Cinta dan yang Datang Pergi

0
265

Sejak Huni Angkat Kaki

Teruntuk dinding kamar yang lalu sunyi

Setelah sembah yang meminta sekujurku terutuhi, lagi.

 

Kemana lukisanmu?

Tidak satu saja ‘tuk temaniku.

 

Ke manakah sisa popcorn dan adegan romansa yang kita putar melulu?

Tidak secuil saja remahannya di piamaku.

 

Teruntuk ranjang yang lalu tak berderit

Sebab, aku tak tidur lagi

Lama sekali.

 

Hanya dalam gagasku,

Lilin kecil seterang dulu,

Di sisi rapal paling merunduk dan yang paling sibuk,

Tuhan? Kau dengar aku?

Aku yang mana?

Yang di sebelah lilin, menggambar bayang, meraba sayang, mendambanya

Sangkal relung melubuk,

Lubuk memantai,

Melandai sebagai puncak permintaan

Kepada deru derita, mendada-mengepala

Dangkal palung kata, menyuarakannya.

 

Sejak Huni,

Angkat kaki.

 

Tinggi sekali angkat kaki,

Bahkan jejaknya yang semestinya di atas debu,

Setelah saja tak dapat lagi kutemu

Ke mana jejaknya yang seharusnya berbekas untuk lantai kayu yang belum sempat kutiup atau kusapu?

 

Aku masih menangis di dekat pintu,

Mungkin di perjalanan dia ingat aku,

Mungkin berlari ke jalan pulang dan menangis menggerutu,

Mungkin merindu sepengap aku mengurung diriku, siapa tahu.

 

Jika Huni,

Datang lagi.

 

Akan kusambut dengan dekap tanpa kalimat,

Biar napasku mengukurnya,

Aku lukis kembali dinding kosong dengan warna yang lebih dia suka,

Atau kuganti ranjang tua dengan yang lebih leluasa.

 

Tepat

Seseorang mengajariku membaca

Seseorang mengajariku melihat

Seseorang mengajariku memiliki

Seseorang mengajariku peduli

Seseorang mengajariku kehilangan sesuatu untuk mendapatkan hal lain

 

Seseorang itu mengajariku bersuara

Seseorang itu mengajariku gema dan tangga nada

Seseorang itu mengajariku mengenal

Seseorang itu mengajariku mengenang

Seseorang itu mengajari aku yang terlalu dingin dan tidak mudah percaya menjadi lebih hangat sampai menaruh kepercayaan.

 

Seseorang yang sama mengajariku menerima

Seseorang yang sama mengajariku menolak

Seseorang yang sama mengajariku pendirian

Seseorang yang sama mengajariku bagaimana bergantung

Seseorang yang sama membuatku jatuh cinta bukan hanya kepada dirinya tetapi kepada seisi dunia.

 

Seseorang telah memberiku hal sebanyak itu

Tetapi dia hanya mengambil satu;

Dia mengambil hatiku.

 

Bola mataku gelap menuju hitam

Dan rabun tinggi

Tetapi aku menuju mata angin dengan benderang mata batin

Yang pendarnya memandang ke seluruh isi bumi.

 

Kejutan langkahku bergerak kepada temuan waktu sebagai wujudmu yang kuperkirakan segera menjadi mata baru

Yang akan melengkapi palet warna

Dalam siluetku

Akankah menjadi sebimbing cahaya yang menghina kegelapan?

 

Aku mengetukmu lebih dari seribu kali

Dan kamu menjawab ketukanku dengan seribu lebih konotasi

Karena aku seorang pujangga

Telah kuterjemahkan melalui ragam mimpi

Lalu kubangkitkan melalui aneka bangun.

 

Tafsir-tafsirku yang akan menjadi catatan dalam perjalanan

Tentang imbalan-imbalan

Tangan yang bertepuk

Janji yang berpeluk

Juga terima kasih serta tentang kasih yang selalu saling menerima.

 

Penyair           : Tivana Firsta Haryono Putri

Mahasiswa aktif Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Adab dan Bahasa, IAIN Surakarta

 Editor              : M. Sukma Aji