Ketimbang Ngemis Solo: Non-Profit Namun Tetap Eksis

0
153

Satu jam sebelum janji temu saya dengan narasumber, saya sudah berada di lokasi. Tak lupa saya mengabarinya via WhatsApp. Bukan tanpa alasan, hanya sekadar memberi kesan baik kepada narasumber dengan datang lebih awal. Dia adalah Ketua Ketimbang Ngemis Solo (KNS) periode 2019. Sebut saja namanya Ardi Setiawan. Sebelum janji temu ini disepakati, rencana awal ialah mewawancarai founder dari KNS; Dita. Sayangnya, Dita sudah tidak lagi menetap di Solo. Ibarat peribahasa, “Tak ada rotan akar pun jadi,” Dita menawarkan kepada saya agar menemui Ketua KNS saja.

Jam tepat menunjukkan pukul 19.30. Di sebuah kedai kopi, saya memilih duduk tepat di sebelah kasir, di mana tempat itu sangat strategis karena setiap pengunjung yang datang tentu saja akan melewati tempat yang saya pilih. Tak lama kemudian, terlihat seorang pria menatap sekaligus memberikan senyum simpul ke saya. Walau sedikit gambling karena sebelumnya belum mengetahui perawakan narasumber, saya berasumsi seseorang yang baru saja masuk ialah orang yang sudah saya tunggu.

Kemudian Ardi, begitu ia disapa, menghampiri saya sembari mengulurkan tangan sebagai simbol perkenalan. Sontak saya berdiri dari tempat duduk sembari menjabat tangannya. Dia lebih memilih duduk dahulu, ketimbang memesan minuman.

Ardi merupakan asli Solo, hal tersebut yang membuat karakteristiknya sama seperti orang Solo kebanyakan, yaitu ramah dan murah senyum. Kesehariannya adalah bekerja dan mengemban amanah sebagai Ketua KNS periode 2019. “Kadang saya suka manfaatin jam makan siang di kantor untuk survey sosok mulia (solia) yang bakal dibantu,” jelasnya.

Awal Mula Tercetus Ide

Ketimbang Ngemis terbentuk lewat penyesalan seseorang karena tidak dapat membantu pedagang yang sudah tidak dalam usia produktif untuk bekerja. Nama seseorang itu ialah Rizky dari Yogyakarta. Sebenernya ia sudah berniat ingin membantu dengan membeli dagangan tersebut. Namun karena Rizki khawatir akan telat shalat Jumat, ia memutuskan untuk shalat terlebih dahulu. Dan ketika selesai, pedagang itu sudah tidak ada di lokasi.

Dari penyesalannya hari itu, Rizky memutuskan untuk mencari lebih banyak solia lalu membagikannya di akun sosial media pribadinya. Seiring berjalannya waktu, usaha Rizky mendapat respon positif dari warga internet yang melihat postingannya tentang solia.

Hingga saat ini, KN Pusat masih belum mendapatkan legalitas resmi dari negara atau dinas terkait seperti dinas sosial. Akan tetapi, KN Pusat telah mengurus perihal statusnya ini dan masih dalam proses memperjuangkan legalitas resmi yang diperkirakan bisa didapat 2020 mendatang.

Kemudian muncullah komunitas Ketimbang Ngemis di beberapa kota besar di Indonesia, Solo salah satunya, berawal dari inisiatif Dita yang melihat postingan sosial media Rizky. Upaya yang dilakukan Dita untuk menarik perhatian masyarakat Solo sama seperti upaya yang telah dilakukan Rizky kala Ketimbang Ngemis belum banyak dikenal orang.

Dengan ketekunan Dita membagikan sosok-sosok mulia di akun sosial medianya, akhirnya ia berhasil mengadakan meet up pertama pada 27 Juni 2015 yang kemudian terbentuk Ketimbang Ngemis Solo.

Cara Mempertahankan Eksistensi

Tahun ini menjadi tahun keempat KNS terbentuk. Hingga sekarang belum ada tanda-tanda KNS akan kehilangan konsistensi dalam menjalankan tujuan komunitas ini, yaitu ingin lebih mengenalkan solia dan mengangkat taraf hidup, serta perekonomian sosok-sosok mulia yang dibantu. Tidak mudah untuk bertahan hingga tahun keempat ini. Hal tersebut disebabkan loyalitas anggota terhadap KNS yang dinilai masih kurang lantaran mayoritas diisi oleh anak kuliahan.

Namun itu bukan menjadi masalah bagi KNS yang sampai saat ini punya 30 anggota aktif. 30 anggota aktif tersebut terbagi menjadi beberapa divisi, seperti divisi survey, dokumentasi, admin media sosial, bendahara, hingga ketua. Tugas ketua umumnya menentukan visi dan misi KNS itu sendiri dan mem-backup divisi yang lain, sedangkan divisi survey bertugas untuk mencari tahu informasi dari solia yang akan dibantu oleh KNS. Rata-rata anggota baru biasanya ditempatkan divisi survey dan dokumentasi. Jabatan ketua, bendahara, dan admin media sosial diisi oleh anggota lama yang dinilai mempunyai komitmen dan jujur.

