Twenty One Chavez

0
304

Ambisi besar Daniel Chavez selama 28 tahun membangun sebuah portal mimpi pada akhirnya terwujud. Generasi pertama dari Twenty One Chavez berhasil diuji coba di laboratoriumnya, Chavez Tech.

Dua hari sebelum peresmiannya, Alexander “Medusa” Loudon, kepala dari Badan Intelijen Noimosyni atau N-Sy secara rahasia menawarkan kontrak kerja bernilai jutaan dollar untuk membeli komputer tersebut, sekaligus bermaksud menjadikan Daniel Chavez sebagai operator utamanya.

Medusa menilai bahwa komputer ini dapat membantu berbagai penyelidikan, seperti halnya memberikan kode dan bahkan melakukan rapat rencana kerja dalam bentuk Lucid Dream dengan anggotanya yang tengah berada di lapangan.

Daniel Chavez menyetujui kontrak yang menjanjikan ini, sebab ia merasa komputernya akan sangat menolong banyak orang. Kesepakatan ini juga meredakan ketakutannya, ia sempat cemas berpikir bagaimana jika suatu saat nanti penemuannya jatuh ke tangan yang salah.

Kemudian atas kesepakatan bersama, mereka mengumumkan kepada publik bahwa Twenty One Chavez telah mengalami kegagalan medan dalam uji coba terakhir dan dimusnahkan. Setelah memastikan publik percaya dengan pemberitaan tersebut, Chavez dan Medusa mengangkut seperangkat komputer itu secara rahasia ke markas besar N-Sy.

Jonathan “Werewolf” Jules merupakan agen N-Sy yang pertama kali melakukan penyelidikan dengan bantuan dari Twenty One Chavez. Kala itu ia diberikan misi untuk menelusuri motif dan otak pembunuhan seorang dokter sekaligus salah satu orang yang sedang berusaha memformulasikan suatu vaksin virus mematikan yang menyerang beberapa negara bagian Amerika setahun terakhir.

Dokter tersebut bernama Damien Cyrille yang ditemukan tercabik dalam kondisi mengenaskan dengan jantung di luar tubuh. Hal yang lebih membuat janggal kasus ini ialah sang supir pribadi, sidik jarinya ditemukan pada barang bukti, juga ditemukan tewas dengan luka tembak pada malam yang sama, bahkan belum diketahui siapa penembaknya.

Kematian ini diduga berkaitan dengan penemuan vaksinnya, muncul berbagai spekulasi dari berbagai pihak. Werewolf memulai penyamaran dengan menjadi supir pribadi baru untuk keluarga Cyrille dan memperkenalkan diri sebagai Robert Brown. Cyrille meninggalkan seorang istri serta anak perempuan, Eva Cyrille, yang usianya berkisar lima tahun lebih muda dari Werewolf.

Suatu malam, Werewolf melihat Eva bersama kekasihnya datang. Pada mulanya ia melihat tiada yang janggal dari keduanya, sampai akhirnya tanpa sengaja ia mendengar percakapan diantara mereka mengenai pernikahan.

“Mengapa kau tidak pernah percaya pada pernikahan?” tanya Eva.

“Pernikahan hanyalah selembar kertas,” ujar pria itu sembari menenggak minuman.

“Mario, kau pernah bilang bahwa kau akan berikan semua yang kumau, bagaimana jika aku benar-benar menginginkan selembar kertas itu?” Mario mendengus kesal.

“Kau! Sama saja dengan Ayahmu! Selalu saja bicara itu!” Eva tampak ketakutan, dia menenangkan Mario karena takut Ibunya mendengar perdebatan mereka.

“Aku pulang saja,” Mario beranjak dari sofa, sedangkan Eva mencoba mencegah kekasihnya pergi.

Hal mengejutkan sekaligus mengganggu bagi Werewolf, ia melihat dari kejauhan Mario meludah ke arah Eva. Ia pun merasa iba, kemudian mendekati Eva setelah Mario keluar dari rumah. Werewolf memberikan selembar tisu kepada Eva kemudian bertanya.

“Apakah dia selalu seperti itu?” Eva mengangguk, tampak ketakutan yang sangat dalam di kedua matanya.

“Maaf jika lancang. Apa dia sering memaksamu menuruti kemauannya?”

