Insomnia

0
111

Semenjak malam itu, ayahku begitu sangat kacau balau. Iya, malam yang membuat semuanya begitu mengubah keluargaku. Ayahku adalah orang yang pekerja keras, sayang dengan keluarganya, dan dekat sekali dengan kita. Alangkah indahnya kehidupanku kala itu, begitu penuh cinta dan kasih dari bunda dan ayah.

Tak ada badai tak ada topan di tengah samudra, ayahku membawakan berita yang amat menyenangkan hati kami semua. Senang yang kita anggap sebuah kesenangan abadi untuk kita di kemudian hari. Namun, itu hanya ilusi duniawi yang mengiris rasa kasih keluarga kami begitu tipis dari tabirnya.

“Yah?” sapaku di meja makan yang bersih tanpa makanan dan apa-apa di sana, hanya ada tatapan kosong.

Ku genggam tangan ayahku yang dingin nan keriput dengan penuh ketulusan dan permohonan untuk kembali. Tak ada jawaban memang, hening tenang hanya ada suara detak jam dinding. Hening yang menggema hingga ke sukmaku.

Saat itu ayahku dipromosikan sebagai direktur di perusahaan kelapa sawit tempatnya bekerja. Ia memang seorang yang pekerja keras dan profesional dengan pekerjaannya. Para bos ayah memang sangat dekat dan sangat mempercayai ayahku. Pak Bambang misalnya, yang memiliki aset begitu banyak di perkebunan kelapa sawit itu, hampir tiap pagi selalu menelpon ayahku menanyakan pekerjaan katanya. Cermati ya setiap pagi tepat pukul 06:00, walaupun itu hari Minggu.

Kebaikan bos ayahku tak hanya sampai situ, kami pun diberikan tiket liburan ke Bali. Katanya upah pertama ayahku sebagai seorang direktur. Iya, saat itu adalah momentum liburan paling membahagiakan untuk kita. Biasanya kita hanya liburan ke taman kota, paling sering membakar jagung di teras rumah. Tentunya ini sangat membagiakan sekali bagi kami awalnya. Kami memajang foto bersama saat liburan itu di ruang keluarga, sangat besar. Sangat bahagia dan ceria tanpa ada curiga setelahnya, hanya ada bayangan kita akan bersama-sama bahagia sampai tua.

“Yah?” ku panggillah sekali lagi, menunggu adalah jawaban darinya.

Aku hanya bisa meneteskan air mata lagi. Tak henti-hentinya aku berusaha menahan tangis ini di setiap sapaan keduaku. Iya, setiap hari ku mencoba menyapa ayahku dan mengajaknya bicara. Namun, sampai lima tahun ini dia tak menjawab setiap sapaanku. Padahal, ayahku tak mungkin sampai tidak menyapaku dengan begitu manis dan hangat.

Siang menjelang, adzan berkumandang dengan lantang dan megah. Tak berselang lama ayahku berdiri dan beranjak ke ruang keluarga, di mana foto kebahagian kita semua itu terpajang rapi. Ayah menatapnya sambil duduk di sofa, seperti di meja makan. Keheningan itu muncul lagi, detak jam dinding mengaku lagi. Namun, ada tambahan isakan tangisku yang tak bisa ku tahan lagi.

Apa yang dipikirkan oleh ayahku? Apa dia mengulang memori bahagianya dengan kita dulu, atau dia menatap dengan penuh kecewa kejadian itu? Apa mungkin ayah sedih dan merasa bersalah atas semua itu? Ah, apa pun itu raut wajah ayah masih sama. Menatap kosong dan datar tanpa terbesit suatu isyarat. Memang benar, memahami orang yang diam dengan seribu bahasa itu tak mudah. Mengapa para ilmuwan, bahasawan, transleter, semuanya yang ahli bahasa tidak pernah membuat kamus bahasa diam. Kan kubayar berapapun itu buku ataupun orang yang sanggup memahami diamnya ayahku.

