Opini

Pendidikan dinoktahkan setidak-tidaknya menghasilkan manusia yang berbudi pekerti. Atau kalau tidak, sederhananya mencetak manusia yang berperilaku baik. Kita telah melihat bagaimana gambaran kehidupan di institusi-intitusi pendidikan sebagaimana lazimnya. Yang baik, yang dipuji, yang buruk, yang terpuruk. Badan-badan institusi sekolah seperti Bimbingan Konseling pun bekerja dengan

Pada suatu titik hal ini akan menghambat mobilitas organisasi, dan di satu titik lainnya akan turut membantu perkembangan organisasi. Kritik memang kadangkala membangun. Namun juga di situasi tertentu akan menghambat mobilitas dan ruang berkarya generasi muda mengingat pepatah lama “Jangan takut melakukan kesalahan selagi masih

Pramoedya Ananta Toer dalam esai yang berjudul Pokok dan Tunasnya (2000) menuliskan “Generasi tua memegang kata putus dalam segala hal, sedangkan generasi muda mengintip-intip dari jendelanya, menimbang-nimbang dengan takut-takut, juga mengadili dan menghukum dengan diam-diam” Pram dalam sepotong kutipan itu jelas memperlihatkan empatinya pada generasi muda.

Di era revolusi kemerdekaan kita telah dikisahkan sejarah perseteruan antara Ahmad Subardjo dan Sukarni yang masing-masing mewakili generasi tua dan generasi muda. Ahmad Subardjo ingin kemerdekaan menunggu momentum yang tepat untuk dideklarasikan. Sedangkan Sukarni menginginkan kemerdekaan cepat dikumandangkan. Betapa disini terlihat jelas perbedaan pandangan antara

Kehidupan berorganisasi di kampus memang penuh dinamika. Banyaknya problematika membuat semua hal mesti dihadapi bersama senasib sepenanggungan. Permasalahan setiap mahasiswa yang berasal dari beragam latar belakang pun menjadi satu wacana. Terkadang sampai membuat beberapa pihak jera. Organisasi-organisasi di kampus, entah internal atau ekternal. Atau entah tingkat