Burjo, Coffee Shop, dan Budaya Nongkrong Mahasiswa

0
299

pabelan-online.com – Semakin menjamurnya Burjo dan Coffee Shop di lingkungan kampus seolah menyiratkan mahasiswa sebagai objek pasar. Namun terdapat perbedaan mencolok antara keduanya, baik dari segi harga maupun menu yang disediakan.

Di kalangan mahasiswa, Burjo tidak asing lagi di telinga. Beberapa di antara mereka menjadikan Burjo sebagai tempat makan kesukaan. Seolah mengerti kantong pas-pasan mahasiswa, harganya terbilang cukup terjangkau. Di Yogya, setidaknya ada dua alasan mengapa Burjo disukai oleh mahasiswa, yakni aksesibilitas dan gaya hidup, seperti dikutip dari Tirto.id.

Namun akhir-akhir ini, mulai kita jumpai beberapa coffee shop yang bermunculan di sekitar kampus. Hal tersebut dapat menjadi pilihan lain selain ke Burjo. Berbagai macam coffee shop menawarkan konsep dari yang sederhana hingga modern.

Pada awalnya, minum kopi sudah menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia sejak zaman dahulu kala. Pasalnya, Indonesia adalah salah satu penghasil biji kopi terbaik di dunia. Beberapa daerah yang terkenal dengan produksi biji kopinya adalah Aceh, Lampung, Medan, Jawa, Ternate, Sulawesi, dan Flores. Di Indonesia, usia penikmat kopi hampir tidak pandang usia, mulai dari remaja hingga orang dewasa bahkan manula, sehingga tidak terhitung jumlahnya.

Elly Herlyana dalam jurnalnya yang berjudul Fenomena Coffee Shop Sebagai Gejala Gaya Hidup Baru Kaum Muda mengatakan, hal ini dapat dilihat dari maraknya fenomena menjamurnya coffee shop yang bergeser makna. Kini orang pergi ke coffee shop tidak hanya untuk mencicipi kopi khas coffee shop itu sendiri, melainkan untuk sekedar nongkrong dan bersantai dengan kelompoknya.

Berkaitan dengan itu, Tirto.id menggambarkan kehidupan mahasiswa tak bisa dilepaskan dari budaya nongkrong. Entah hanya mengobrol ringan, berdiskusi hal-hal berat ala kaum intelektual, mengerjakan tugas, hingga berkencan.

Didukung sebuah artikel dalam majalah remaja, Seventeen, menemukan bahwa ngopi sedang menjadi tren remaja Indonesia saat ini, khususnya di kota besar seperti Jakarta. “Dari angket yang kami adakan, 60% pembaca Seventeen yang berusia 16 hingga 22 tahun senang ke mal dan nongkrong di kafe. Ketika di kafe, kopi adalah hal utama yang mereka cari,” kata Tenik Hartono, Pemimpin Redaksi Majalah Seventeen Indonesia kepada warta Kota.

Gaya hidup nongkrong di coffee shop pada kalangan mahasiswa bisa terlihat dari aktivitas yang mereka lakukan ketika nongkrong. Aktivitas tersebut antara lain menikmati suasana coffee shop, mengerjakan tugas, membaca buku, rapat, bercengkrama dengan teman, bermain kartu, atau bermain musik. Pemilihan waktu nongkrong biasanya di malam hari, lantaran hasrat untuk berkumpul dan berinteraksi dengan teman-teman dapat dicapai pada waktu itu.

Salah satu pemilik coffee shop di sekitar UMS bernama Avianditta Akatama, memaparkan alasannya membuka coffee shop karena ingin memberikan prasarana bagi mahasiswa. Berawal dari kesulitan Avianditta dan temannya untuk mencari tempat nongkrong, akhirnya mereka memutuskan membuka coffee shop agar memudahkan mahasiswa jika ingin sekadar nongkrong atau mengerjakan tugas.

Persaingan Sehat Antara Burjo vs Coffee Shop

Tim Pabelan Online melakukan riset kecil-kecilan dengan delapan orang responden mahasiswa yang condong ke coffee shop. Alasan mereka menyambangi coffee shop tidak jauh-jauh dari mengerjakan tugas dan nongkrong bersama teman. Rata-rata dari mereka duduk mulai dari satu sampai empat jam dalam satu hari.