Eva membuang pandangannya ke sudut ruangan “Ya. Hubungan ini pun sebenarnya penuh dengan keterpaksaan. Aku tidak berani memutuskannya, sebab ia selalu mengancam akan menyakitiku. Selain itu, aku terlanjur mencintainya.”

“Mengapa tidak lapor saja ke polisi?”

Dia juga mengancam akan membunuhku jika aku melakukannya.”

Werewolf tercengang. Kecurigaannya jatuh kepada Mario, ia seakan menyisihkan terlebih dahulu segala dugaan yang telah dirumuskan oleh N-Sy. Keterkaitan antara kematian sang dokter dengan formula vaksin yang belum sempat dipublikasikannya.

Dugaan atas ketidakterkaitan antara kedua hal tersebut, ialah setelah ia mengingat perkataan seorang rekan kerjanya yang tidak setuju dengan dugaan ini. Mengingat beberapa dokter lain yang merumuskan vaksin untuk virus serupa tidak ada yang mengalami teror maupun kejanggalan.

Werewolf melihat ke arah jam dinding, waktu menunjukkan pukul 10.45, artinya kurang lebih lima belas menit lagi ia akan mendapatkan Lucid Dream, ia berencana melaporkan kejadian apa saja yang dia dengar dan lihat malam itu tentang Mario.

Dalam Lucid Dream-nya, ia ungkapkan beberapa dugaan yang masuk akal bahwa Mario memiliki kemungkinan besar terlibat dalam masalah pembunuhan ini. Kemudian, Werewolf menerima perintah untuk mengumpulkan bukti lebih dalam.

Hari demi hari berlalu, beberapa kejanggalan fisik Mario mulai dikenali oleh Werewolf, diantaranya adalah kerusakan seluruh sidik jarinya serta bekas-bekas rekonstruksi yang masih tampak pada beberapa bagian di wajah.

Werewolf mendapati kejanggalan itu saat ia berkesempatan duduk serta berbincang cukup lama dengan Mario. Werewolf sempat menanyakan mengapa jari-jarinya rusak, ia berdalih bahwa kerusakan itu didapatnya dalam sebuah kecelakaan kerja.

Malam kesekian kali untuk Lucid Dream. Dengan membawa fakta tersebut Werewolf mengandarkan bahwa kemungkinan Mario memiliki kejahatan lain sehingga ia sengaja menghancurkan sidik jari dan merekonstruksi wajahnya guna memalsukan identitas.

Namun, dalam kondisi yang sangat rumit ini tiba-tiba portal mimpi Twenty One Chavez mengalami kebocoran sehingga Lucid Dream yang diproses oleh Daniel Chavez justru tertangkap oleh Eva.

Sedangkan Werewolf terlempar ke dalam mimpi orang lain secara acak, bahkan dengan kesalahan ini, Werewolf mengalami sebuah tidur panjang – mengalami koma secara misterius. Eva dan Ibunya membawa Werewolf ke rumah sakit, sedangkan Daniel Chavez maupun Noimosyni belum menyadari keanehan terjadi sehingga mereka tidak menyadari bahwa Werewolf telah terlempar dari kursi mimpinya.

Malam berikutnya, Eva tertidur. Ia mengalami sebuah mimpi di mana ia tengah melihat sekelompok lelaki membicarakan kekasihnya. Ia mendengar bahwa kecurigaan Werewolf Jules mengenai rusaknya sidik jari Mario serta adanya bekas rekonstruksi wajah pria itu merupakan suatu hal yang besar.

Salah satu pria dalam perbincangan tersebut telah mengungkap bahwa Mario merupakan seorang mesin pembunuh yang kabur dari Perancis sejak delapan tahun silam, bernama asli Benjamin Beaufort, ia juga telah memalsukan usianya menjadi enam tahun lebih muda dalam kartu-kartu identitas barunya.

Segala pembunuhan yang dilakukan oleh Beaufort pada kasus-kasus sebelumnya selalu memiliki cara yang nyaris sama dengan cara pembunuhan Tuan Cyrille, maka dugaan kuat semakin mengerucut – semakin mengarah kepada Mario. Hanya saja apa motif pembunuhan Tuan Cyrille belum dapat diketahui.