Foto itu diambilkan oleh seorang penduduk Bali yang tengah berjualan pernak pernik keliling di pantai Kuta. Senja yang begitu eloknya, merah muda, jinga, orange, apapun itulah terlukis begitu indah. Sangat mendukung suasananya itu. Namun, tanpa kita sadari akan isyarat langit. Senja adalah sebuah ujung dan perpisahan. Mengapa kita berbahagia dengan isyarat perpisahan itu. Jelas sudah Sang Dewa Dewi menyiapkan sedemikian isyarat kuat, namun kita terlalu bahagia hingga tak menyadari hal itu.

Walaupun bukan Bali dan pantai Kuta yang membuat keluarga kita begitu hening. Namun, Bali telah mengutuk kita menjadi keluarga yang hening. Apa Pak Bambang dan para bos-bos bejat makelar mata duitan, ah, siapa pun itu harusnya mereka bertanggung jawab atas semua itu. Ah, mengapa harus mereka yang disalahkan, tentu ayahku sendirilah yang harus disalahkan. Dia gila, tak pikir panjang, tidak memahami makna-makna bujuk rayu mereka semua. Astaga. Seberingas itu kah pikiran dan batinku jika urut begitu panjang dan lama. Pegal memang tapi apa yang harus ku lakukan.

Dokter, psikolog, ustaz, dukun, tukang pintar, guna-guna, semuanya dari yang ilmiah hingga tak masuk akal sudah kucoba untuk menghentikan lamunan ayahku. Memang tidak salah ayahku hening dan melamun begitu lama. Mungkin itu kenyamanan dia saat itu sampai kapan pun. Tapi lima tahun tidak memejamkan mata untuk beristirahat apa tidak membuatku khawatir yang tak kunjung akhir. Memang ini karena makelar-makelar itu.

Obat bius, obat tidur hanya mampu mengistirahatkan ayahku selama satu jam saja. Begitu yang bisa aku lakukan setiap harinya. Memaksa ayahku tidur dengan obat-obat itu. Aku tak tega, tak kuasa melakukan semua itu. Takut ayah akan overdosis dan lain sebagainya, ataupun hal-hal buruk lainnya.

Hingga, setelah tiga tahun ini semua obat bius dan obat tidur itu tak mempan lagi untuk menidurkan ayahku. Kalang kabut tentunya diriku ini, harus kuapakan lagi ayahku ini, jalan apa lagi yang bisa ku lakukan. Apa perlu ku plester mata ayahku, ku tutup dengan penutup mata, atau apa. Tidak ada yang sanggup lagi. Selesai sudah upayaku, ku biarkan ayahku seperti mayat hidup. Hidup yang begitu hening hingga akhir hayatnya kelak.

“Yah?” ku sapa lagi, tapi dengan suara yang tegar, tak sedih, berusaha semuanya baik-baik saja. Walaupun masih sama tidak menjawab dan posisi masih sama. Duduk menatap foto keluarga.

Senja yang sudah datang sedari tadi yang tidak kita sadari mengubah langit yang terang menjadi gelap nan hening. Hanya ada dentang jam dinding dan suara adzan magrib yang memecah keheningan kami. Ayah masih sama, masih ingin menatap foto kami yang bahagia. Jawabku dalam hati untuk menenangkan hatiku sendiri.

Memang semenjak ayah menjadi direktur di perkebunan kelapa sawit itu dan selepas kepulangan kita dari Bali, ayah mengubah pola kehidupannya. Tak pernah sarapan, makan siang, makan malam dengan keluarga yang penuh cinta dan canda tawa. Pagi menjadi malam, dan malam menjadi siang. Bunda yang kesepian dan aku yang mulai kurang ajar. Iya, aku pun berulah, melawan ayah, memaki ayah, dan semua keburukan ku sampaikan dengan jelas kepada ayah. Aku begitu karena aku membenci ayahku waktu itu, dia ibarat orang asing dan aku mengingikan ayahku kembali seperti sedia kala.

