Psikosomatik Publik Akibat Buruknya Komunikasi

0
83

Mungkin selama ini kita tidak menyadari bahwa komunikasi yang buruk adalah awal dari psikosomatik. Tak terkecuali di era pandemi sekarang ini, yang mana informasi terlihat simpang siur. Begitu yang terlintas di pikiran saya ketika mengikuti perkembangan berita seputar Corona Virus Disease-19 (Covid-19).

Adanya pandemi ini bukan hanya tentang persoalan medis, tetapi juga persoalan sosiolagis, karena kondisi ini melibatkan massa dalam jumlah yang besar dan tentunya tak terlepas dari komunikasi. Lihat saja komunikasi yang buruk justru menyebabkan kaos (kekacauan-red) di tengah masyarakat dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini.

Dalam situasi seperti ini, komunikasi yang baik sangat membantu masyarakat untuk terus berjuang melawan Covid-19. Penyebaran informasi di tengah masyarakat sendiri harus selalu diperhatikan.

Dalam hal ini, mahasiswa mempunyai peran penting sebagai Agent of Change, yakni sebagai penggerak sebuah perubahan, sehingga mahasiswa dapat memilah informasi mana saja yang pantas untuk disabarkan di media sosial mereka, karena nantinya akan menjadi santapan masyarakat.

Informasi yang beredar di tengah masyarakat, baik di televisi maupun media sosial sangat mempengaruhi psikis masyarakat. Apalagi di era pandemi, Informasi yang buruk dapat menimbulkan adanya psikosomatik publik. Menurut informasi yang saya baca di beberapa jurnal yang menjelaskan bahwa psikosomatik adalah gangguan atau penyakit fisik, yang mana proses psikologis di sini memilki peranan penting.

Menurut Kellner (1994), istilah psikosomatik adalah menunjukkan hubungan antara jiwa dan badan. Jika proses psikologi  memilki perananan penting, maka proses komunikasi dan informasi pun memilki peranan sentral dalam hal ini. Komunikasi dan penyebaran informasi yang buruk sangat memberikan dampak terhadap kesehatan masyarakat dan kemungkinan dapat menimbulkan psikosomatik publik.

Adanya gangguan psikosomatik akibat komunikasi yang buruk pernah saya alami dan seorang teman saya yang kebetulan juga mahasiwa Fakultas Komunikasi dan Informatika (FKI). Gangguan psikosomatik tersebut yaitu merasakan adanya hubungan kesehatan tubuh dengan informasi yang didapatkan dari media sosial.

Misalnya mengenai gejala Covid-19 yang secara terus-menerus diberitakan, seperti deman dan sesak napas. Secara tidak langsung, tubuh kami merespons dengan gejala-gejala yang sama, entah itu demam ataupun sesak napas. Alhasil, hal ini menimbulkan adanya pemikiran yang merujuk pada Covid-19.

Selaku mahasiswi Ilmu Komunikasi yang cukup banyak menyelami dunia seputar komunikasi dan informasi, saya merasa bahwa salah satu komponen penting sebagai bentuk pencegahan Covid-19 dan penyakit lainnya di tengah pandemi ini adalah komunikasi. Komunikasi adalah awal dari terjalinnya sebuah hubungan yang baik, hubungan antara manusia maupun hubungan antara psikis dan fisik.

Komunikasi yang baik bisa kita lakukan sebagai langkah mengurangi psikomatik publik, seperti memberikan informasi yang searah agar tidak menimbulkan perbedaan pemahaman di tengah masyarakat, memberikan motivasi di media sosial, dan tetap memberikan energi positif melalui komunikasi intrapersonal, yakni komunikasi yang baik dengan diri kita sendiri.

Sehingga hal-hal baik yang mesti kita masifkan di lingkungan masyarakat sebagai Agent of Control ialah ikut serta dalam menebarkan kebaikan di tengah sulitnya keadaan yang dihadapi oleh masyarakat. Mari kita counter berita negatif dengan berita positif.

Penulis            : Alfrisa Renuat

Mahasiswa Aktif Fakultas Komunikasi dan Informatika Universitas Muhammadiyah Surakarta

Editor              : Rifqah