Logika Perusahaan di Perguruan Tinggi

0
673

“Kampus seolah sirkus. Singa sirkus mampu belajar duduk di kursi, lantaran takut diancam dengan cambuk. Ia memang terlatih kemudian, tapi tidak terdidik.” (3 Idiots).

Kutipan di atas barangkali tepat memotret buramnya realitas pendidikan kita saat ini. Baik perguruan tinggi secara umum, PTN maupun PTS atau bahkan di kampus yang katanya perguruan tinggi swasta terbaik nomer satu versi UniRank tahun 2020 ini. Dogma bahwa pendidikan adalah wahana untuk memanusiakan manusia kian terkikis.

Kampus yang digadang-gadang mampu memproduksi generasi kritis, agen perubahan, dan kaum intelektual pun, akhirnya hanya menjadi lipstik semata. Kini kampus tak ubahnya pabrik yang memasok tenaga kerja ‘kerah putih’ ke perusahaan-perusahaan. Bahkan, Andre Barahamin menyebut, kampus merupakan garda depan yang turut melanggengkan kapitalisme dalam cangkang industrialisasi global.

Kiranya pernyataan itu tak berlebihan, mengingat ada beragam kebijakan dan sistem yang memang didesain dengan logika perusahaan. Pemadatan jam kerja, efisiensi produksi, logika demand dan supply, semua konsep produksi perusahaan tersebut diimplan dalam dunia kampus. Cara yang paling mudah untuk memaksimalkan produksi dalam waktu singkat adalah dengan menerapkan normalisasi kampus.

Sebelas dua belas dengan NKK atau BKK yang digulirkan Soeharto pada 1970-an, sekarang injeksi normalisasi kampus dilakukan dengan halus dan rapi jali. Sebut saja kebijakan pembatasan masa kuliah, penilaian kapabilitas civitas academica yang hanya mewujud dalam angka (indeks prestasi), jam malam mahasiswa, dan lainnya. Kalau sudah begini, jangankan menjadi agen perubahan, kesempatan untuk menjelma manusia yang independen sudah pasti jauh panggang dari api.

Bayangkan saja, dalam perkuliahan, mahasiswa akan dijejali dengan materi pendidikan berkarakter, pendidikan Pancasila, kemuhammadiyahan dan kewarganegaraan. Entah karakter seperti apa yang dimaksud, jika sebetulnya ini hanya bertujuan untuk mendegradasi nalar kritis dan menjebak pembelajar, dalam nuansa kompetisi tak berujung.

Saling mementingkan diri sendiri. Menjegal teman satu kelompok tugas yang dianggap kurang berkontribusi, hanya karena tak terima jika mendapat nilai sama. Lalu untuk apa atau bagaimana karakter yang dimaksud?.

Di sisi lain, instrumen pendukung pun diproduksi untuk membuat mahasiswa semakin terintegrasi dengan sistem tersebut. Dosen yang menyuruh mahasiswanya untuk menghapal materi, mengajar dengan membaca slide di depan kelas bak raja kecil, dan menilai kemampuan mahasiswa hanya sebatas angka.

Belum lagi skema SKS yang membuat pembelajar di kampus tersengal-sengal mengikuti aktivitas perkuliahan. Jangankan untuk memikirkan hal lain atau berdiskusi, bisa lulus mata kuliah saja, mereka diwajibkan mengerjakan berlembar-lembar paper, ikut praktikum tiap minggu, dan lainnya. Habis energi.

Selain itu, biaya kuliah yang terus meroket menjadi alarm bagi mahasiswa untuk bergegas merampungkan kuliah, jika tak ingin kena semprot orang tua. Bagian ini menjadi catatan sendiri untuk menandai kampus sebagai miniatur perusahaan. Memang tak bisa dipungkiri, ada segelintir mahasiswa yang memberontak terhadap kemapanan sistem kampus.

Mereka menciptakan ruang-ruang diskusi, mereka membaca buku dan menulis, mereka berani mengritik dosen dan stake holder di universitas. Mereka bahkan berani keluar dari kampus, menyatu dengan masyarakat, dan menjadi masyarakat. Namun, apa ganjaran yang mereka peroleh dari usaha perlawanan ini?.

Baca JugaJalankan Proker Saat Pandemi, Study Club Fisiopedi UMS Sumbang APD ke Desa Binaan

Dibredel komunitasnya, dipersekusi, diotak-atik nilainya, distigmakan negatif yang serba macam-macam hari ini seperti hal yang lumrah dan tidak hanya sedikit yang di-DO pada akhirnya. Sebagai contoh, masih segar diingitan penulis dua aksi demo di area UMS terkait netralitas ruang akademik di depan GOR kampus dua UMS dan di gedung Induk Siti Walidah yang mendapat perlakuan tidak layak dari pihak kampus, hal tersebut membuktikan demokrasi dan toleransi sudah lama pergi dari UMS sekarang ini.

Jumlah mahasiswa yang seperti diatas tidaklah seberapa jika dibandingkan golongan mayoritas yang lebih mementingkan tujuan semu berupa sehelai kertas berisi angka-angka yang tidak kalah palsunya karena segala materi dan pengetahuan tidak pernah diaplikasikan kepada masyarakat selama jadi mahasiswa, selain sebatas KKN dan PENGMAS yang tidak di-follow up. Semua hanya sebatas formalitas belaka. Mereka akan lulus memegang toga yang entah berguna tidak nantinya.

Pada akhirnya, generasi yang dicetak adalah manusia-manusia yang hanya mementingkan diri sendiri. Menyikapi segala hal secara pragmatis dan sikap opportunis yang dijadikan tali tambatan berkehidupan. Padahal, sejarah panjang perjuangan bangsa ini telah berbicara bahwa mahasiswa adalah anak kandung rakyat, tapi justru sekarang lingkungan yang diciptakan para civitas academica menjauhkan mahasiswa dari sang ibu. Mereka seolah memakai kacamata kuda yang hanya bisa melihat ke depan, yaitu wisuda tanpa dapat melihat sekitar.

Padahal rakyat menjerit, negara ini dikepung konflik agraria di mana hak-hak atas tanah air dirampas melalui tangan besi oligarki, pajak melambung tinggi, kebutuhan sehari-hari tak terbeli dalam segala carut-marut tersebut rakyat tertanya “mahasiswa kemana?”.

Di lain sisi, mahasiswa yang disibukan mengejar gelar sarjananya, jangankan mendengar dan turun ke jalan untuk demonstrasi, nama-nama pejuang HAM seperti Munir, Wiji Tukul, dan Salim Kancil, mereka tidak lagi mengenali. Seperti ini lah ironi di atas ironi yang menjadi muka perguruan tinggi hari ini.

Mestinya kampus bisa menjadi ruang yang bebas untuk mengeksplorasi diri, berkreasi, dan paling penting; berpikir. Jangan sampai kampus justru membuat orang-orang di dalamnya semakin tercerabut dengan pengetahuan dan menjauhkan mereka dari masyarakat.

Dengan ini, penulis sekaligus menyampaikan belasungkawa atas matinya akal sehat dan hati nurani mahasiswa, semoga ke depan hadir kembali generasi mahasiswa yang menghidupkan amanat reformasi. Panjang umur perjuangan. Yakin usaha sampai.

Hidup Mahasiswa.

Penulis           : Fierdha Abdullah Ali

Mahasiswa Aktif Pendidikan Geografi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)

 

Editor            : Rio Novianto