Di Sebelah Kamar Kosku

0
547

Putri menghentikan motornya di seberang rumah dengan papan yang menggantung di gerbang bertuliskan ‘Terima Kos Putri’. Ia menatap tulisan tersebut dengan harap-harap cemas. Sungguh, Putri benar-benar kelelahan berkeliling untuk menemukan kos yang cocok dengannya. Bulan ini harus mendapatkan kos bila tidak ingin diusir oleh kos lamanya karena belum membayar uang sewa yang terbilang cukup mahal.

Setelah menatap papan tersebut cukup lama, Putri memutuskan memarkir motornya di depan gerbang yang terlihat sudah berkarat di beberapa bagian. Dibukanya gerbang tersebut dan menimbulkan sedikit suara yang memekikkan telinga. Seorang wanita paruh baya yang sedang menyapu halaman rumah menghentikan aktivitasnya dan menoleh kepada Putri.

Dengan perlahan Putri mendekati wanita itu. “Permisi Ibu,” ucapnya dengan sopan.

“Ada apa ya mba?”  tanya wanita tersebut.

“Apa benar masih ada kamar kosong, Bu?”

“Iya mba, masih-masih.” Wanita tersebut menyunggingkan senyum di wajahnya.

“Saya boleh lihat dulu kosnya Bu?”

“Boleh mba, mari silakan masuk dulu.” Wanita itu meletakkan sapunya di dinding rumah dan mempersilakan Putri untuk masuk.

Begitu masuk, hawa dingin mulai menusuk tubuh Putri. Seolah-olah terdapat sebuah alat pendingin yang tidak terlihat. Bahkan, meskipun beberapa kali Putri memperoleh senyum hangat dari sang ibu pemilik kos, hawa dingin tersebut tetap terasa di sekitar tubuh Putri. Ia berusaha melupakannya dan fokus dengan apapun yang sedang dijelaskan pemilik kos.

Akhirnya setelah berbicara panjang lebar serta bernegosiasi, Putri mendapatkan satu kamar yang cukup luas dengan beberapa fasilitas yang sudah tersedia namun harganya terbilang murah.

Wanita bernama Yani ini juga mengajak Putri berkeliling lebih dalam lagi. Bahkan Putri pun juga ditunjukkan halaman belakang yang terdapat taman dengan beberapa bunga-bunga yang indah. Entah mengapa matanya Putri terfokus pada tumpukkan barang yang berantakan, seperti tidak diurus sehingga sangat kotor.

Tentu saja itu mengganggu pemandangan karena terletak di sebelah taman. Sejujurnya Putri ingin menanyakan itu, tetapi dirinya mengurungkan niat karena takut menyinggung perasaan Ibu Yani. Setelah dirasa cukup, Putri mulai berpamitan kepada Ibu Yani. “Terimakasih Bu sudah mengajak saya keliling, kalau begitu saya ingin pamit.”

“Oh begitu mba, iya silakan-silakan mba.” Ibu Yani mempersilakan Putri untuk meninggalkan rumahnya. “Untuk barang-barangnya mau dipindah kapan ya?”

Putri menghentikan langkahnya dan kembali menghadap Ibu Yani. “Kemungkinan besok pagi Bu.”

“Baik mba kalau begitu. Kalau ada yang perlu ditanya lagi bisa menghubungi kontak saya tadi ya,” kata bu Yani. Putri mengiyakan dan mulai melangkah keluar menuju gerbang di mana motornya terparkir.

Baca Juga: Krisis Demokrasi, Gugatan Keadilan Atas Polemik Cerpen Ditolak Putusan Hakim

Sebelum sampai pada gerbang tersebut, dirinya berhenti tepat di samping jendela sebuah kamar yang sangat gelap ditutupi gorden. Putri seperti merasakan ada seseorang yang sedang menatapnya dari dalam. Perlahan Putri menengok ke jendela tersebut. Sepi, tidak ada siapapun.

“Ada apa mba?” Jantung Putri berdetak sangat cepat tatkala Ibu Yani melontarkan pertanyaan secara tiba-tiba.

