Trauma Pribadi, Seorang Dosen Tak Suka Mahasiswinya Bercadar

0
481

UMS, pabelan-online.com – Setiap orang memiliki preferensi dan ketidaksukaan masing-masing mengenai sesuatu. Namun alangkah bijak untuk menjadikan hal itu tetap pada koridornya, tanpa menyinggung pihak lain. Dalam kasus ini, seperti dosen yang menyinggung ketidaksukaannya pada mahasiswi bercadar di suatu kelas.

Fenomena hijrah marak terjadi di era milenial. Dalam postingan yang ditulis Yuniar (2019) berjudul Gerakan Hijrah Milenial di Tengah Pusaran Pilpres 2019, Berpengaruh? dikatakan bahwa hijrah berubah arti menjadi makna budaya, individu yang menjauhi diri dari perilaku buruk agar memperoleh gaya hidup yang lebih islami. Begitu pendapat seorang Dosen Universitas Hasyim Asy’ari di Jawa Timur, Muhammad As’ad.

Keputusan berhijrah terjadi pada kalangan kelas menengah, khususnya mahasiswa karena berpendidikan dan secara ekonomi lebih kaya dibandingkan masyarakat desa.  Tak terkecuali di UMS, salah satu penggambaran fenomena ini terlihat dari perubahan pakaian-pakaian yang mencirikan sebagai umat Islam, khususnya pada perempuan yang terlihat berpakaian sesuai dengan syariat Islam atau setidaknya menutup aurat.

Seorang mahasiswa yang bernama Melati (bukan nama sebenarnya), mengeluhkan seorang dosennya yang sering mengutarakan ketidaksukaannya mengenai cadar dengan berlebihan di dalam kelas. Melati tidak merasa dirugikan dari pernyataan Endang.

Namun di setiap pertemuan kuliah, beliau selalu membukanya dengan ideologi sampai menyinggung masalah cadar dan tidak cocoknya di Indonesia. Ia mengatakan, “Dulu ada mahasiswanya bercadar yang dipinang seseorang, lalu suaminya tersebut seperti merakit bom dan akhirnya tertangkap”. Hal tersebut membuat mahasiswanya tidak lanjut kuliah lagi.

Melati menegaskan, Endang mengatakan hal tersebut memang serius tidak suka. Bahkan mahasiswa bercadar yang diajar beliau di kelas seperti dijelek-jelekkan. Melati juga pernah berdiskusi dengan mahasiswa lainnya mengenai hal tersebut, dikiranya semuanya kontra dengan masalah ini.

Baca Juga Duduk Perkara Penambahan SKS Ilegal di FEB UMS

Tapi ada juga mahasiswa yang pro akan hal itu, seperti memaklumi beliau memang begitu. “Kenapa harus dilarang pemakaian cadar, pada umumnya sudah diketahui bahwa cadar merupakan sunnah Rasulullah, jadi setiap orang berhak menunaikannya atau tidak,” tukasnya saat ditemui tim Pabelan Online, Selasa (10/12/2019).

Sama seperti Melati, mahasiswa bernama Mawar (bukan nama sebenarnya), mengaku ada perbedaan pandangan dengan Endang mengenai tata cara berpakaian seorang muslimah.

Di dalam kelas, Endang sering mengatakan, “Kita itu bangsa Indonesia harus menghormati Wali Songo dan leluhur tanpa menambah budaya dari luar yang tidak jelas ke Indonesia. Kemudian kita harus menghormati para pahlawan dengan memakai pakaian seperti pada umumnya”.

Hal ini langsung menjurus ke cadar, jenggot, dan hal Islami lainnya yang berbau Arab, apalagi kondisi di Arab saat ini sedang tidak stabil.

Mawar menambahkan bahwa apa yang dilakukan Endang di dalam kelas tersebut mengenai preferensi pribadinya terkesan tidak bercanda dan mengintimidasi. Ditambah lagi perasaannya sedih dengan hal tersebut karena tidak sesuai, akan tetapi ia tetap percaya diri memakai cadar karena memiliki pedoman yang kuat dalam mempertahankan pandangannya.

“Kita sama-sama belajar di UMS, apalagi ini universitas Islam dan Islam juga tahu perbedaan pandangan mengenai cadar, sebaiknya saling menghargai saja jangan langsung menjurus ke cover,” keluhnya, Selasa (10/12/2019).

Selaku Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Bahasa Inggris, Endang Fauziati menengarai bahwa ada skema besar, ibaratnya seperti “From Abraham To Armageddon” yang dituliskan oleh pendeta dari Amerika, John Hagee.

Jika segala sesuatu ingin dibuat seperti zaman Nabi dahulu, tidak bisa. Zaman Rasulullah SAW memiliki budaya dan konteks sendiri yang berbeda dengan sekarang.

Menurutnya, Indonesia memiliki background berbeda-beda, maka Islam yang tepat di Indonesia adalah Islam Rahmatan Lil Alamin. Namun keterlibatannya bekerja sebagai pengajar di perguruan tinggi berlandaskan Muhammadiyah, membuatnya terdorong untuk mendukung ideologi Muhammadiyah. Sedangkan yang menggunakan cadar atau berjenggot sebenarnya tidak cocok dengan Muhammadiyah.

“Kalau mau seperti jenggotan itu tidak apa-apa, tetapi berperilaku sewajarnya saja, jangan sampai arahnya ke ‘eksklusif’, itu berbahaya,” imbuhnya, Selasa (10/12/2019).

Penggunaan frasa eksklusif yang dimaksud Endang ialah intoleran yang  menjurus ke arah radikal. Endang mengonfirmasi bahwa hal tersebut selalu ia sampaikan juga pada saat mata kuliahnya. Ia merasa jadi seorang ibu yang selalu khawatir pada anak-anaknya karena bercadar itu bisa menjurus ke eksklusif.

Yang menjadi ketakutannya, ada kelompok-kelompok khusus yang bertujuan untuk melamar dari kelompok yang tidak jelas. “Tetangga ada yang terkena hal seperti ini, yang ujungnya masuk penjara karena mengikuti aliran Islam yang eksklusif, seperti membuat bom,” tuturnya.

Karena trauma pribadinya, ia sebagai dosen sering mengungkapkan betapa bahayanya kelompok tersebut di hadapan anak didiknya. Ia mengaku tidak akan mengancam nilai, melainkan sekadar mengingatkan berdasarkan pengalaman. “Jadi kita harus terbuka pandangan ke segala arah jangan seperti kacamata kuda yang hanya lurus,” tambahnya.

Reporter : Panji Lumintang

Editor : Annisavira Pratiwi