ANTI PLURALISME, KE LAUT SAJA !
Oleh : Danar Kristiana Dewi *
Sebenarnya miris ketika melihat kondisi mahasiswa sekarang. Entah semuanya sekarang begitu berbangga hati menggunakan seragam masing-masing tanpa melihat ada seragam lain yang sebenarnya ikut berjuang bersama-sama.
Dengan baju itu masing-masing berjuang dengan egonya masing-masing pula. Beberapa bahkan mulai mengkotak-kotakkan. Perbedaan cara pandang menjadi masalah klasik yang menimbulkan berbagai rentetan konflik horizontal. Masih saja konsen pada konflik horizontal itu, kenapa tidak mencoba menjebol tingginya tembok pertentangan itu. Lalu berjuang bersama. Kawan tunjukanlah sikap kedewasaanmmu itu.
Kita ada untuk berjuang bersama, melawan keporak-porandaan yang terjadi di Negeri ini melawan penindasan yang menggencet rakyat miskin, melawan kapitalisme pendidikan yang menjadikan anak bangsa ini bodoh. Apa sebenarnya yang ditakutkan ketika pluralisme itu berkembang ? kita berjuang bukan rebutan lahan dan gagah-gagahan.
“Sama teman sendiri kok repot..” Mungkin itu kata yang tepat untuk dipaparkan melihat dinamika perkembangan mahasiswa saat ini. Kita seolah-olah sudah seperti para petinggi itu susah membedakan mana teman dan mana lawan. Semua memasang benteng antipati dan buruk sangka dalam mainstream berfikirnya. Apakah benteng dan seragam yang kita banggakan itu mampu bergerak sendiri untuk berjuang?.
Kita harus bersama-sama kawan ! sudah berkali-kali hal itu di ungkapkan, tak akan ada hasilnya jika kita bergerak sendiri-sendiri… Kemana perginya nyanyian persatuan itu? Bukan saatnya lagi kita hanya diam. Semua elemen mahasiswa harus bergerak.
Pikiran-pikiran negatif satu dengan yang lain itu harus dihilangkan, gantilah paradigma itu dengan prinsip berfikir positif dan terbuka dengan ragam cara pandang. Kita tidak akan lemah dan kalah dengan menanggalkan baju seragam yang bernama egoisitas.
Kita juga tidak akan malu dengan menjabat tangan orang yang berbeda pandang itu, kita tidak akan rugi jika hanya dengan membuka persepsi. Tidak akan rugi kawan! Sekat-sekat pembeda itulah yang sebenarnya membuat kita kalah dn lemah. Kalau masih dipertahankan kita hanya akan semakin terkungkung dengan sekat dan seragam ego itu.
Ibarat katak dalam tempurung, ketika keluar kita tidak akan mengerti apapun. Tak cukup dengan berbangga diri menggunakan seragam kebanggan. berjabat tangan pemakai seragam lain karena pelangi yang indah tidak akan pernah ada tanpa lukisan perpaduan warna yang berbeda. Dunia pergerakan akan statis jika hanya satu warna yang menorehkan citanya.
Kawan! Bukan saatnya kita untuk saling menindas mencarai siapa yang menang dan siapa yang kalah, namun saatnya untuk bangkit bersatu padu, suarakan dengan lantang tuntutanmu kawan! Buktikan kita mahasiswa adalah anak bangsa yang perduli dengan Negerinya. Bukan hanya mahasiswa yang digambarkan dalam sinetron pembuai mimpi dimana kehidupannya hanya bermewah-mewahan, hanya bercinta-cintaan dalam kemasan hedon yang menawarkan mimpi.
Kawan ! Ayo bangkit bersatu memunculkan nadi nasionalisme dalam hembusan nafas perjuangan ini. Jalan masih panjang. Belum saatnya para intelektual muda berhenti, musuh kita semakin sulit untuk dikalahkan karena musuh kita adalah Ego diri sendiri.
* Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi dan Informatika UMS, semester V
Pemimpin Redaksi Koran Pabelan
Short URL: http://pabelan-online.com/?p=1551