Jika mengerjakan tugas ataupun pertemuan, mayoritas mahasiswa lebih nyaman di coffee shop daripada di Burjo. Menurut mereka, Burjo lebih cocok sebagai tempat untuk mengobrol santai, karena tempatnya yang memang ramai pengunjung.

Mahasiswa yang memilih coffee shop, dalam sebulan mereka bisa datang dua sampai empat kali. Harga minuman yang tersedia beragam, dari yang mulai 15 ribu-an hingga 20 ribu-an untuk satu gelasnya. Bagi keuangan mahasiswa, itu akan memboroskan uang bulanan.

Maka dari itu, mahasiswa mendatangi coffe shop ini rata-rata hanya ketika mereka sedang memiliki uang lebih. Kira-kira itu yang dipikirkan Avianditta, selaku salah satu pemilik coffe shop. Setidaknya, mahasiswa jadi memiliki tempat yang nyaman untuk mengerjakan tugas, atau digunakan untuk pertemuan.

Jaja Miharja, salah satu pemilik Burjo menyadari persaingannya dengan coffee shop. Meskipun ada mahasiswa yang lebih nyaman berada di coffee shop, ia tetap optimis bahwa Burjo akan tetap selalu ramai dikunjungi. Burjo juga memiliki daya tarik tersendiri bagi mahasiswa.

Di coffee shop, umumnya menunya hanya sedikit. Selain itu untuk menikmati satu minuman, kita harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Lain halnya di Burjo, disediakan berbagai macam menu makanan dan minuman dengan harga terjangkau, sehingga mahasiswa tidak perlu mengeluarkan uang sebanyak saat merogoh kocek untuk secangkir kopi di coffee shop.

Mahasiswa yang mengunjungi Burjo biasanya tidak akan duduk terlalu lama. Mereka hanya menikmati makanan, lalu pergi. Jarang sekali mahasiswa mengandalkan Burjo sebagai tempat mereka nongkrong berlama-lama. Jika ada yang betah berlama-lama di Burjo, biasanya mereka bermain game. Itu pun jika Burjo tersebut memiliki fasilitas seperti wifi. Tidak semua Burjo memiliki fasilitas seperti wifi.

Meskipun begitu, Burjo selalu ramai dikunjungi oleh berbagai kalangan orang, karena biasanya juga Burjo tempatnya lebih strategis dan dekat aksesnya dengan mahasiswa sehingga mudah dikunjungi. Salah satu dari mereka juga ada yang sering ke coffee shop, alasannya antara kebutuhan makan dan nongkrong untuk minum kopi berbeda.

Meskipun uang yang dihabiskan antara coffee shop mirip, kisaran belasan ribu, tentu saja keduanya memiliki perbedaan yang terlihat. Di Burjo, orang-orang bisa menikmati minuman hanya dengan merogoh kocek di bawah 15 ribu. Sedangkan di coffee shop, paling tidak ketika datang sudah menyiapkan uang sebesar 20 ribu, karena harganya lebih mahal daripada di Burjo.

Dari sini dapat kita tarik kesimpulan, bahwa stereotip yang mengatakan bahwa Burjo adalah untuk kaum mahasiswa ‘proletar’ dan coffee shop untuk kaum mahasiswa yang ‘borjuis’ tidak sepenuhnya benar.

Mereka dapat memilih Burjo ketika ingin banyak pilihan makanan, maupun coffee shop ketika ingin ngopi. Dibalik alasan merogoh kocek lebih dalam untuk secangkir kopi, bisa ditilik dari proses pembuatan kopi yang tidak mudah.

Kembali ke tujuan masing-masing, mahasiswa sekarang punya persepsi sendiri mengenai coffee shop dan harga bukan masalah karena mungkin nongkrong di coffee shop merupakan bagian dari gaya hidup. Semua bergantung kebutuhan dan gaya hidup masing-masing mahasiswa.

 

Reporter       : Naufal Abdurrahman Musa dan M. Jabal Noor

Penulis          : Nisrina Dwi Cahyani

Editor             : Annisavira Pratiwi