“Tidak apa-apa Bu, permisi,” Putri berusaha melupakan perasaan tidak jelasnya dan bergegas pergi meninggalkan tempatnya berhenti tadi.

Esok paginya, Putri segera memindahkan barang-barangnya dari kos lama ke kos yang baru. Tentu saja dia dibantu oleh temannya, barangnya sangat banyak sekali. Jika hanya dia yang membawa sendiri mungkin sudah kewalahan. Setelah semua barang sukses berada di kamar Putri, ia segera memberikan uang sewa selama setahun ke depan.

Pada malam harinya, Putri berada di dalam kamar dan merebahkan badannya di kasur. Temannya tadi baru saja pulang. Meskipun ia dibantu membawa barang sekaligus merapikan, tetap saja badan terasa melelahkan. Putri mulai menutup mata karena mulai mengantuk. Baru beberapa menit ia menutup mata, sebuah aroma tidak enak masuk ke indra penciumannya.

Ia pun membuka mata dan mulai mencari sumber bau tersebut. Namun nihil, bau itu seakan sudah menyebar ke seluruh kamarnya. Lalu, Putri mengambil parfum di atas meja dan menyemprotkannya asal ke seluruh ruangan. Setelah menyemprotkannya, bau itu langsung hilang seketika tanpa bekas, seakan sudah tersedot oleh wanginya parfum.

Pada suatu pagi, Putri pergi ke kampus karena ada kelas. Ia bertemu dengan Nadia yang sedang menyapu kamarnya. Nadia adalah penghuni kos di sebelah kiri kamar Putri. Jadi kamar Putri terletak di antara dua kamar, kamar sebelah kanannya kosong, begitu yang ia ketahui setelah beberapa hari tinggal di kos ini.

“Mau berangkat kuliah Put?” Putri menghentikan langkahnya.

“Iya nih, biasa…,” Putri memperhatikan seluruh badan Nadia yang terlihat pucat. “Kamu sakit Nad?”

Nadia menghentikan aktivitas menyapunya. “Keliatan banget ya? Emang sedikit nggak enak badan sih aku.”

“Kamu istirahat aja, pucet banget loh. Sampe keringetan gitu.” Baru kali ini ia melihat Nadia seperti itu dan membuat Putri cemas. “Cepat sembuh ya, aku pergi dulu.”

Nadia mengangguk pelan disertai senyumnya yang lemah. Sorot matanya seperti mengatakan sesuatu kepada Putri yang sudah menghilang dibalik pintu.

Di malam hari, Putri masih terjaga duduk di kursi belajarnya menyelesaikan beberapa tugas. Matanya menutup lalu terbuka, disertai dengan mulutnya yang menguap. Benar-benar sudah mengantuk berat dia. Ia melirik jam kecil di sebelahnya, sudah menunjukkan waktu tengah malam. Suasana pun seketika hening, tak terdengar suara apapun kecuali jarum jam yang terus berdetak. Putri bangkit menuju dapur untuk membuat secangkir kopi. Setelah selesai, ia kembali ke kamar dan melanjutkan tugasnya.

Beberapa menit kemudian, ia seperti mendengar sebuah kuku tangan sedang menggaruk-garuk dinding. Suaranya terdengar jelas di sebelah kanan kamarnya. Kamar yang ia ketahui tidak dihuni oleh siapapun di sana. Aneh, lantas suara siapakah itu? Rasa penasaran muncul dalam benak Putri, ia mendekatkan telinganya ke dinding.

Terkejutnya Putri, tidak hanya suara garukan dinding saja yang terdengar, tetapi juga suara menggeram.

Putri lebih fokus lagi mendengarkan suara-suara itu sampai ia mendengar sebuah barang yang sangat besar jatuh di kamar kosong itu. Spontan saja Putri langsung menjauh dari dinding. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia kembali duduk di meja belajar dan terkejut oleh suara ketukan di pintu kamarnya.

Seketika suara mengerikan tersebut hilang dan suasana kembali hening.

Putri membuka pintu dan ada Nadia yang berdiri disana sambil membawa gulingnya. Tentu saja masih dengan wajahnya yang semakin pucat, dan semakin terlihat kurus. Putri tidak tega melihatnya dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam kamarnya. Mungkin dengan minum beberapa obat akan membantu membuat Nadia terlihat sehat kembali.

