Realitas Pendidikan Islam PTM: Masih Sebatas Formalitas

0
214

(Tulisan ini pernah dimuat di Pabelan Edisi Jurnal XIX edisi tahun 2003 dan ditulis ulang oleh Alvanza Adikara Jagaddhita)

Pendidikan, tak ubahnya sebuah investasi bagi tiap individu dalam perkembangan sumber daya manusia. Perkembangan yang diharapkan terbentuk dari pendidikan berupa moral dan kepribadian tiap insan untuk kesejahteraan umat bangsa.

Penerus harapan bangsa memiliki pribadi berakhlak mulia dan berkualitas, karena itulah pendidikan cukup penting bagi proses pembangunan nasional agar turut serta dalam pembentukan ekonomi masa depan negara.

Sembilan tahun wajib belajar diterapkan pemerintah untuk masyarakat, itu salah satu upaya dalam pencarian generasi penerus harapan bangsa. Namun seringkali pemerintah lupa akan aspek penting dalam proses pencariannya; yaitu aspek moral dan kepribadian independen dalam keberpihakan.

Ketertinggalan bangsa Indonesia dalam bidang pendidikan, salah satunya karena masih rendahnya keberpihakan pemerintah sebagai pencetus, penggagas, dan pengayom masyarakat terhadap bidang pendidikan. Kelemahan ini menunjukkan ketidakberhasilan pemerintah dalam meningkatkan kualitas bangsanya.

Sistem pendidikan di Indonesia sendiri lebih menitikberatkan orientasi pada materialistik, yang tentu akan berpengaruh pada pembentukan moral dan kepribadian peserta didiknya. Pendidikan seperti itulah yang kini menciptakan individu materialis, yang mengukur segala sesuatu hanya berdasarkan untung dan rugi.

Sistem Pendidikan Sekuler: Jauh dari Cerminan Indonesia Bangsa Religius

Pada tahun 2003, saat Adi Sasono menjabat sebagai Ketua Ikatan Cendikiawan Muslim (ICMI), ia memandang bahwa pendidikan yang berlangsung pada negeri ini berkiblat pada pendidikan barat yang sekuler dan mementingkan unsur material yang jelas bertentangan dengan nilai-nilai religius bangsa.

Menurutnya, sistem sekuler yang diterapkan di Indonesia berdampak pada paradigma akan ideologi materialistik, dan imbasnya menghasilkan produk pendidikan yang menyeret manusia menjadi hedonis, sekularistik, dan materialistik.

Penelitian Political and Economic Risk Consultanci (PERC) menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara dengan hukum terkacau dan terkorup se-Asia, bahkan kondisinya melebihi parahnya keadaan pada rezim Orde Baru. Tampak pula dari sisi sosial kultural, pendidikan Indonesia krisis konseptual di tengah perubahan sosial yang sulit terprediksi.

Sistem pendidikan yang dilakukan Indonesia tidak mengacu pada nilai-nilai religius, menimbulkan krisis multi dimensi berdampak mempengaruhi pemikiran tiap individu. Pemikiran non pendidikan seperti Ekonomi dan Politik turut menginterpretasi dunia, yang akhirnya munculnya rasa ketidakpuasan pada pendidikan konvensional dan formal yang ada.

Berawal dari ketidakpuasan itu kemudian memaksa rakyat menciptakan pendidikan tanpa batas, pendidikan yang membebaskan, dan pendidikan kaum tertindas yang tujuannya untuk memanusiakan manusia.

Berbagai gagasan-gagasan baru muncul dan mengkritisi konflik dasar pendidikan (umum) konsep tentang kecerdasan spiritual dan emosional yang telah mengubah dasar pendidikan fundamental.

Pendidikan Islam Sebagai Tawaran Pembentukan Moral

Menurut Faqih (2002), pendidikan Islam adalah salah satu alternatif selain pendidikan konvensional, karena sebagaimana kita ketahui, Islam erat dengan nilai-nilai ilahiyah dan saat diterapkan pada pendidikan di zaman yang pas, Islam akan melaju bak gerakan spiritual sebagai pembentukan moral.

