Bobroknya Sistem Kelas Internasional UMS

0
68

Kendala penggunaan bahasa pengantar di kelas internasional, berbuntut dengan penutupan sementara program studi (Prodi) Akuntansi dan Teknik Elektro Internasional Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Selain itu bahkan ada mahasiswa asing yang melontarkan komplain mengenai penggunaan bahasa pengantar perkuliahan yang tidak murni menggunakan bahasa Inggris.

Pihak Biro Kerjasama dan Urusan Internasional (BKUI) dalam menyikapi hal ini berupaya untuk memberikan kualifikasi pengajar ke depannya; bukti pernah studi di luar negeri serta memiliki IELTS (International English Language Testing System) atau TOEFL (Test of English as a Foreign Language).

Namun upaya tersebut tampaknya tidak efektif bila masih ada mahasiswa kelas internasional yang tidak paham dengan penggunaan bahasa Inggris di setiap kegiatan perkuliahan. Bahkan, paradigma tentang mahasiswa internasional yang lancar dan menguasai bahasa Inggris, nyatanya tidak sepenuhnya benar.

Sistem penerimaan mahasiswa internasional bisa dibilang bobrok. Pasalnya dari awal tidak ada kualifikasi yang jelas bagi calon mahasiswa internasional untuk menguasai bahasa Inggris, seperti minimal skor TOEFL atau IELTS. Imbasnya, penggunaan bahasa pengantar yang notabene bahasa Inggris malah menjadi momok tersendiri bagi mahasiswa atau dosen yang belum menguasai bahasa Inggris dengan baik.

Persoalan selanjutnya, dosen atau pengajar seolah mendapati gejolak kebimbangan lantaran mahasiswanya terpecah menjadi dua kubu. Yakni, mahasiswa asing yang hanya memahami bahasa Inggris dan mahasiswa dalam negeri yang beberapa diantaranya tak menguasai bahasa Inggris. Dosen acap kali terkendala memilih bahasa pengantar, lantaran dituntut memberi pemahaman menyeluruh pada keduanya dengan masing-masing keterbatasan yang dimiliki.

Maka seyogyanya, tak hanya dosen, mahasiswa lokal juga mesti dituntut menguasai bahasa Inggris secara mumpuni karena itulah risiko yang didapat ketika memilih prodi internasional. Mau tak mau, namanya prodi internasional, sudah sewajarnya menggunakan bahasa internasional. Sehingga baik dosen maupun mahasiswa sama-sama nyaman dan leluasa dalam membahas materi.

Semoga ke depannya sistem dan kebijakan mengenai penerimaan mahasiswa prodi internasional dapat terus mengalami perubahan yang lebih baik, sehingga tidak ada lagi kejadian prodi internasional tidak murni menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar. Hal ini tentu agar tercapai kegiatan belajar dan mengajar yang berkualitas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here