“Kamu kayaknya beneran sakit deh.” Putri memberikan secangkir air putih dan obat untuk Nadia yang duduk di kasur,

“Aku boleh tidur disini nggak bareng kamu? Aku takut tidur sendirian, dia terus gangguin aku.”

“Dia siapa yang kamu maksud?” Putri mendudukkan diri di kursinya.

“Pokoknya dia serem deh, aku takut.” Putri menelan ludahnya dengan susah payah. Mendengar cerita Nadia di tengah malam begini membuat Putri merinding.

“Iya, kamu boleh tidur di sini malam ini.”

Malam berikutnya, Putri masih sibuk mengerjakan tugas kuliah. Dan lagi-lagi ia diganggu oleh suara aneh. Bedanya adalah kali ini ia mendengar seorang perempuan yang menangis terisak-isak. Ia kembali mendekatkan telinganya di sebelah kanan kamarnya, tetapi suara itu semakin mengecil. Lalu ia beralih ke sebelah kamar kirinya. Benar saja, suara tersebut berasal dari kamar Nadia.

Putri menghampiri Nadia yang berada di kamarnya, dan mendapati Nadia sedang duduk memeluk kedua kakinya dengan kepala tertunduk. Badan Nadia gemetar karena menangis hebat. Putri menghampiri Nadia dan berusaha menenangkannya, namun tangis Nadia semakin pecah dan membuat Putri bingung harus berbuat apa.

“Aku takut Put.” Akhirnya Nadia mau berbicara di tengah tangisannya. “Dia terus mendatangiku.”

Kening Putri berkerut. Dari kemarin Nadia ketakutan dengan seseorang yang ia sebut ‘dia’, tapi tidak ia jelaskan siapa dia yang dimaksud Nadia. “Nggak papa, ada aku tenang aja.” Putri mengelus punggung Nadia untuk menenangkannya.

“Kamu temenin aku disini ya.” Putri mengangguk dan duduk di sebelah Nadia.

Esoknya, Putri baru saja pulang kuliah ketika hari telah malam dan ia melirik pintu kamar Nadia yang sedikit terbuka. Ia berniat masuk untuk melihat keadaan Nadia yang sebelumnya menangis hebat tanpa Putri ketahui apa penyebabnya. Baru saja Putri memegang gagang pintu, suara Ibu Yani mengagetkannya.

“Maaf mba, mau ngapain ya?”

Putri menarik tangannya kembali. “Ini Bu, saya mau lihat keadaan Nadia.”

Ekspresi wajah Ibu Yani sedikit terkejut. “Nggak ada mba, kamar ini kosong.” Ibu Yani menutup kamar tersebut sekaligus menguncinya.

“Apakah penghuninya sudah pindah Bu?” tanya Putri dengan hati-hati.

“Kamar ini dari sejak mbak pindah itu kosong,” balas Ibu Yani dengan ketus lalu pergi meninggalkan Putri dengan berbagai pertanyaan. Lalu Nadia itu siapa? Apakah gadis itu adalah penyelinap rumah ini yang mengaku-ngaku menyewa kamar? Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepala Putri tanpa seorang pun bisa membantu menjawabnya. Hal itu membuat Putri sedikit merinding ketakutan.

Putri membuka kamarnya dan berusaha untuk tetap berpikiran positif. Namun dia sangat terkejut saat mendapati Nadia berdiri menghadap jendela membelakangi dirinya. Dengan perlahan, Putri berusaha mendekati Nadia sambil terus memanggil namanya. “Nadia…”

Nadia tidak bergeming sama sekali. Mata Putri membulat sempurna saat melihat pemandangan yang terjadi begitu saja. Kepala Nadia berputar 180 derajat  ke arah belakang tanpa tubuhnya bergerak sedikitpun. Wajahnya terlihat sangat seram dengan giginya yang semua adalah taring. Mulutnya menganga lebar seakan ingin menerkam tubuh Putri. Saat itu juga Putri berlari ke arah pintu untuk keluar.