Islam sendiri merupakan sebuah agama yang diyakini mampu dengan baik mengajarkan manusia untuk memiliki moral dan etika yang terpuji, sebab itu paradigma akan pendidikan Islam muncul karena mampu untuk membentuk moral peserta didik terutama untuk meneruskan bangsa.

Paradigma pendidikan Islam diharapkan memberi nuansa baru bagi peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia dan mengembangkan segala aspek di bidang pendidikan. Terdapat dua alasan atas munculnya paradigma itu;

Pertama karena Islam sebagai pandangan hidup, hal itu diyakini karena Islam dibawakan oleh pendidik umat manusia, Nabi Muhammad SAW.

Kedua yaitu ilmu-ilmu yang Islam bawa sesuai dengan norma-norma tertentu. Hal itulah yang menjadikan Islam cocok dijadikan sentral norma dalam pembentukan moral.

Ketiga pendidikan sekuler di Indonesia memandang segala permasalahan dalam aspek pendidikan dapat diselesaikan dengan teori-teori (filsafat) yang ada.

Realitas Pendidikan Islam Pada Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM)

Sejarah adanya pendidikan Islam diawali semenjak berdirinya Muhammadiyah di Indonesia. Faktor berdiri itu disebabkan kecemasan K.H. Ahmad Dahlan pada sistem pendidikan sekuler negara Indonesia.

Beragam sekolah dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang ada terlihat menjanjikan karena tujuannya sendiri adalah etos kerja yang disebut tajdid (modernisasi-red), yang telah tersebar luas di seluruh penjuru bangsa.

Organisasi Muhammadiyah berupaya menampilkan citra pendidikan Islam sekaligus peningkatan keislaman umatnya. Terbilang cukup berkembang pesat, lantaran begitu besarnya organisasi Muhammadiyah itu sendiri.

Namun pada kenyataannya, saat ini pendidikan yang diberikan oleh PTM tidak begitu berarti, bak sebuah formalisme semata sebagai keharusan organisatoris.

Emha Ainun Najib menuturkan bahwa unsur-unsur sekuler pada pendidikan PTM terlihat secara jelas, misal saja para peserta didiknya yang berpenampilan kurang Islami dengan pakaian yang cenderung sexy.

Hal itu dikatakan Muhammadiyah dengan istilah Islam Sensual; yaitu berpakaian tertutup bak agamis, namun memperlihatkan lekuk tubuhnya secara kentara. Alhasil, nilai-nilai keislaman yang diharapkan Muhammadiyah tidak tertanam pada perilaku keseharian mahasiswa lantaran pendidikannya yang cenderung bersifat doktrinal.

Bisa dibilang pendidikan pada PTM belum berorientasi pada nilai-nilai dasar keislaman dengan semangat tajdid dan tidak sepenuhnya konsisten pada perjuangan dan kepribadian Muhammadiyah.

Agus Sumiyanto berpandangan ilmu yang diajar masih berupa ilmu pengetahuan, ide, metode dan buku teks pengetahuan barat yang sekularistik. Padahal itu cenderung menghasilkan sikap individualistis skeptis dan menolak hal non indrawi yang bersifat anthroposentris.

Maka sudah sepatutnya Muhammadiyah membenahi sistem pendidikan yang merujuk pada intelektualisme Islam sebagai esensi pendidikan tinggi, dengan berbagai cara pembenahan yang mengarah pada hilangnya dikotomi antara pendidikan Islam dan pendidikan sekuler.

Terlebih lagi, Muhammadiyah juga harus mampu membenahi kepribadian peserta didiknya dalam keseharian sebagai mahasiswa PTM. Dengan begitu terlihatlah cahaya penerangan yang jelas ke depannya, tidak terjebak atas keberhasilan masa lampau. Pendidikan yang diberikan PTM diharapkan mampu menempati posisi alternatif di tengah pergumulan yang sedang terjadi pada dunia pendidikan.

Editor              : Annisavira Pratiwi