Akibat Provokasi, Aksi Solo Raya Menggugat Berakhir Bentrok

0
332

UMS, pabelan-online.com – Sejumlah elemen masyarakat beserta mahasiswa melakukan seruan aksi turun ke jalan yang bertajuk Solo Raya Menggugat. Aksi tersebut merupakan reaksi masyarakat terhadap pengesahan Omnibus Law UU Cipta Kerja oleh DPR dan pemerintah yang dinilai sangat merugikan masyarakat.

Dalam aksinya, massa menuntut agar Presiden Joko Widodo segera mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) untuk membatalkan Omnibus Law serta menuntut agar membebaskan salah satu aktivis yang ditahan dan menghentikan tindakan represifitas aparat keamanan terhadap massa aksi.

Massa aksi membawa narasi #MosiTidakPercaya karena wakil rakyat yang ada dinilai tidak lagi bisa dipercaya dalam membela kepentingan masyarakat.

Dimulai pukul 13.00, massa dari berbagai kampus mulai bergerak menuju titik aksi yaitu Tugu Kartasura. Pukul 14.00 massa sudah mulai berkumpul di titik aksi, sehingga akses jalan di sekitar Tugu Kartasura harus dialihkan. Sekitar pukul 15.30 hujan turun dengan deras, tetapi massa tetap bertahan di area Tugu Kartasura sembari terus bernyanyi dan berorasi untuk membakar semangat.

Baca Juga: Mahasiswa UNS Turun Aksi Tolak Omnibus Law UU Cipta Kerja

Salah satu peserta aksi Solo Raya Menggugat, Muhammad Alifal Kautsar menuturkan bahwa aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes masyarakat yang kecewa kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), karena tidak mendengarkan aspirasi masyarakat yang menolak disahkannya Omnibus Law UU Cipta Kerja.

“Setahu saya, aksi ini awalnya direncanakan aksi damai, tapi ternyata kondisi di lapangan tak dapat dikendalikan sehingga terjadi kericuhan,” ujarnya, Kamis (8/10/2020).

Kemudian Alif turut menceritakan kronologi ketika terjadinya kericuhan. Saat itu, dirinya sedang berada di mobil komando untuk membacakan puisi, tetapi karena terdapat peserta yang menembakkan petasan, situasi menjadi panas, lalu seorang peserta aksi melemparkan botol minuman ke arah polisi. Akibat aksi tersebut, aparat kepolisian mulai menembakkan peluru gas air mata untuk membubarkan massa.

Reporter              : Anisa Yuliana Pertiwi

Editor                  : Naufal Abdurrahman Musa