Namun, pintunya tidak bisa dibuka sama sekali meskipun ia sudah memutar kuncinya berkali-kali. Sedangkan Nadia terus saja mendekat, matanya berwarna merah terang membuatnya menjadi tidak terlihat seperti manusia pada umumnya. Putri menggedor pintu kamarnya berharap ada yang berusaha membantunya keluar dari kamar.

“Tolong! Tolong!” Putri berteriak dan menangis dengan kencang.

Ia membalikkan badannya dan melihat wajah Nadia tepat berada di depannya. Lidahnya menjulur sangat panjang dan menjilat seluruh wajah Putri. Ia hanya pasrah dengan kejadian yang sedang menimpanya sampai akhirnya ia lemas dan jatuh tak sadarkan diri.

“Dek, bangun. Dek…” Suara seseorang telah membangunkan Putri bersamaan dengan aroma minyak yang mengganggu indera penciumannya.

Putri tersadar dan mendapati dirinya tergeletak di tanah. Ia seperti mendengar seseorang berbicara kepadanya tetapi tak ada satupun orang yang berada di sekitarnya. Lalu ia tersadar bahwa sekarang dirinya berada di taman. Memorinya atas kejadian itu kembali berputar di kepalanya. Ia melihat keadaan tubuhnya yang masih utuh tanpa luka sedikitpun.

Sebuah bau anyir menusuk hidungnya dengan tajam. Sebenarnya ia tidak ingin menerima risiko kejadian seram lagi, tapi bau ini benar- benar sangat mengganggu Putri. Ia lalu berjalan ke sumber bau itu berasal. Langkahnya berhenti di dapur kos tersebut. Lagi-lagi Putri dibuat terkejut karena ada darah segar yang berceceran di lantai dan bermuara ke dapur.

Segera ia masuk dan melihat bu Yani yang sudah tergeletak tak bernyawa dengan perut yang menganga lebar. Tidak hanya itu, di sebelahnya ada perempuan berambut panjang yang membelakangi Putri sedang asik memakan sesuatu. Seakan menyadari kehadiran Putri, perempuan itu menoleh dan menyeringai. Mulutnya penuh dengan jantung yang berusaha ia kunyah. Wajah serta bajunya berlumuran dengan darah.

Bukan. Dia bukan Nadia. Tapi dia memiliki wajah yang dua kali lebih seram dari Nadia. Putri mundur beberapa langkah sambil menutup lubang hidungnya yang sudah tidak kuat mencium aroma darah. Perempuan itu bangkit membawa golok mendekati Putri.

Tidak cukup jika Putri hanya berjalan pelan, dia akhirnya berteriak dan lari namun TAP! Golok tersebut sudah menancap ditubuhnya. Untuk kedua kalinya, Putri tak sadarkan diri. Di tengah ketidaksadarannya, ia merasa teramat sakit. Isi perutnya tercabik dan terkoyak oleh makhluk menyeramkan itu.

“Put, Putri… woy.” Putri tersadar dari pikirannya.

“Halo Putri?” Sifa terus saja memanggil-manggil Putri dengan menggoyangkan tubuhnya.

“Eh iya Sif?” Putri menengok ke arah Sifa yang sedang duduk di jok belakang motornya.

“Katanya mau cari kosan kok berhenti disini?” tanya Sifa yang heran karena melihat Putri terus-terusan menatap rumah kosong yang banyak rumput-rumput tinggi di sekitarnya.

“Oh iya ya ayo.”

“Haduh daritadi kek, serem tau berhenti di rumah hantu gini.” Sifa menatap rumah tersebut dengan cemas. Putri lalu menghidupkan mesin motornya, pergi mencari ke tempat lain.

Tanpa sepengetahuan Putri dan Sifa, di balik jendela rumah kosong tersebut ada sepasang mata menyeramkan menatap tajam kepergian dua gadis tersebut. Mata itu menanti siapa saja yang siap untuk datang ke rumah itu dan berniat tinggal di sana.

 

Penulis : Nisrina Dwi Cahyani

Mahasiswa Aktif Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Muhammadiyah Surakarta

 

Editor : Annisavira Pratiwi