Mengenal Penderita Autis Lebih Jauh

0
155

Judul Film: Innocent Witness (증인)

Sutradara: Lee Han

Penulis: Moon Ji-Won, Lee Han

Produser: Lee Joon-Woo, Kim Woo-Jae, Kim Jae-Joong

Sinematografer: Lee Tae-Yoon

Tanggal Rilis: 13 Februari 2019

Durasi: 129 menit

Genre: Hukum dan Drama

Distributor: Lotte Entertainment

Negara: Korea Selatan

 

Seorang pengacara bernama Yang Soon-Ho (Jung Woo-Sung), diberi tugas untuk membela seorang terdakwa kasus pembunuhan. Dia meyakini bahwa terdakwa bukanlah pelakunya. Awalnya saya sempat tersentuh dengan bagaimana Soon Ho mempercayai Oh Mi Ran (Yum Hye Ran), sang terdakwa kasus pembunuhan majikannya, saat tidak ada orang lain pun yang mempercayainya.

Juga bagaimana Mi Ran sangat berharap dan memohon pada Soon Ho untuk membantunya meski dia tidak punya uang untuk membayar jasa Soon Ho. Kasus ini diperkuat oleh satu-satunya saksi yang mengaku melihat pembunuhan, yaitu Im Ji-Woo (Kim Hyang-Gi), tetapi saksi ini masih berumur 15 tahun dan juga menderita autis.

Mulai dari sinilah, kita bisa melihat bagaimana usaha Soon Ho dalam mencoba berkomunikasi dan masuk ke dalam dunia Ji Woo demi mengumpulkan bukti-bukti. Belum lagi kesulitan yang dihadapi Ji Woo karena kondisi spesialnya yang membuat orang-orang di persidangan memandang remeh dan cenderung meragukan kesaksiannya.

Terlepas dari semua adegan yang membuat kita bersimpati, atau bahkan kebingungan dalam menebak siapa yang sebenarnya bersalah, film ini juga menyuguhkan adegan-adegan manis yang bisa membuat penonton tersenyum. Misalnya pada jalinan persahabatan antara Soon Ho dan Ji Woo yang perlahan mulai terbentuk, serta kisah Soon Ho dengan teman perempuannya yang bernama Soo In (Song Yoon A), seorang janda beranak satu.

Di awal cerita menurut saya masih terasa membosankan. Ditambah lagi, awalnya saya pikir dari segi cerita akan biasa saja, hanya seputar pemecahan kasus pembunuhan untuk menentukan apakah sang terdakwa memang pelaku atau hanya dugaan yang salah saja. Namun ternyata dari film ini banyak sekali moral-moral yang disampaikan, baik secara langsung atau berupa kiasan saja dan itu yang membuat saya suka dengan film ini.

Film ini memang tidak terlalu fokus dengan pembuktian bahwa sang terdakwa bukanlah pelaku, tapi lebih difokuskan dengan bagaimana si pengacara berusaha mengambil hati sang anak agar mau berbicara dengannya. Dari sinilah kita melihat atau diajarkan bagaimana caranya untuk berteman dengan mereka dan bagaimana caranya agar mereka bisa percaya dengan kita.

Kim Ji Woo dalam film Innocent Witness diketahui mengidap suatu spektrum autisme yang disebut sindrom Asperger. Pada penderita sindrom Asperger, mereka cerdas dan mahir dalam bahasa, tetapi tampak canggung saat berkomunikasi atau berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya.

Pengidap Asperger tidak memiliki kesulitan dalam menyerap informasi. Mereka bahkan justru menunjukkan kemampuan kecerdasan di atas rata-rata, cepat menguasai bahasa dan kosakata baru, serta menghafal berbagai hal dengan detail. Pengidap Asperger juga memiliki beberapa gejala umum.

Dalam film, ciri yang paling mencolok dari Ji Woo adalah gangguan komunikasi dan interaksi sosial serta indra pendengaran yang sangat peka. Penonton tentu tidak akan lupa bagaimana mencengangkannya ketika Ji Woo mampu menebak jumlah dan mengulang kata-kata yang dibisikkan petugas pengadilan dengan cepat dan sangat akurat.

