Tiada Revisi KRS, Mahasiswa FEB UMS Kelimpungan

0
183

UMS, pabelan-online.com – Peniadaan revisi Kartu Rencana Studi (KRS) yang terjadwal pada tanggal 4 hingga 8 Maret 2019 menuai kritik dan meresahkan para mahasiswa, khususnya Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMS, tengah gempar dengan beredarnya surat permohonan Biro Administrasi Akademik (BAA) FEB kepada Wakil Rektor I UMS. Surat yang tertandatangani oleh Wakil Dekan I FEB tersebut menyatakan permohonan FEB pada Wakil Rektor I untuk meniadakan revisi KRS. Dengan dalih, perkuliahan telah berjalan efektif selama tiga kali pertemuan dan mapan.

Saat ditemui tim Pabelan Online di ruangannya, Wakil Dekan I FEB, Anton Agus Setyawan buka suara. Ia mengelak, bahwa revisi KRS bukan ditiadakan, hanya saja dibatasi eksistensinya. Ketika ditanya mahasiswa mana yang bisa merevisi KRS-nya, Anton menjelaskan. “Yang boleh merevisi ada syarat utamanya,” ungkap Anton, Selasa (05/03/2019).

Pertama, mahasiswa yang dirugikan oleh sistem. Kedua, mahasiswa yang terlambat membayar sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) dengan alasan kuat.

Baca juga: Fakultas Farmasi UMS Sikapi Moratorium

 

Selain itu, Anton juga tak luput menyinggung terkait penggunaan kata mapan pada surat yang ditandatanganinya. Ia memaparkan, bahwa tiap dosen mengampu 40 hingga 45 mahasiswa di kelas yang sudah ditentukan pihak fakultas. Dalam standar operasional universitas, pemilihan dosen secara pribadi oleh mahasiswa pada saat pengisian KRS mestinya memang tak diperbolehkan. Sebab akan menimbulkan ketimpangan jumlah mahasiswa.

”Iya, saya tau ada dosen yang killer dan mahasiswa menjauhinya. Namun setelah revisi itu, ada dosen A menjadi banyak mahasiswanya, sementara dosen B menjadi sedikit, bahkan hilang mahasiswanya,” ujar pria yang akrab disapa Pak Anton oleh mahasiswa FEB ini.

Tanggapan pun datang dari salah satu mahasiswa program studi (Prodi) Manajemen. Mahasiswa yang tak mau disebutkan identitasnya ini, justru mengungkapkan keresahan yang dia rasakan terkait penerapan sistem administrasi UMS yang begitu ringkih, khususnya di FEB sendiri. ”Kenapa kebijakan ini dilakukan ketika hari H? Kenapa enggak sebelum-sebelumnya?” keluhnya dengan berapi-api, Selasa (05/03/2019).

Mahasiswa tersebut lantas menaruh harapan untuk sistem administrasi di UMS, terutama FEB, supaya kelak dikelola dengan baik. Tak menampik, dia menuntut sosialisasi yang jelas dan menyeluruh dari pihak FEB UMS kepada mahasiswa dalam setiap pengambilan kebijakan.

 

Reporter         : Ahlan Fauzan

Editor              : Rifqah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here