Antara Das Sollen Dan Das Sein, Bagaikan Langit Dan Bumi

0
5318

 

Oleh : al bajjah

Das Sollen bisa di artikan yang Seharusnya sedangkan das Sein adalah Kenyataannya. Kedua makna ini menjadi salah satu acuan munculnya sebuah masalah, kenapa demikian karena memang antara harapan dan kenyataan kalau tidak sama maka di sana akan memunculkan kegusaran atau bahkan muncul sebuah perpecahan kalau itu bersifat antar golongan. Dan yang semacam ini sering kita jumpai, bahkan secara tak sadar ini sudah menjamur bak bakteri yang tidak kita ketahu keberadaanya. Kalau dalam ilmu ekonomi das sein ini sering di sebut dengan ekspektasi dan das solen itu lebih ke realitanya. Contoh seperti ini kita mngharapkan sebuah pemimpin yang arif, bijaksana, peduli terhadap kepentingan rakyat, tanggap terhadap persoalan rakyat, mampu mndengar dan bisa menyelesaikan jeritan rakyat. Akan tetapi pada kenyataannya pemimpin yang di bayangkan tidak sesuai dengan das sollennya. Pemimpinya malah killer misalnya, otoriter bahkan sangat represif terhadap golongan yang mau membela suara rakyat. berangkat dari ini maka sebuah problem atau masalah itu muncul karena tidak singkronnya antara das solen dan das sein.

Munculnnya das sein dan das solen ini bisa jadi karena dengan sendirinya atau memang diĀ  munculkan oleh sutu kepentingan tertentu (baca: rekayasa sosial). Munculanya sendiri ini memang tak lepas dari kita sendiri selaku subyek yang mempersepsikan segala fenomena yang ada, dan ini sangat rawan untuk memunculkan sebuah masalah baru. Kita akan membahas masalah yang itu muncul karena persepesi kita yang salah dalam melihat realitas sosial. Di dalam bukunya kang jalal warnanya merah di sana di katakan ada beberapa point kerancuan berfikir sehingga munculkan sebuah masalah, diantaranya adalah fallacy of dramatic instance artinya bahwa kencenderungan orang untuk melakukan apa yang di kenal dengan over-generalisation. Yaitu mencoba menyamaratakan argument dengan dasar yang bersifat umum, parahnya lagi argument itu berasal dari pengalaman pribadi. Katakan demikian : seorang aktivis berkata pada mahasiswa umum bahwa kenapa kalian kok seperti ini apatis terhadap persoalan kampus, tidak mengawal dan blaa,, blaa, perasaan zaman dahulu saya tidak seperti ini. La kata dulu tidak seperti ini sudah menunjuk untuk menyamakan dengan persepsi satu orang. Kadang-kadang, overgeneralisasi terjadi dalam pemikiran kita saat memandang seseorang, sesuatu, atau tempat. Padahal kata alfred korzybski seorang ahli linguistik dan psikiatri, menyebutkan manusia itu dinamis terus berubah meskipun itu tidak terlihat. Maka kita perlu hati-hati dalam melihat hal semacam itu. Kita tidak bisa memaksakan ego demi sebuah kepentingan semata dan akhirkan memaksakan tafsiran yang tidak sesuai dengan obyeknya.

Sekarang kita juga sering mendengar kata trend yaitu pelacur intelektual. Sangar sekali mendengar kata itu. bukan karena keerotisan, kecantikan dengan bentuk fisik seorang wanita akan tetapi kecerdasan orang yang di gunakan hanya untuk kepentingan golongan dan perut. Kita bisa terapkan kerancuan berfikir ala fallacy of dramatic instance pada mereka, karena memang mereka mencoba merekayasa sosial untuk kepentingannya saja. Kalau saya mendengar kata pelacur intelektual ini teringat akan kaum sofisme yang ada pada zamannya klasik tepatanya hidup pada zamannya socrates, kaum ini memperdagangkan kecerdasannya hanya untuk mendapatkan imbalan. Artinya entah itu di gunakan untuk kebaikan atau lejahatan, kaum sofisme pada saat itu masa bodoh yang penting mendapatkan imbalan. Lalu kasus apa yang terjadi pada pelacur intelektual sekarang? Contoh kecil menurut saya seorang mahasiswa agar di terima keberadaanya (baca : eksistensi diri) dia menggunakan segala cara sampai jadi sebuat penjilatpun mereka lakukan. Karena apa, di depan dosen dia baik dengan modus hanya untuk mendapat perhatian lebih dan ujung-ujungnya agar turun nilai yang lebih pula tapi di belakang sama saja. Hal semacam ini bentuk kecil model pelacur intelktual/sofisme modern dengan model transaksional dalam dunia perkuliahan.

Akhirnyan kita perlu mendalami arti sebuah kearifan loka (local Wisdom) setiap tempat karena prinsip-prinsip yang mengetahui adalah setia kelompok itu sendiri. Tidak bisa kita memaksakan bahkan meninggal budaya yang sudah terbangun dan tersepakati bersama. Hanya karena satu kepentingan saja lokal wisdom itu hilang.

*Penulis adalah mahasiswa Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan FEB UMS Semester 5