Ospek: Potret Kekerasan dan Permasalahan Pendidikan

0
95

(Tulisan ini pernah dimuat di Tabloid Pabelan Pos Edisi 114 tahun 2017 dan ditulis ulang oleh Aprilia Aryani Dewi Kurniawati)

Belakangan ini, masa awal penyambutan mahasiswa baru kembali dibuka. Kegiatan penyambutan mahasiswa baru, atau lebih dikenal dengan istilah orientasi studi dan pengenalan kampus (ospek), merupakan kegiatan rutin tahunan yang disiapkan institusi pendidikan perguruan tinggi untuk menyambut mahasiswa baru.

Adanya kegiatan ospek diharapkan dapat menyiapkan mental dan memberikan gambaran seperti apa kehidupan kampus kepada para mahasiswa baru guna mempercepat adaptasi lingkungan baru yang tentu masih asing bagi mereka.

Namun, mirisnya beberapa pelaksanaan kegiatan ospek justru menyebabkan terseretnya beberapa nama institusi pendidikan ke dalam kasus kekerasan pada mahasiswa baru saat kegiatan ospek berlangsung.

Sebagai contohnya, seperti dilansir oleh ruaitv, orang tua dari mahasiswa Fakultas Tekhnik UNTAN (Univeritas Tanjung Pura), Pontianak, merasa keberatan saat membahas penyegelan ruang kuliah yang berdampak pada pemberhentian sementara aktivitas perkuliahan selama sepekan. Hal ini dipicu oleh tindak kekerasan yang dialami sejumlah mahasiswa baru saat ospek atau di sana dikenal dengan sebutan PAWANG (Pengenalan Wawasan Angkatan) pada, Sabtu (1/10/2016).

Saat itu, suasana yang awalnya masih kondusif berubah seketika menjadi riuh setelah para orang tua melihat beberapa potret tindak kekerasan yang dilakukan senior pada mahasiswa baru ketika acara PAWANG berlangsung. Para senior yang merasa keberatan atas keputusan rektorat akhirnya mengambil tindakan untuk menyegel tempat belajar-mengajar dengan palang-palang.

Salah satu orangtua mahasiswa baru, Eni, disela-sela acara temu orang tua memaparkan bahwa banyak mahasiswa yang diperlakukan secara tidak manusiawi, mengalami tindakan intimidasi oleh para senior, dan menerima pelecehan verbal sehingga tak sedikit mahasiswa baru yang mengalami trauma.

Karena hal itulah, akhirnya para orang tua geram dan menuntut pihak fakultas dapat bersikap tegas dalam menyikapi hal ini. “Sekarang Pak, keselamatan anak kita. Dia kuliah dengan penuh semangat, bukan dengan penuh ketakutan. Sekarang mau kuliah penuh ketakutan,” tuturnya dengan berapi-api.

Hal itu juga yang membuat munculnya indikasi bahwa banyak mahasiswa yang sudah menjadi korban dan banyaknya kisah yang berakhir dengan luka traumatik di hati mahasiswa yang sudah menjalani ospek. Menanggapi hal ini,  Pembina Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Marching Band Universitas Sebelas Maret (UNS), Tundjung W.Sutirto mengungkapkan, bahwa cara untuk mengatasi hal ini bagi pihak universitas adalah dengan menerapkan fungsi pengawasan, fungsi kontrol, dan fungsi pembinaan kepada mahasiswa.

Kegiatan orientasi mahasiswa baru di institusi perguruan tinggi telah memiliki ketentuan dan regulasi yang mengatur, juga di dalam peraturan tersebut tidak mengarah pada tindak kekerasan yang dilakukan oleh mahasiswa senior kepada mahasiswa junior.

Tundjung menjelaskan, tindakan kekerasan ini sudah sepatutnya ditindak tegas dengan memberikan sanksi sesuai aturan pada para pelaku kekerasan. Baik atau tidaknya sanksi tersebut tergantung pada regulasi yang diterapkan seperti apa. “Kalau tindakan itu baiknya seperti apa, ya, tindakan yang dilakukan terkait norma hukum. Apakah nanti akan diberikan sanksi, diberikan nonaktif sekian semester, dibebaskan dari semua hal atau istilahnya dikeluarkan dari kampus,” paparnya.

Masih menurut pandangannya, kegiatan ospek yang sudah kehilangan esensinya kini justru menjadi ajang eksploitasi para mahasiswa junior yang dilakukan oleh para seniornya. Karenanya, perlu ada pengkajian ulang terkait kegiatan orientasi mahasiswa baru dan pengkajian ini sebaiknya dikembalikan pada pihak program studi (prodi). Sebab prodi sudah paham betul  mengenai aturan baik yang ada di prodi itu sendiri, fakultas, maupun universitas.

Kampus bukanlah tempat untuk mengkader kekerasan. Kampus adalah tempat sarana intelektual berada. Kampus bukanlah tempat untuk mengasah kekuatan fisik. Kampus adalah tempat untuk mengasah otak. Maka dari itu, sudah sepatutnya kampus mampu mengedukasi para pelaku dan apabila menimbulkan korban, kampus wajib untuk memberikan sanksi mengingat kampus bukanlah entitas yang kebal akan tindak pidana.

Jadi, jika kegiatan orientasi berujung dengan kekerasan dan kerusakan, maka hal itu juga merupakan tanggung jawab dari universitas. “Prodi akan memberikan pencerahan tingkat universitas dan tidak harus melalui birokrasi tingkat universitas, fakultas, dan prodi,” tutupnya.

Editor : Akhdan Muhammad Alfawwas

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here