Eva tak dapat berinteraksi dengan kelima pria itu, hanya dapat terdiam mendengarkan kemudian terbangun sesaat setelah perbincangan usai. Eva mengambil segelas air putih di meja kecil sisi ranjangnya, tubuhnya gemetar, ia sungguh ketakutan apabila segala yang didengarnya dalam mimpi itu adalah benar. Ia bertanya-tanya dalam hatinya siapakah Werewolf Jules yang dimaksud dalam perbincangan ini.

Pada keesokan harinya, Eva menemui kekasihnya di sebuah bar tak jauh dari tempat ia bekerja. Mario turun dari mobil, Eva menatapnya sembari menelan ludah, ia baru saja menyadari sebuah bekas luka tidak biasa di wajah kekasihnya itu. Kemudian mengingat pembicaraannya, ia melihat dan mendengar dalam mimpinya mengenai rekonstruksi wajah yang dilakukan oleh seorang mesin pembunuh dari Perancis.

“Mengapa kau melihatku seperti itu?” Mario hendak mengecup Eva tetapi Eva memalingkan wajahnya.

“Apa masalahmu?” Mario mengerutkan dahinya.

“Tidak apa-apa. Hanya saja semalam aku mimpi aneh, aku jadi kurang nyaman,” Eva menunjukkan air muka yang penuh ketakutan.

“Kau mimpi apa?” tanya Mario.

“Apa kau mengenal Benjamin Beaufort?” Eva menatap lekat-lekat wajah pria kekar di hadapannya.

“Darimana kau tahu nama itu?”

Dengan penuh keberanian Eva bertanya kembali. “Sayang, dari mana kau dapat luka ini? Mengapa aku tidak pernah menyadari jika ada bekas luka kecil di wajahmu? Darimana kau dapat semua luka di telapak tanganmu?”

Mario mulai menampakkan amarah, tentu saja, rahasia besar yang selama bertahun-tahun yang telah ia simpan secara tiba-tiba saja diketahui oleh seorang gadis cengeng dan lugu di hadapannya. Mario menarik tubuh Eva ke arah tubuhnya, dengan nada ancaman dan kesangaran wajah aslinya yang tak dapat tersembunyi, sekalipun telah ia tutupi dengan seribu kepalsuan.

“Eva, katakan padaku siapa yang memberitahumu semua omong kosong ini?”

“Kau pembunuh ayahku?!” Eva tak mampu lagi membendung emosi dan air matanya.

Mario kalap. Ditusuknya perut Eva dengan sebuah pisau lipat yang lama tersembunyi di balik jaket kulitnya. Eva jatuh ke tanah, Mario segera masuk ke dalam mobilnya kemudian pergi meninggalkan bar itu dengan kecepatan tinggi.

Mendengar kabar penusukan yang terjadi para N-Sy sangat terkejut, lebih lagi saat mereka tahu bahwa Werewolf telah terjebak dalam tidur dan mengalami koma akibat kesalahan ini. Chavez dan para asistennya segera memutus segala power source dari komputernya agar segala mimpi yang menjebak Werewolf terhenti, sehingga Werewolf tersadar dari tidurnya.

Tak lama setelah sadarnya Werewolf dari tidur panjangnya, Medusa mendapatkan kabar bahwa Beaufort telah berhasil tertangkap dalam upayanya melarikan diri. Rupanya Beaufort membunuh Tuan Cyrille karena dendam, sebab selama Tuan Cyrille hidup ia tak pernah bisa mengambil hati dan restunya.

Beaufort menghipnotis supir pribadi Tuan Cyrille, kemudian meminta pria malang itu menghabisi serta mengambil jantung Tuan Cyrille dari jasadnya saat berada di rumah sendirian pada suatu malam, lalu menembak kepala sang supir dari kejauhan setelah perintahnya tertunaikan. Werewolf tersenyum “sebuah kesalahan sistem telah menunjukkan suatu kebenaran kepada seorang gadis yang telah hidup bersama seorang pria pengangguran yang merenggut hidup ayahnya sendiri”.

Penulis            : Tivana Firsta Haryono Putri

Mahasiswa aktif Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Adab dan Bahasa, IAIN Surakarta

Editor             : M. Sukma Aji