Melalui Hotline, Mahasiswa Kritik Pelaksanaan Kuliah Daring Selama Pandemi

0
346

UMS, pabelan-online.com – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) sediakan layanan hotline. Layanan yang telah dimulai sejak 12 April 2020 tersebut berguna sebagai wadah informasi, aspirasi, dan aduan mahasiswa mengenai kebijakan kampus selama pandemi Corona Virus Disease-19 (Covid-19), yang di mana banyak kegiatan dilakukan secara daring.

Pandemi Covid-19 sampai saat ini belum kunjung membaik, bahkan bisa dibilang semakin parah. Fenomena yang sama sekali tidak diprediksi ini menjadikan hampir lumpuhnya kegiatan sosial di Indonesia, begitu pula dengan UMS. UMS juga telah menetapkan kejadian ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB), yang berdampak pada diperpanjangnya kuliah daring melalui Surat Edaran yang dikeluarkan tanggal 16 April 2020 lalu.

Hotline yang dikelola oleh DPM-U dan juga BEM-U ini memiliki tujuan untuk menyampaikan informasi, aspirasi, dan aduan mahasiswa mengenai kebijakan kampus, yang nantinya akan diajukan ke rektor secara langsung melalui audiensi dengan platform, yakni aplikasi Zoom. Naufal Abiyyu, selaku Komisi Advokasi DPM UMS menyatakan, bahwa pengajuan hotline ke rekorat dilakukan secara fleksibel, mengingat janji antara audience dengan rekorat, serta  pengumpulan data yang tidak bisa ditargetkan waktunya.

Sebagai perwakilan dari DPM-U, Naufal Abiyyu menuturkan bahwa pengaduan melalui hotline sendiri bisa dilakukan melalui Whatsapp dengan menghubungi Contact Person (CP) yang tersedia di brosur daring. Naufal berharap, agar kebijakan kampus selama pandemi ini bisa dikawal oleh mahasiswa sendiri.

Baca JugaOptimalkan Pemahaman dalam Belajar Melalui E-Learning

Namun, sejauh ini penyerapan aspirasi melalui hotline belum bisa berjalan secara maksimal. Ia juga menyatakan, bahwa pihaknya tengah mengkaji form survey untuk memaksimalkan penyerapan informasi, aspirasi, dan aduan mahasiswa. “Tanggapan melalui layanan hotline jika dibandingkan dengan keseluruhan mahasiswa masih sangat minim dan belum cukup mencerminkan aspirasi seluruh mahasiswa,” ujar Abiyyu dalam room chat Whatsapp ketika diwawancarai oleh tim Pabelan Online, Jumat (17/4/2020).

Sementara itu, hasil dari penyerapan aspirasi mahasiswa melalui hotline sejauh ini yang paling banyak adalah aduan tentang perkuliahan daring yang dikeluhkan mahasiswa dan  biaya Sumbangan Pembangunan Pendidikan (SPP). Selaras dengan hasil penyerapan,  Riska Setyowati, salah satu mahasisiwi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) mengatakan, bahwa perkuliahan daring yang selama ini berjalan hanya sekadar tugas-tugas saja, sebagai pengganti absen. Padahal menurutnya, hal tersebut justru menambah beban pikiran bagi mahasiswa.

Ia berharap kepada rektor untuk memberi arahan kepada dosen, agar jangan terlalu banyak memberi tugas. Riska juga mengatakan, jika arahan untuk perkuliahan dilakukan secara daring, maka lakukanlah melalui aplikasi tatap muka yang sudah tersedia. “Namun, di sisi lain saya setuju dengan kebijakan agar perkuliahan daring diperpanjang hingga satu semester, mengingat situasi yang tak kunjung membaik,” ujar Riska kepada tim Pabelan Online ketika diwawancarai melaui Whatsapp, Sabtu (18/4/2020).

Reporter         : Wike Tri Wulandari

Editor             : Naufal Abdurrahman Musa