BEM UMS Usung Tema Fundamental dan Agama Untuk Bedah Buku

0
393

UMS, pabelan-online.com – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar bedah buku “Hijrah dari Radikal Kepada Moderat”. Mengusung tema yang masih hangat dan banyak diperdebatkan di kalangan masyarakat, yakni isu-isu tentang radikal.

Bedah buku yang bertajuk “Sebuah Rekaman Perubahan Pemikiran dan Sikap” ini bersifat terbuka untuk mahasiswa umum. Acara yang bertempat di Auditorium Muhammad Djazman tersebut menghadirkan Haris Amir Falah, penulis buku “Hijrah dari Radikal Kepada Moderat” serta pembicara lainnya.

Buku karya Haris Amir Falah ini memancing banyak kontroversi, karena kata radikal dan moderat masih banyak diperdebatkan di kalangan masyarakat. Haris mengungkapkan, jika isi buku yang ia tulis berisi tentang rekam jejaknya dari kelas dua Sekolah Menengah Atas (SMA). “Seperti saat mempelajari Islam, berinteraksi dengan berbagai organisasi dan gerakan yang ada di Indonesia,” ungkapnya, Selasa (18/2/2020).

Pengamat pergerakan Islam, Amir Mahmud mengungkapkan bahwa buku ini mengajarkan tentang bukti kesadaran tradisi intelektual, berkaitan dengan pengetahuan dan wawasan yang diutarakan oleh penulis. Dalam buku tersebut juga dijelaskan tentang seorang aparat penegak hukum, Detasemen Khusus (densus) yang terkesan seram pun ternyata mampu menyadarkan seorang Haris Amir Falah. “Sehingga dapat kembali kepada pemahaman moderat,” jelasnya, Selasa (18/2/2020).

Ketua Dewan Syariah, Mu’inudinillah Basri memaparkan mengenai pembicaraan tentang radikal yang ditujukan pada kaum muslimin, menurutnya itu sangat membingungkan karena kaum muslimin yang dituduh radikal. Radikal yang dimaksud di sini, yakni kasar, keras, memaksakan kehendak, dan mengkafirkan, padahal itu semua dilarang. “Yang dimaksudkan radikal itu kalau kembali kepada akidah, kita memang harus radikal,” jelasnya, Selasa (18/2/2020).

Danang Maulana, Presiden BEM UMS mengatakan, jika acara bedah buku tersebut berfungsi sebagai tempat bertukar pikiran dan gagasan, sehingga dapat membangun dialektika (komunikasi dua arah –red) dan bisa lebih memahami tentang radikal.

Danang juga mengutarakan alasan mengapa mengangkat tema seputar radikal, karena hal tersebut masih hangat diperbincangkan di kalangan masyarakat. Ia menambahkan, memang dari pihak BEM U sendiri ingin mengangkat tema tentang fundamental dan agama, supaya beda dari biasanya yang sering mengangkat tema tentang ideologinya marxisme dan sosialis. “Seperti gerakan komunisme,” terangnya pada tim pabelan online, Selasa (18/2/2020).

Salah satu peserta bedah buku, Laila Al Khusna mengatakan jika acara tersebut sangat menarik, karena menghadirkan penulisnya secara langsung. Ia berharap, acara seperti ini sering diadakan karena dapat menambah pengetahuan dan wawasan mahasiswa mengenai radikal dan moderat. “Juga dapat memperbaiki pemahaman yang keliru tentang radikal dan moderat,” ungkapnya, Selasa (18/02/2020).

 

Repoter                       : Widia Arum Pratiwi

Editor                          : Mulyani Adi Astutiatmaja