Selain itu, KNS masih konsisten dengan agenda-agenda yang mereka buat, yaitu bakti sosial (baksos) yang rutin dilakukan setiap bulan. Tentu saja ada beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan dalam memilih solia seperti apa yang akan diberikan bantuan oleh KNS. Dalam KNS biasanya disebut dengan survey, yang dilihat dari latar belakang calon solia tersebut. Ada dua sasaran usia; produktif dan tidak produktif namun masih bekerja. Sambil bercerita, Ardi mengatakan bantuan untuk usia tak produktif tapi masih ada kemauan untuk bekerja, biasanya KNS membantu dalam bentuk donasi dan mempromosikan dagangan. Namun jika solia masih dalam usia produktif, KNS membantu mempromosikan sekaligus mengawasi perkembangan dagangan selama tiga bulan ke depan.

Bantuan tatkala baksos yang umumnya diberikan oleh KNS kepada solia berupa sejumlah uang tunai dan sembako yang dikumpulkan dari open donasi yang dibuat KNS pada sosial media Instagram mereka. KNS juga kerap kali memberikan bantuan berupa renovasi warung atau gerobak dari solia itu sendiri.

“Kebanyakan solia itu warung atau gerobaknya kurang layak untuk dipake jualan. Bisa jadi kan pembeli jadi males untuk beli di tempat yang keliatannya kurang layak, makanya KNS juga fokus untuk renovasi warung atau gerobak dari solia,” ucap Ardi.

KNS juga aktif menjalani agendanya yang lain. Beberapa diantaranya ialah kunjungan ke Yayasan Sosial dengan komunitas lain seperti Three C (Komunitas Kanker) dan Lentera (HIV dan AIDS). Disamping itu, yang rutin dilakukan KNS adalah Garage Sale, dimana agenda tersebut menjadi satu-satunya sumber penghasilan KNS karena KNS sendiri belum memiliki donatur tetap. Selama ini, donasi didapat dari masyarakat umum yang sukarela membantu, atau anggota yang mau berpartisipasi memberi dana.

Untuk menjaga komunitasnya tetap eksis, KNS seringkali mengadakan sosialisasi kepada masyarakat, salah satunya dengan memanfaatkan momen Car Free Day (CFD). Alhasil, kini KNS kerap kali diundang sebagai pembicara acara berbagai kampus se-Solo Raya, bahkan pernah diliput media cetak serta digital wilayah Jawa Tengah hingga ranah nasional. Di sela-sela ceritanya, Ardi menekankan bila KNS tak punya profit bila dilirik dari segi harta. KNS selama ini hanya berupaya fokus membantu solia Solo Raya dengan ikhlas nan konsisten.

Kisah Inspiratif dari Sosok Mulia

Jika ingin mencari keuntungan pribadi, mengikuti KNS jelas bukan pilihan yang tepat. Namun jika ingin banyak mendapatkan kisah inspiratif serta pelajaran hidup, mengikuti KNS adalah pilihan yang tepat. Ardi adalah saksi nyata, bahwa di luar sana banyak orang yang masih membutuhkan uluran tangan kita. Salah satunya, ia pernah mengunjungi solia tunanetra yang setiap hari berjualan sapu dan kemoceng di tempat yang sama.

Masih bicara tentang solia, ada solia lain yang berjalan cukup jauh hanya untuk berjualan permen di pasar yang terkadang kurang mendapat perhatian dari masyarakat sekitar. “Coba bayangin, di usia yang seharusnya istirahat di rumah, solia ini masih semangat untuk jualan bahkan sampe jalan kaki sejauh itu dengan bawa jualannya yang ngga selalu dicari orang,” tukas Ardi.

Selain cerita dari kedua solia tadi, cerita inspiratif lain didapat melalui kunjungan bersama dengan komunitas lain. Misalnya saja, ketika KNS berkunjung ke salah satu rumah sakit yang ada di Solo bersama dengan Komunitas Lentera (HIV dan AIDS). Mereka datang berniat untuk menciptakan seulas senyum pada pasien yang ada di sana, serta tak lupa memberi donasi berupa obat-obatan sesuai dengan resep dan saran dari dokter.

“Awalnya temen-temen dari KNS itu takut untuk deket-deket atau sekadar berinteraksi dengan pasien di sana, takut nular katanya. Tapi pas di sana, dikasih penjelasan sama dokter, temen-temen semangat banget untuk menghibur pasien yang ada di sana,” cerita Ardi.

Suasana haru tak lagi dapat dibendung tiap KNS melakukan agenda kunjungan ke tempat tinggal solia, tempat jualan solia, atau bahkan rumah sakit. Kata Ardi, semua yang hadir, merasa terharu melihat semangat yang ada dalam diri solia yang tak seberuntung orang pada umumnya. Ardi sendiri bisa merasakan semangat itu menular pada kawan-kawan anggota KNS lainnya.

Di akhir perbincangan saya dengan Ardi, ia berpesan, “Dengan membantu membeli dagangan mereka, tidak akan membuat kamu miskin. Mungkin saja itu sudah ditakdirkan kamu sebagai perantara untuk memberikan rezeki kepada yang membutuhkan.”

 

 

Reporter              : Novali Panji Nugroho

Editor                    : Annisavira Pratiwi

 

Teks ini telah mengalami beberapa perubahan pada 27/11/2019 pukul 17:13 WIB

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here