Bukti Peduli Isu Perempuan, IMM Averroes UMS Gelar Diskusi Keperempuanan

0
185

UMS, pabelan-online.com – Dalam rangka memperingati Milad ke-56, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Averroes Fakultas Teknik (FT) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengadakan diskusi keperempuanan. Diskusi ini juga sebagai bukti peduli terhadap isu keperempuanan.

Diskusi yang diadakan untuk memperingati Milad IMM Averroes ini bertempat di Ruang Seminar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), pada Selasa 3 Maret 2020. IMM Averroes mengangkat tema pembahasan yang bertajuk “Polemik di Balik Wajah Perempuan”.

Diskusi tersebut menghadirkan dua pembicara, pertama Luxy Nabela Farez selaku Kepala Bidang (Kabid) Immawati cabang Surakarta periode 2017-2018 dan merupakan founder of Pusat Kajian Perempuan Solo (PUKAPS). Pembicara kedua, yakni Ninin Karlina selaku Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Sukoharjo dan Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Jawa Tengah.

Dalam diskusi tersebut, Luxy menekankan pada fenomena hijrah yang dirasanya berbeda. Salah satu makna penting hijrah adalah proses dan dampak perubahan yang dihasilkan, bukan sebatas pakaian atau sekadar identitas.

Ia juga menyinggung mengenai perbedaan antara jilbab, khimar, dan hijab. Menurutnya, ketiga benda tersebut tidak bisa diartikan menjadi satu kesatuan.

Baca JugaInternational Womens Day Jadi Ajang Lomba Orasi Kesetaraan Gender

Secara bahasa,  jilbab berasal dari kata jalaba yang berarti menutupkan sesuatu dengan sesuatu yang lain di atasnya atau pakaian terusan yang longgar (gamis), sedangkan khimar merupakan penutup kepala bagi perempuan. Dan yang terakhir, hijab berasal dari bahasa hajaba yang berati pembatas, sesuatu yang menutupi atau tirai.

Di akhir diskusi, Luxy menjelaskan bahwa jilbab itu sebagai kebebasan berekspresi bagi seorang perempuan, mereka bisa memilih mana yang akan ditutupi. Di sisi lain, jilbab juga membantu perempuan lepas dari standar kecantikan ala barbie Eropa.

“Bercadar bukan teroris, tidak berjilbab bukan pelacur,” serunya, Selasa (3/3/2020).

Ketua Umum IMM Averroes, Tyan Prasetyo Fendy mengatakan, bahwa diskusi keperempuanan yang diangkat kali ini sebagai bukti peduli IMM Averroes terhadap isu keperempuanan. Ia juga berpendapat, bahwa di masa sekarang marak kasus mengenai kekerasan terhadap perempuan yang tenggelam oleh isu-isu agama.

“Yang di mana, esensi isu agama sendiri masih kurang jika dibandingkan dengan isu kekerasan terhadap perempuan,” ungkapnya, Selasa (3/3/2020).

Salah satu peserta diskusi, Alfi yang merupakan mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) mengaku senang saat mengikuti diskusi tersebut. Alfi berharap, bahwa acara diskusi seperti itu sering diadakan.

Selain itu, Alfi juga memberi saran untuk diskusi selanjutnya agar IMM Averroes dapat mengundang pembicara dari luar IMM. “Biar nanti semakin banyak pemahaman lainnya,”ucap Alfi, Selasa(3/3/2020).

Reporter         : Wike Tri Wulandari                                                                  

Editor             : Mulyani Adi Astutiatmaja