Sempat kumengira pak Bambang dan komplotannya telah mencuci otak ayahku hingga dia tak sehangat dulu dengan keluarga. Maka dari itu aku sering mengusir mereka dari rumah jika mereka berkunjung. Sampai-sampai ban mobil mereka aku kempeskan dengan paku yang banyak. Tertawalah aku melihat mereka pulang dan terjadi kejadian karena ulahku itu.

Ayahku berdiri dan beranjak pergi meninggalkan ruang keluarga dan foto bahagia itu. Iya, ayah berjalan menuju kamarnya. Kamar di mana semua kehangatan dan kebahagiaan terjadi. Di mana aku sering tidur dengan ayah dan bunda di kala aku sakit maupun mimpi buruk. Kamar inilah yang dapat menenangkanku di saat semua itu terjadi.

Interiornya tidak ada yang berubah sejak dulu sampai sekarang, dengan nuansa coklat muda dan jendela begitu besar. Ranjang yang menghadap langsung ke jendela sehingga kita bisa melihat halaman yang luas dan suasana luar yang kadang ramai dengan riuh suara anak kecil bermain.

Ayah berbaring di ranjangnya, tak lupa menutup setengah badannya dengan selimut. Iya, ayahku sedang bersiap untuk istirahat, mencoba memejamkan mata untuk tidur. Namun, sampai tengah malam pun masih juga mata itu tak kunjung lelah dan tertidur. Masih dengan tatapan kosong menatap langit-langit kamar. Begitu saja.

Apa ayah menjual sukmamu kepada mereka, para komplotan itu? Memang semenjak ayah menjadi direktur, harta kami melimpah ruah. Sampai setiap hari ayah sanggup membelikan main untukku, membelikan perhiasan untuk bunda, makan enak setiap harinya. Sudah kubilang, awalanya memang sangat membahagiakan, tapi tidak berlangsung lama. Ketika ayah jarang pulang, sering mabuk-mabukan, sering pergi serta dengan koleganya. Hingga bunda sudah mulai lelah dengan ayahku, bunda sakit-sakitan dan semakin lama semakin memburuk. Ayah? Tidak pedulilah, tidak tahulah, masa bodoh, dia asyik dengan dunianya.

Berlangsunglah semua itu, lama sekali. Aku merawat bunda seorang diri, menyemangati bundaku, memberikan kasih dan sayangku dan memberikan isyarat kepada bunda semua ini akan berakhir. Hingga suatu malam yang hening dan sunyi, hanya suara parau bundaku yang memanggilku. Tentu ku bergegas menghampirinya, dan memegang tangannya begitu erat, erat sekali. Hingga akhirnya bunda menghembuskan napasnya. Hancur sudah hidupku kala itu. Hancur sekali, tak terkira rasanya.

Pada malam itu pula, ayahku menjadi hening dan sunyi. Ayah pulang dengan keadaan kacau balau, menghampiri jasad bunda saat aku pun menangis tersedu-sedu. Ku maki ayahku, ku pukul, ku tendang dan semuanya. Mungkin malam itu adalah kutukan bagi ayah, dia dikutuk oleh bunda menjadi seorang yang hening dan sepi.

“Yah, ayah.. aku ingin tidur di sampingmu malam ini, aku rasa aku mimpi buruk,” ku tidur di samping ayahku sembari memegang erat tangannya yang dingin dan keriput. Ku pandangi dia, hingga aku terlelap tidur. Kurasa mimpiku sangat indah, di mana tanganku begitu hangat digenggam oleh ayah. Tapi ku tahu itu hanya mimpi namun rasa hangatnya seorang ayah seolah tidak sebuah mimpi. Entahlah, ayah kapan kau tidur?.

Penulis          : Tsania Laila Maghfiroh

Mahasiswa Aktif Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)

Editor             : Rio Novianto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here