Menyingkap Kembali Sejarah Berdirinya UMS dari Masa ke Masa

0
209

(Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Pabelan edisi tahun 2012 dan ditulis ulang oleh Cindy Ameliayana Wulandari)

Universitas Muhammadiyah Surakarta atau yang biasa diakronimkan menjadi UMS, merupakan salah satu dari sekian lembaga pendidikan tinggi persyarikatan Muhammadiyah.

Pada tahun 1979, Drs. H. Mohammad Djazman, Rektor IKIP Muhammadiyah Surakarta saat itu, memprakarsai berdirinya Universitas Muhammadiyah Surakarta dengan menggabungkan IKIP Muhammadiyah Surakarta dan IAIM (Institut Agama Islam Muhammadiyah) Surakarta.

UMS berdiri berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Kebudayaan RI No. 0330/0/1981 tanggal 24 Oktober 1981, sebagai perubahan bentuk dari IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Muhammadiyah Surakarta.

UMS memiliki tekad mewujudkan kampus sebagai “Wacana Keilmuan dan Keislaman” yang digadang-gadang sebagai slogannya. Oleh karenanya, UMS tiap tahun membangun gedung-gedung baru guna menunjang sarana dan prasarana akademik. Sejarah awal UMS berdiri hanya terdapat tujuh fakultas, yakni FKIP, Fakultas Ekonomi, Fakultas Teknik, FAI, kemudian disusul Fakultas Psikologi dan Fakultas Geografi pada tahun 1983/1984.

Pada tahun 1984, UMS dengan keterbatasan biaya mampu membeli tanah seluas 1 hektare dan ingin  mendirikan gedung pertama yaitu gedung A. Namun sayangnya,  terkendala karena dana pembangunan yang terbatas. Dengan pelbagai usaha, UMS lalu memperoleh titik terang lantaran mendapatkan pinjaman dari Bank Jateng sebesar 300 juta rupiah atas Usaha Badan Pembina UMS. Banyak tokoh yang berjasa dalam pembuatan gedung A, diantaranya Machful Chanim (alm) sebagai arsitektur, Bambang Suseno, serta Heri Suherdono sebagai drafter.

Usai Gedung A berdiri, UMS lanjut membangun Gedung B dan Gedung Rektorat (sekarang gedung Fakultas Kesehatan Masyarakat-red). Yang menarik, pembangunan Gedung Rektorat menjadi satu dengan Masjid Fadhlurrahman. Hal itu dimaksudkan agar semua orang yang hendak masuk ke dalam Gedung Rektorat akan melewati masjid. Sebagaimana kita tahu, masjid merupakan tempat beribadah umat Islam yang sangat suci, begitu pula saat ingin memasuki masjid, juga harus dalam keadaan suci.

Sehingga semua orang yang hendak masuk ke dalam kampus, tak pelak melewati jalan di bawah masjid dan menjadi suci. Konsep dan desain tersebut diminta langsung oleh Rektor UMS yang pertama, Drs. H Mohammad Djazman.

Setiap tahun ajaran baru, mahasiswa UMS semakin bertambah banyak, berdampak pada gedung perkuliahan tidak lagi mampu menunjang kegiatan akademik. Maka, UMS berupaya lagi memperluas wilayahnya dengan membeli tanah satu patok atau sekitar 3.000 meter persegi yang sekarang menjadi kampus dua UMS. Di waktu yang bersamaan, dibangun pula Griya Mahasiswa, agar mahasiswa dapat mengembangkan bakatnya melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).

Saking gencarnya membangun, tak berhenti sampai disitu, UMS kembali membeli tanah dan membangun Gelanggang Olahraga (GOR) UMS. Tak berselang lama sebelum Mohammad Djazman mengakhiri masa jabatan sebagai Rektor, ia membangun Pondok Putra UMS yang bertempat di Makamhaji sebanyak 12 unit, yang sekarang terkenal dengan sebutan Pondok Hj. Nuriyah Sobron.

Pasca pergantian Rektor baru, UMS kembali membangun beberapa gedung, salah satunya gedung Perpustakaan UMS. Tahun berikutnya UMS progresif membangun gedung H dan G. Setelah tiga gedung selesai, UMS membangun Gedung Biro Administrasi Akademik (sekarang eks BAA-red).

Bertepatan dengan peristiwa krisis moneter, UMS waktu itu justru istiqomah terus membangun gedung. Belum puas dengan berdirinya Gedung I serta Gedung Fakultas Farmasi yang berada di sisi paling barat UMS, tak berselang lama dibangun pula Gedung Pascasarjana yang juga menjadi satu dengan Fakultas Psikologi. Gedung Fakultas Psikologi menjadi ikon UMS sekaligus menjadi gedung paling tinggi di UMS pada masanya.

Seiring berjalannya waktu, mahasiswa/i pengguna kendaraan semakin banyak, namun lahan parkir UMS semakin berkurang. Alhasil, dibangunlah gedung parkir sebanyak empat lantai yang berada di Gedung Geografi dan Hukum Kampus I UMS. Kemudian, UMS mendapatkan bantuan dari pemerintah untuk membangun rumah susun sewa (rusunawa) mahasiswa, bernama Pesantren Internasional KH Mas Mansur UMS. UMS juga membangun kampus empat, yakni gedung Fakultas Kedokteran yang tak jauh dari kompleks Rusunawa.

Tercatat pada tahun 2016, UMS membangun Gedung Induk Siti Walidah yang terdiri dari tujuh lantai yang merupakan kantor pusat terpadu dan berfungsi sebagai kantor rektorat, kantor pusat biro, dan unit pelayanan kepada mahasiswa dan kantor urusan internasional. Tak ketinggalan, ada juga kantor admisi yang berfungsi sebagai pusat pelayanan penerimaan mahasiswa baru, serta kelas internasional dan menjadi ikon UMS yang baru. Pada waktu bersamaan, peresmian Gedung Induk Siti Walidah, dibangun pula Masjid Hj. Sudalmiyah Rais yang rampung dalam kurun waktu satu tahun.

Pada 2019, UMS tengah membangun Edutorium dibangun di lahan Edupark Jl. Adisucipto Solo, dilansir dari solopos.com. Gedung ini rencananya akan berkapasitas 7.000 orang, dirancang berbentuk oval, dan dilengkapi museum Peradaban Islam Asia Tenggara. Gedung tersebut disiapkan untuk pelaksanaan Muktamar Muhammadiyah tahun 2020, dan nantinya akan digunakan pula untuk acara wisuda UMS.

 

Editor                : Annisavira Pratiwi

Teks ini telah mengalami perubahan pada Rabu, 27/11/2019 pukul 16:12 WIB

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here