pabelan-online.com

ANARKISME MAHASISWA

Penulis Opini :

Mohammad Nur Sururi Sarono

Mahasiswa FISIP (Hubungan Internasional) UGM

Di hari rabu minggu ke tiga bulan ini atau tepatnya tanggal 20 Oktober 2010 SBY-Budiono beserta Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid II genap berumur satu tahun. Beberapa keberhasilan patut kita apresiasi dari pemerintahan ini seperti pertumbuhan ekonomi yang mencapai 6,5 persen, rupiah yang kurang lebih stabil pada posisi Rp. 9.000 per US$ dan inflasi yang berada di bawah 5,28 persen pertahun. Namun demikian tidak sedikit permasalahan negara ini yang belum teratasi.

Permasalahan kesejahteraan rakyat belum teratasi secara baik oleh KIB jilid II, dikutip dari Sinar Harapan (20/10) jumlah penduduk miskin di Indonesia bertengger pada angka 31,02 juta orang atau atau sebesar 13,33 persen. Angkatan kerja pun belum terserap sepenuhnya dimana jumlah pengagguran terbuka masih sebanyak 8,59 juta orang atau sekitar 7,41 persen dari jumlah angkatan kerja di Indonesia. Permasalahan penegakkan hukum juga belum tertangani dengan baik oleh pemerintahan SBY-Budiono, dimana kasus-kasus korupsi masih banyak yang menggantung dan tidak terselesaikan. Hal yang sama juga terjadi pada kasus-kasus pelanggaran HAM. Bukan menjadi hal yang mengherankan bila elemen-elemen mahasiswa beserta masyarakat turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi dan keresahan mereka atas semua kegagalan KIB jilid II.

Adalah tugas mahasiswa, sebagai kaum muda yang masih tinggi semangat dan idealisme nya, untuk mengingatkan kepada pihak yang diberikan kekuasaan untuk mengelola negara yaitu pemerintahan atas kegagalan-kegagalan ini. Peran kaum muda (mahasiswa) sangatlah penting dalam mengawal perubahan dan mendorong negara ke arah yang lebih baik. Bila kita tilik balik dalam lembaran sejarah bangsa ini, adalah kaum muda yang memainkan peranan penting dalam mendorong terwujudnya kemerdekaan. Adakah yang dapat membayangkan apa yang terjadi bila kaum muda pada waktu itu seperti Adam Malik dan Chaerul Saleh tidak melakukan apa yang mereka lakukan pada tanggal 16 Agustus 1945?

Kurang lebih 6 dekade telah berlalu sejak kemerdekaan, tantangan yang harus dihadapi kian bertambah. Perjuangan kaum muda pada masa itu adalah untuk terwujudnya kemerdekaan, kini adalah untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Dengan dinamika percaturan politik global yang semakin kompetitif antara satu negara dengan negara lain, peran kaum muda (mahasiswa) menjadi crucial. Banyak hal yang dapat dan telah dilakukan mahasiswa dalam menjalankan perannya sebagai kaum muda seperti berwacana, mengadakan diskusi hingga turun kejalan untuk berdemonstrasi dan bersikap kritis terhadap pemerintah. Namun tidak jauh berbeda dari pemerintah, ada kalanya mahasiswa juga gagal dalam menjalankan perannya sebagai kaum muda, yaitu ketika demonstrasi berujung pada kekacauandan kekerasan.

Ilustrasi demonstrasi yang berakhir dengan kekacauan dan kekerasan akhir-akhir ini semakin sering kita lihat di televisi, kita dengar di radio atau kita baca di koran dan internet. Batu-batu berterbangan diudara, dari aksi saling lempar batu antara polisi dan demonstran hingga saling lempar hujatan dan sumpah serapah, vandalisme atau pengerusakan fasilitas-fasilitas umum bahkan juga terhadap kendaraan yang kebetulan lewat tidak jarang terjadi dalam aksi demonstrasi semacam ini. Media massa sering menyalah artikan dan dengan mudahnya menggeneralisir hal ini sebagai anarkisme mahasiswa.

Menurut Benjamin Tucker, anarkisme adalah filosofi bahwa “semua urusan manusia harus dikelola oleh individu atau asosiasi sukarela, dan bahwa negara harus dihapuskan.” Dan dari definisi ini kita dapati bahwa anarkisme tidak selalu berakhir dengan kekacauan dan kekerasan. Sebagai mahasiswa adalah tidak sepenuhnya salah bila bersikap anarkis sebab tidak ada sangkut pautnya dengan kekerasan dan kekacauan. Namun sebagai mahasiswa adalah menjadi kewajiban untuk menjauhi aksi-aksi kekerasan dan demonstrasi yang berakhir pada kekacauan sebab hal ini menunjukkan dekadensi pemikiran dimana mahasiswa dituntut memeliki kecerdasan dan kreatifitas. Hal itu merupakan kegagalan mahasiswa yang notabene kaum muda pengawal perubahan dan kritisisme.

Silakan dibagi:
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • email
  • MySpace
  • Ping.fm
  • Tumblr
  • TwitThis

Short URL: http://pabelan-online.com/?p=1794

Posted by on Oct 22 2010. Filed under Opini. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Photo Gallery

Log in | Edited by Pabelan Media Grup