Terlelap Pada Dialog Sastra yang Jelita

0
185

“Manusia hidup sambil membayangkan bahwa suatu hari sebuah ‘surat’ panggilan akan datang dan membawakan kebahagiaan. Sehingga, menunggu bisa menjelma menjadi siksaan; namun tidak bagi mereka yang punya cinta. (Surat Dari Raja dan Anyelir Merah, 2003)

Malam itu, saya sedang berada dalam sebuah ruangan dengan penuh ketenangan. Duduk bersila sambil menghadap ke layar gawai dengan sedikit menikmati suasana sejuk seusai hujan menerpa. Waktu terus berlalu dan diri mulai merasa jenuh dengan keadaan dan suasana yang ada. Sekitar lima menit kalang-kabut menyusuri ruangan-ruangan lain. Seketika mata tertuju pada jajaran buku yang kurang tertata rapi, tetapi terjaga dengan baik semua kondisi buku yang ada.

Beberapa menit memperhatikan serangkaian buku yang tergeletak di lantai dingin, mata ini tertuju pada buku dengan ukuran kecil. Dengan sampul buku yang merupakan paparan wajah penulis, Rabindranath Tagore, dengan ekspresi terlihat murung dan seram. Kurang menarik dari segi tampilan, sedangkan cover akan menjadi daya tarik visual pertama, ketika kita akan meminang buku. Buku itu berjudul Surat Dari Raja dan Anyelir Merah, diterbitkan oleh Bentang Media pada Juli 2003.

Dalam sampul belakang buku, tertuliskan mengenai pengarang, ia adalah Tagore, seorang penulis besar India yang mencuat di peta sastra dunia. Bagi dunia ia adalah pembawa suara kebudayaan spiritual India, sedangkan bagi India ia adalah legenda hidup. Tagore dikenal sebagai penyair, cerpenis, novelis, penulis drama, musisi, dan guru bangsa. Banyak sastrawan terkenal mengakui dirinya dan karya-karyanya. Penghargaan terbesarnya adalah nobel sastra yang diterimanya pada tahun 1913.

Sebuah buku tipis, dengan halaman tak lebih dari 150. Tipe buku yang sekali duduk saja, tiap-tiap halamannya akan habis terbaca. Lembar demi lembar terbuka dan membuat saya terkejut, baru pertama kali menemui sebuah buku yang isinya hanyalah dialog antar tiap tokoh yang silih berganti. Belum sempat membaca, muncul paradigma akan pembaca-pembaca lain buku ini, “Apakah orang-orang tidak bosan hanya membaca dialog antar tokoh ini?”. Namun rasa penasaran lebih membuat diri ingin jauh membaca dan menikmati buku ini.

Cerita diawali dengan kisah tokoh Amal Dutta, seorang anak kecil yang menderita penyakit, entah penyakit apa itu. Berperan bagai tokoh protagonis, Amal selalu berusaha ceria, duduk berjongkok dekat jendela rumah yang menjadi satu-satunya jendela yang terbuka lebar. Memperhatikan orang-orang berlalu-lalang melewati jendela tempat Amal singgah, sesekali memanggil mereka hanya sekadar untuk berbincang. Amal berkeinginan sederhana; hanya dapat keluar dari rumah dan melihat begitu indahnya dunia.

Penulis cukup mahir dalam merangkai kata-kata dalam untaian dialog sederhana, cukup mudah untuk dicerna, dipahami, dan dimengerti. Berbentuk dialog-dialog antara Amal dengan tokoh lainnya; Madhav, Sudha, Dokter, Tukang Susu, Penjaga, Gaffer, Kepala Desa, Bentara Raja, Tabis Istana. Penulis membawa pembaca dalam rangkaian perbincangan, seolah mengerti apa yang dirasakan oleh Amal, dan menarik empati pembaca akan keadaan Amal.

Pelbagai kalimat berisi narasi indah, dibalut dengan diksi yang familiar, membuat saya sebagai pembaca terkesan begitu saja. Tak muluk-muluk karya sastra harus mendayu-dayu, kisah Surat Dari Raja melantunkan kalimat-kalimatnya, bak penyair sedang membacakan puisi terindahnya. Ditutup dengan alur cerita yang jelas, ketika Tabib Istana mendatangi rumah Madhav, berupaya dalam kesembuhan Amal. Lalu, dibubuhi dialog menyentuh antara Tabib dengan Sudha. “Sudha: maukah kau bisikkan satu kata dariku untuknya (Amal), Tabib: Apa yang harus kukatakan?, Sudha: katakan padanya Sudha tidak melupakan dia.”

Tak luput, kekurangan dalam panjangnya narasi yang ada kian nampak jelas. Penulis seperti lebih membawakan naskah drama. Melalui bentuk tulisan sastra, penulis mencoba memainkan imajinasi pembaca. Tiap kalimat memang nampak indah, tetapi terus begitu membuat pembaca jenuh akan kata-kata. Banyaknya diksi baru, membuat tiap orang yang membaca buku ini kian kesal karena harus berkali-kali membuka layar gawai demi memahami untaian kalimat yang disuguhkan. Jika saja penulis lebih memperhatikan penempatan diksi asing, mungkin buku ini akan membawa pembaca dalam alur yang pas.

Tagore mengajarkan saya, bagaimana dapat menuangkan pikiran dalam buah kata-kata indah. Melalui tulisan narasi dialog, Tagore mampu menciptakan cerita berkelanjutan dengan alur yang cukup runtut. Kisah-kisah yang dituliskan pun bak dongeng sebelum tidur, dibacakan oleh ibu dengan nada lembut penghantar mimpi. Hingga akhir saya membaca buku ini, dialog sastra yang jelita membuat tiap pembaca dalam sekilat waktu terlelap begitu saja.

Penulis            : Alvanza Adikara Jagaddhita

Mahasiswa Aktif Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta

 

Editor             : Afitasari Mulyafi