhi hasil usaha saya untuk mengingat, penulis pernah, mungkin masih, memiliki akun facebook dengan nama Izzul Wong ‘Kuno’. Dengan nama lengkap Izzul Millah, sense cocoklogi saya yang tidak seberapa ini berhasil menemukan susunan huruf yang sesuai dengan nama pena yang ternyata telah dibuatnya sejak lama: Kunoizzm.

Sebagai penulis, dalam biografi di bagian halaman belakang sampul bukunya, Izzul mengakui jika ia sudah akrab dengan puisi sejak menduduki bangku Madrasah Tsanawiyah (MTs), jenjang pendidikan sederajat SMP. Dan benar saja, tulisannya saat itu sungguh mengganggu alam literasi saya.

Kalau boleh jujur, saat itu saya sangat tidak tertarik dengan tulisan Izzul. Sudah aneh, ndak nyastra, bentuknya di buku tulis tidak estetik pula. Alhasil, otak saya yang padahal masih cukup polosan tentang dunia tulis-menulis sudah keburu antipati terhadap tulisan Izzul, termasuk puisi-puisinya. Meskipun begitu, setidaknya di sini, pengakuannya tentang kapan ia mulai menulis sudah mendapat pembenaran dari saya.

Konon juga sialnya, bagi saya yang saat itu tidak tahu, takdir adalah kejutan yang membuat kepahitan hidup terabaikan, membuat fokus ‘orang-orang yang penasaran akan seperti apa dirinya kelak’ tertuju pada usaha, bukan keadaan. Dalam kasus penulis seperti Izzul, usaha tersebut lebih kepada giat karena ia sendiri memang gemar menulis puisi.

Maka ketika buku kumpulan puisinya terbit pun saya tidak kaget, tidak sama sekali selain soal nama penanya tadi, malah justru kagum betapa penulis adalah penyabar yang lihai, sedangkan saya hanyalah pengamat yang sok-sokannya aduhai. Maka juga ketika bukunya telah berada di pangkuan saya, saya seperti mendapati, penulis sedang menatap saya sambil tersenyum ngece sejak halaman sampul walaupun itu juga tidak pernah terjadi di masa lalu ketika kami masih sering bersua.

Nah, menyinggung soal sampul, saya jadi ingat kalau saya sedang ingin mengulas bukunya, alih-alih bercerita. Karena itu pula, saya jadi berpikir untuk mengulasnya dalam wujud poin-poin pada tiap komponen buku, setahu saya saja, jadi mohon diperkenankan.

Sebagai bagian yang harus menawan pembaca sejak pandangan pertama, penataannya cukup rapi. Perpaduan yang minimalis dengan komposisi warna hitam-putih sebenarnya sukses membuat segalanya tampak cocok-cocok saja, tetapi jika diteliti, kondisinya cukup jelek dengan judul yang bagus dan fon yang biasa saja, mungkin Calibri atau sejenisnya.

Saya berani berkomentar demikian karena setelah saya telusuri, sosok dibalik ilustrasi sampul adalah penulis sendiri. Penulisnya terlalu maju, menjadikan kreativitas ilustrasinya jadi kelewatan (baca: ketinggalan).

Lebih detail, jika saya tidak salah tangkap, ada objek gambar berbentuk siluet tangan yang sedang berdoa di pojok kiri bagian bawah sampul. Saya hanya sedikit khawatir itu didapatkan dari foto atau semacamnya, di-import ke aplikasi Corel Draw, kemudian di-trace lalu dihitamkan. Jika hal itu benar, maka saya akan ikut berbelasungkawa atasnya.

Kesimpulan sederhana saya, untuk sampul dan judul buku secara keseluruhan, angka delapan cukup mewakili penilaian saya, tetapi nilai totalnya adalah lima belas. Mau dibilang apa, saya memang kawan yang cukup tega sebenarnya, tetapi itu pun belum cukup; masuk ke isi buku.

Memiliki total 104 halaman, 90 halaman buku ini berisikan puisi yang berjumlah 84 buah. Mengingat ini adalah buku pertama penulis, mungkin lebih bagus jika kumpulan puisi tersebut disebut biji, bukan buah, dan beruntung penulis telah menggenapkannya. Seluruh puisi tersebut ditulis dalam latar waktu yang sama, yakni tahun 2018, dengan latar tempat berupa nama-nama kota di Maroko, negara tempat penulis menempuh pendidikan setelah Madrasah Aliyah (MA, sederajat SMA).

Menerbitkan buku di tengah keterbatasan sebagaimana banyak diceritakan dalam kisah motivasi para penulis, juga tanpa sempat—atau memang sengaja tidak—mengelompokkan judul maupun isi puisi, penulis berhasil menunjukkan sisi romantisnya begitu kentara di dalam sebagian besar puisi yang ada.

Sisi ini juga tidak mungkin saya dapati pada masa ketika sosok penulis bahkan tidak telaten mengurus hidupnya sendiri; banyak tidur, jarang mandi, suka senyum-senyum tak jelas, dan masih banyak aib yang lain. Namun, di atas semua itu, beruntung saya masih menganggapnya sebagai teman—eh, atau sebaliknya?

Oke, demikianlah saja sedikit ulasan dari saya. Semoga ulasannya bermanfaat bagi pembaca yang penasaran dengan bukunya maupun tertarik pada penulisnya saja. Saya tidak peduli dengan itu. Saya juga tidak berpikir bahwa ini untuk kebaikan penulis karena saya merasa, ia lebih tahu apa yang baik untuknya.

Baiklah, saatnya salam-salaman dengan takzim dan minta maaf, lalu saya pamit; sekian dan terimakasih. Semoga Izzul sukses menjadi penulis beneran. Amin.

 

Penulis: Akhdan Muhammad Alfawwaz

Mahasiswa Aktif Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)

 

Editor : Annisavira Pratiwi

 

Tulisan ini telah mengalami pembaruan pada 27/11/2019 pukul 17:34 WIB

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here