Namun tidak hanya terhadap kebisingan, pengidap Asperger juga ada yang merasa terganggu saat melihat warna tertentu, mengonsumsi makanan atau minuman yang rasanya kuat, ataupun menyentuh tekstur asing.

Moral yang saya dapatkan yaitu film ini telah mengajak penonton untuk melihat segala sesuatu dari sisi seorang anak yang autis dan genius. Mungkin selama ini kita tidak terlalu peduli dengan anak-anak autis yang ada di sekitar kita, mungkin juga malah ada yang memandang sebelah mata tentang mereka.

Terlihat dari cuplikan film ini bagaimana sang anak selalu dirundung oleh teman sekolahnya bahkan disakiti teman satu-satunya yang dia miliki. Dari film ini pun saya jadi belajar, untuk tidak meremehkan anak-anak dengan kebutuhan khusus. Mereka memang punya dunia sendiri tetapi bukan berarti mereka layak untuk dihina karena berbeda dengan kita.

Meskipun sedikit disinggung, di sini juga ditunjukkan tentang perjuangan orang tua. Sepertinya kalau kita sudah semakin dewasa, kita cenderung untuk lebih fokus dengan diri kita sendiri dan cenderung mengabaikan orang tua, mungkin tidak semua orang, tetapi saya rasa sebagian besar orang seperti itu.

Terkadang kita suka marah saja dengan kepedulian orang tua kita tanpa sadar kalau itu bentuk kasih sayang mereka. Perjuangan hebat juga dialami oleh ibu yang anaknya mengidap autis. Bagaimana dia berusaha untuk selalu melindungi si anak, mengajarkan anak, dan selalu memikirkan kebahagiaan si anak.

Selain itu juga film ini menunjukkan hati nurani manusia. Soon-Ho yang bekerja sebagai pengacara terdakwa tentu harus membela terdakwa agar tidak berubah status menjadi pelaku terlepas apakah si terdakwa memang melakukan pembunuhan atau tidak. Di dunia nyata pun memang sudah tugas pengacara untuk selalu membela terdakwa.

Namun, menurut penulis, adalah hal yang salah apabila si pengacara membela terdakwa agar bisa bebas dari hukumannya padahal memang dia melakukan kejahatan. Di sini kita bisa melihat jelas bagaimana Soon-Ho bergelut dengan hatinya sendiri untuk mengungkapkan kebenaran atau profesional dalam pekerjaannya karena ternyata kalau pengacara tidak membela kliennya maka akan ada hukumannya sendiri untuk si pengacara.

Menjadi pengacara tentu bukan pekerjaan yang mudah. Film Innocent Witness membuat saya berpikir bahwa semua pengacara barangkali akan melalui proses dilema tersebut, ketika mereka mulai menyadari mereka berdiri di pihak yang keliru namun tetap harus ‘membenarkan’.

Banyak orang yang menganggap pengacara adalah pekerjaan yang kotor karena seringkali meloloskan pelaku pelanggaran dari hukuman yang sepatutnya. Namun tidak banyak yang memahami bahwa seorang pengacara juga telah mengalami banyak hal yang barangkali membuatnya resah, tertekan, bingung, dan bersalah.

Namun untunglah, di akhir film, Soo Han berhasil membalik keadaan karena lebih memilih hati nuraninya dan seluruh kebenaran pun terungkap dengan drastis. Meskipun artinya Soo Han melanggar aturan pengacara, setidaknya dia bisa menunjukkan pada Ji Woo bahwa masih ada pengacara yang memiliki hati yang baik.

Jujur saja, di situ saya merasa terharu bahkan meneteskan air mata, karena melihat kedekatan Soo Han dan Ji Woo. Saya pikir, film ini layak untuk ditonton karena jalan cerita yang baik, adegan yang nano-nano; manis, lucu, pahit, sedih, dan kesal, plot twist yang patut disambut pelototan mata, hingga makna yang dapat dipetik darinya tak heran membuat film ini menjadi favorit banyak orang, termasuk saya sendiri.

Terlebih memberikan kita wawasan tentang istilah-istilah hukum serta mengetahui bagaimana proses pada sebuah persidangan. Selain itu kita bisa lebih memahami tentang dunia autisme yang ternyata menakjubkan.

 

Penulis : Nisrina Dwi Cahyani

Mahasiswa Prodi PPKn Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta

 

Editor  : Afitasari Mulyafi