BEM dan DPM UMS Tuai Kritikan, BEM-U: Sudah Biasa dalam Dunia Demokrasi

0
250

UMS, pabelan-online.com – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) akhir-akhir ini menjadi sorotan mahasiswa UMS. Lantaran dinilai kurang mengepalai arus pergerakan mahasiswa.

Hal tersebut bisa dilihat dari cuitan di akun Twitter @MahasiswaUMS, yang mengatakan agar pihak eksekutif dan legislatif mahasiswa aktif dalam mengepalai arus pergerakan mahasiswa.

Selaku Presiden BEM-U, Danang Maulana menganggap bahwa hal yang dilakukan oleh mahasiswa UMS tersebut wajar adanya. Dalam wawancaranya via WhatsApp, Danang menyebutkan bahwa BEM-U sebagai lembaga politik di tingkat universitas sangat wajar menerima kritikan dari mahasiswa, baik positif maupun negatif.

“Tidak ada sindiran dalam hal ini, itu hanya kritikan dan biasa dalam dunia demokrasi,” tuturnya, Kamis (4/6/2020).

Baca Juga: KMTI UMS Gelar Kajian Online, Pentingnya Memilih Sahabat Sejati Dunia dan Akhirat

Salah satu mahasiswa Teknik UMS, Naufal Abdillah mengatakan bahwa kritik di lingkungan mahasiswa sudah biasa dan sah-sah saja dilakukan, apalagi saat ini wadah penyampaian pendapat sudah cukup luas dan mudah diakses.

Terkait permasalahan yang ada, menurutnya wajar jika mahasiswa menuntut BEM dan DPM karena mereka adalah perwakilan dari seluruh mahasiswa UMS. “Jika ada permasalahan terkait kampus, diharapkan BEM dan DPM dapat merespons dengan baik,” ujarnya, Kamis (4/6/2020).

Ia menambahkan, bahwa masalah ini seperti dua sisi koin, di satu sisi mahasiswa membutuhkan kebijakan kampus yang tidak merugikan mahasiswa dan dapat kuliah dengan lancar. Kemudian di sisi lain, BEM dan DPM juga membutuhkan waktu untuk mengambil keputusan, apabila terburu-buru dalam mengambil keputusan, bisa saja merugikan banyak orang.

“Jadi, yang bisa dilakukan saat ini adalah terus bersabar dan menyampaikan pendapat dengan cara yang bijak,” tambahnya saat diwawancarai oleh Tim Pabelan Online via WhatsApp.

Reporter         : Panji Lumintang

Editor             : Rifqah