Hilangkan Stigma Egosentris dengan Olah Rasa

0
300

Judul Film: Flu (감기)

Sutradara: Kim Sung-Su

Penulis: Lee Young-Jong, Kim Sung-Su, Park Hee-Kwon

Produser: Lim Young-Joo, Seo Jong-Hae, Jung Hoon-Tak

Sinematografer: Lee Mo-Gae

Tanggal Rilis: 14 Agustus 2013

Durasi: 121 menit

Genre: Bencana / Petualangan

Distributor: iFilm Corp.

Negara: Korea Selatan

 

Serangan penyakit yang bisa menular dengan cepat hingga mampu mematikan jutaan nyawa manusia tentunya sangat menakutkan. Tak ada seorang pun manusia yang berharap terjangkit bencana wabah yang membahayakan ini. Segala cara pun menjadi halal dilakukan supaya bisa memproteksi diri dari penularan wabah, termasuk mengorbankan nyawa orang lain demi kepentingan pribadi.

Begitu kira-kira sekelumit premis yang dibawa film berjudul Flu, asal negara yang ikonik dengan ginsengnya, Korea Selatan. Disutradarai oleh Kim Sung-su, film ini kurang lebih mengisahkan tentang wabah flu burung yang secara masif menjangkit kota Bundang, salah satu wilayah geografis di Korea Selatan.

Intermezzo sedikit, sebagai seorang penggemar drama atau film dari negara mereka, adalah hal baru bagi saya mendengar adanya eksistensi suatu kota bernama Bundang disana. Sebab umumnya, kru film atau drama seringkali membidik kota Seoul, Busan, atau Jeju sebagai lokasi untuk syuting. Namun di film Flu sendiri tidak terlalu banyak menampilkan pemandangan khas kota Bundang selain bangunan-bangunan bertingkat seperti yang biasa dilihat di Seoul.

Bertitel Gamgi di negaranya sendiri, film ini secara resmi rilis pada tanggal 15 Agustus 2013, dua tahun selang rilisnya film Contagion asal Amerika yang juga membahas bencana wabah virus yang berasal dari hewan. Kim Sung-su sebagai sutradara dan juga penulis skenario, tidak membiarkan premis dan detailnya sama seperti film pendahulunya. Flu atau Gamgi menggunakan alur maju dan lebih menekankan pada konflik sosial-humaniora ketika wabah ini melanda hampir seluruh warga kota.

Bermula dari penemuan sebuah barak (kontainer) yang diduga berisi imigran gelap, dua orang laki-laki kakak beradik berniat membawa para imigran tersebut untuk dijadikan budak. Sama sekali tak terkira oleh mereka bahwa barak tersebut malah berisi kumpulan mayat berdarah yang dibuang begitu saja. Saat hendak beranjak pergi, ada salah satu diantara kumpulan mayat itu bangun dan meminta tolong untuk diselamatkan.

Awalnya kakak beradik tersebut kaget, namun akhirnya mereka bertiga lekas meninggalkan barak. Keesokan harinya, si mayat bangkit yang belakangan diketahui bernama Moon-sai menghilang entah kemana, sedangkan si adik menunjukkan gejala flu dan bergegas ke apotek ditemani kakaknya. Bukannya mendapat kesembuhan, si adik justru malah menyebarkan virus flu yang dimilikinya lewat gejala batuk pilek sehingga seluruh orang yang ada di apotek terjalar virusnya.

Tak butuh waktu lama bagi virus untuk menginfeksi massal penduduk Bundang sehingga pemerintah memutuskan beberapa kebijakan, salah satunya dengan memisahkan kelompok orang yang terinfeksi dengan kelompok yang kebal.

Tokoh utama film, Kang Ji-goo (Jang Hyuk) yang berprofesi sebagai anggota regu penyelamat dan Kim In-hae (Soo Ae) sebagai dokter diceritakan kebal terhadap virus. Keduanya menjadi kalut saat anak Kim In-hae, Kim Mi-reu, diketahui termasuk kelompok yang terinfeksi. Meskipun begitu, In-hae kukuh enggan berpisah dari anaknya dan terus berusaha untuk melindunginya agar tak ketahuan oleh petugas. In-hae pun bekerja keras menemukan antibodi agar anaknya sembuh dari wabah mematikan.

Konflik semakin memanas kala semua penduduk menjadi tak terkendali dan mengacaukan rencana pemerintah. Kelak bagaimana akhir dari nasib In-hae, Ji-goo, dan Mi-reu?

Banyak pelajaran hidup yang diselipkan melalui film ini. Beberapa diantaranya tentang cinta kasih seorang ibu yang teguh memperjuangkan nyawa anaknya, juga pekerjaan Jin-goo sebagai anggota regu penyelamat yang membawanya terus memiliki naluri untuk tidak tinggal diam ketika melihat orang lain terluka atau memerlukan bantuan.

Yang ingin penulis garis bawahi disini yakni pelajaran mengenai sifat yang secara lazim ada di diri tiap manusia demi penuntasan hasratnya. Merupakan ihwal yang lumrah bagi seorang ibu memiliki naluri nekat mempertahankan anaknya meski telah terinfeksi; dari sudut pandang sang ibu sendiri. Tetapi bagaimana dengan sudut pandang orang lain yang belum terinfeksi? Beralih ke scene lain, ada tokoh yang sengaja menculik Mi-reu untuk diambil serum darahnya sebagai antibodi demi kepentingan tokoh tersebut. Lantas kita diajak melihat dari sudut pandang lain, apakah sebagai penonton kita dapat menghakimi bahwa mereka egois dan serakah?

Kim Sung-su mampu menyuguhkan gambaran yang cukup baik terkait sifat alami manusia itu saat dihadapkan pada kondisi wabah yang mengerikan. Ia pun membebaskan penonton untuk memberi penilaian berdasarkan point of view-nya masing-masing mengenai tindakan para tokoh. Menurut kacamata penulis, porsi antara masing-masing tokoh dirasa pas dan mampu mempermainkan emosi penonton melalui konflik yang ada.

Kendati demikian, ada beberapa konflik yang dirasa cukup mengganggu. Ada pula adegan yang tidak sebaiknya ada tetapi malah diada-adakan sehingga terkesan memperpanjang durasi film. Pun terlalu banyak pemain yang disorot sehingga penonton kadang dibuat bingung. Namun menurut penulis, untuk kategori drama atau film bencana, film Flu telah memposisikan dirinya cukup baik pada masanya.

Usai membabat habis film ini, penulis meyakini ada sesuatu yang ingin Kim Sung-su sampaikan dibalik filmnya. Sebisa mungkin selalu gunakan pelindung diri ketika berinteraksi dengan dunia luar dan jaga kesehatan dengan baik. Tak kalah penting, egois adalah sifat alami yang ada dalam diri manusia, sadar atau tidak.

Semua tergantung bagaimana kita mengolah rasa. Selain peran Tuhan Yang Maha Kuasa, tentu kita yang dapat mengontrol diri kita sendiri, bukan orang lain. Apa yang kau tanam, itulah yang akan kau tuai. Jika kita melakukan suatu kebaikan, suatu saat nanti kita pasti akan mendapatkan balasannya. Hal sama juga berlaku bilamana kita melakukan suatu hal yang buruk.

 

Penulis    : Annisavira Pratiwi

Mahasiswi Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta