Kecintaan yang Membawa Prestasi

0
90

Tak mudah untuk menerima kegagalan terhadap apa yang telah kita lakukan. Berusaha untuk tegar jika apa yang kita lakukan itu bukanlah jalan yang tepat untuk kita. Tak ayal, banyak yang kemudian menyerah apabila berada dalam kondisi seperti itu. Namun, hal itu tidak berlaku bagi mereka yang terus ingin mencoba meski diterjang belasan, bahkan puluhan kegagalan. Tujuannya adalah untuk berhasil dan menemukan apa yang cocok untuknya.

Dhea Retno Khaliza namanya. Mahasiswa asal Lampung yang kini tengah menempuh semester lima di Universitas Teknokrat Indonesia ini membuktikan bahwa asal ada kemauan apapun bisa diraih. Dirinya sangat berprestasi dalam lomba debat bahasa Inggris. Mulai dari tingkat regional hingga nasional. Dhea, begitu ia disapa, sudah pernah merasakan hangat dan harunya kemenangan.

Namun, siapa yang menyangka kalau di balik keberhasilannya tersebut, dirinya pernah mengalami rasanya kekalahan. Sewaktu dirinya duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), ia belum mengenal apa dan bagaimana debat bahasa Inggris itu. Dhea pada masa SMP adalah siswi yang aktif dalam mengikuti lomba speech dan storytelling. Nahas, dua bidang itu bukanlah keahliannya pada saat itu. Meskipun pada pengakuan yang ia berikan, dirinya memiliki kecakapan dalam berbahasa Inggris.

Barulah ketika Dhea menginjak bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), di mana dirinya disarankan oleh gurunya untuk mengikuti lomba debat bahasa Inggris. Dari situlah, kecintaan Dhea terhadap debat bahasa Inggris mulai tumbuh. Ia berkali-kali meyakinkan saya kalau dirinya sangat mencintai debat bahasa Inggris.

Bahkan, kegiatannya dalam debat bahasa Inggris lebih ia prioritaskan ketimbang studinya yang sudah menyentuh semester akhir. Meski demikian, Dhea selalu mendapatkan Indeks Prestasi Semester (IPS) yang tinggi. Berkat prestasinya di debat bahasa Inggris ini pula dirinya mendapatkan beasiswa dari kampus sejak semester dua.

Menurut Dhea, yang membuat dirinya merasa cocok dengan debat bahasa Inggris adalah pada kepribadian yang ia miliki, yaitu sifat suka bicaranya. Dengan kapabilitas yang ia miliki dalam berbahasa Inggris tersebut juga berpengaruh terhadap ketertarikannya pada debat bahasa Inggris. Namun, dua faktor itu tidak serta merta dapat membawa dirinya ke panggung kemenangan. Tentu saja perlu adanya pengorbanan waktu, tenaga, dan pikiran.

Ia mengakui, bahwa dalam lomba debat bahasa Inggris yang bisa membuat seseorang itu menjadi juara adalah ada pada seberapa banyak ia berlatih. Dhea berpendapat, jika bermalas-malasan dalam latihan, akan sangat kentara penurunan penampilan ketika sedang lomba nanti.

“Debat bahasa Inggris latihannya sangat menyita waktu. Kalau mau lomba biasanya ada latihan intensif, itu sekitar lima sampai enam jam per harinya,” ungkap Dhea.

Baca JugaUMS Ikut Meriahkan Resepsi Milad Muhammadiyah Ke-108

Katanya, di debat bahasa Inggris ini kita tidak pernah menjadi hebat meski sudah meraih banyak prestasi, karena ada saja hal yang perlu dievaluasi.

Di tengah kesibukannya mengikuti lomba debat bahasa Inggris, Dhea sama sekali tidak merasa kuliahnya terganggu. Menurutnya, itu semua tergantung pada individu masing-masing. Ia mengatakan, sejauh ini dirinya masih bisa mengejar materi perkuliahan.

Dalam mengatur waktunya, Dhea bukanlah tipe orang yang sistematis dalam hal mengatur jadwal. Maksudnya adalah, apa yang ada di depan mata itulah yang ia kerjakan, tidak tersusun secara rapi sebelumnya.

Dhea mengatakan, bahwa hanya di debat bahasa Inggrislah satu-satunya tempat yang secara continue bisa mengevaluasi dirinya agar menjadi lebih baik lagi. Dhea juga berpendapat, jika debat bahasa Inggris adalah kompetisi yang paling hidup, di mana selalu memaksa kita untuk tidak berhenti belajar dan membuat diri kita lebih mudah memahami orang lain.

“Karena debat bahasa Inggris ini gue jadi lebih mudah memanusiakan diri gue sendiri. Mungkin karena gue udah terlalu sayang sama debat bahasa Inggris itu sendiri,” tambahnya.

Lebih lanjut lagi, Dhea mengatakan bahwa debat bahasa Inggris memiliki keunikannya sendiri. Di mana kita tidak pernah tahu dalam perlombaan bisa menjadi juara atau tidak.Hal itu dikarenakan tiap sesi mosi (topik- red) selalu berbeda-beda. Terdapat banyak faktor yang bisa membuat kita menjadi juara, seperti keberuntungan, latihan, dan kapasitas yang dimiliki dalam hal berbicara menggunakan bahasa Inggris.

Mahasiswa yang kini berusia 21 tahun tersebut juga bercerita tentang pengalamannya dalam mengatasi rasa jenuh ketika dituntut untuk latihan secara terus menerus. Baginya, rasa jenuh itu wajar. Oleh karena itu, Dhea harus bisa mencari alasan untuk tetap bertahan dalam kegiatan yang sudah ia tekuni selama lima tahun.

Dhea merasa dirinya masih jauh untuk mencapai tujuannya. Layaknya sifat sang juara, Dhea hanya ingin selalu menjadi lebih baik lagi. Menyoal soal cita-citanya, Dhea hanya ingin menjadi bahagia. Menurutnya, bahagia adalah hal yang paling penting, akan sangat percuma apabila kita memiliki pekerjaan yang bagus namun kita tidak bahagia.

Gue bakalan terus ikut lomba debat bahasa Inggris sampai semester akhir, kemudian mungkin setelah lulus gue kalau dikasih kesempatan pingin jadi juri dalam lomba atau pelatih. Tapi keinginan gue yang paling utama ya bekerja,” ungkap Dhea membahas masa depannya.

Reporter         : Novali Panji Nugroho

Editor             : Rifqah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here