Rektor Pecat Pengurus Persma Suara USU, Begini Tanggapan PPMI Solo

0
195

 

UMS, pabelan-online.com – Tengah gempar beberapa hari lalu kabar mengenai Rektor Universitas Sumatera Utara (USU), Runtung Sitepu, memberhentikan seluruh pengurus Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Suara USU. Keputusan sepihak dari rektorat merupakan buntut dari kasus publikasi ‘Cerpen LGBT’ yang dirilis Suara USU di situs online mereka, suarausu.co.

 

“Tadi SK-nya diantar ke sekretariat. Isinya pemberhentian kepengurusan Suara USU,” kata Pemimpin Redaksi Suara USU, Widya Astuti, seperti dilansir medanbisnis.com, Selasa (26/3/2019).

 

Situs Disuspensi Hingga SK Kepengurusan Dicabut

Sebelumnya, situs suarausu.co sempat disuspensi. Menurut keterangan tertulis redaksi Suara USU, tindakan tersebut dilakukan oleh jasa penyedia hosting, Sanger Production, atas sepengetahuan rektor. “Jadi, kesempatan pertama sampai di kampus, akan saya cabut SK kepengurusannya itu. Tunggu balik ke Medan hari Senin. Websitenya juga sudah kami matikan,” ujar Runtung seperti dilansir tempo.co, Kamis (21/03/2019).

Kemudian pada Senin (25/03/2019), seluruh pengurus Suara USU dipanggil dalam pertemuan di Ruang Senat Akademik Gedung Biro Rektor. Pertemuan tersebut guna membahas beberapa cerpen di website suarausu.co yang dianggap memuat konten pornografi. Pertemuan tersebut juga dihadiri Wakil Rektor I, Staf Ahli Rektor, Kepala Humas USU, Kepala Program Studi Sastra Indonesia, dan Wakil Koordinator Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) bidang Jurnalistik.

Sebelum pertemuan dimulai, seluruh anggota Suara USU sempat diminta mengumpulkan gawai masing-masing. Selama rapat, katanya gawai tak boleh dipakai. “Betul. Diletakkan di depan tempat rapat. Dan itu untuk menjaga nama baik USU. Jangan dulu dunia luar tahu kasus ini. Kan kadang-kadang ada anak jahat yang entah tiba-tiba kirim ke online, ke mana-mana,” kata Runtung seperti dilansir Tirto.id.

Hasil dari pertemuan tersebut, Rektor USU memutuskan mencabut Surat Keputusan Kepengurusan Suara USU dan melakukan rekrutmen untuk mengisi kekosongan. Rekrutmen nanti akan langsung ditangani oleh Koordinator UKM bidang Jurnalistik.

Runtung berdalih cerpen-cerpen tersebut tidak layak dimuat di bawah naungan USU. “Itu sangat tidak pantas. Masih banyak yang harus ditulis dan mendidik,” tegasnya seperti dilansir suarausu.co.

 

Bukan Mengkampanyekan LGBT

Yael Stefani Sinaga, selaku Pemimpin Umum sekaligus penulis cerpen Ketika Semua Menolak Kehadiran Diriku di Dekatnya, mengklarifikasi bahwa cerpennya sama sekali bukan tentang mengkampanyekan LGBT di kampus. Dia mengangkat LGBT, hanya karena ingin mengingatkan jangan ada diskriminasi.

“Kami bukan fokusnya pro LGBT, atau mengkampanyekan LGBT. Pesannya di cerpen itu kita jangan diskriminasi sama golongan minoritas, kebetulan mengangkat contohnya LGBT,” ujarnya seperti dilansir sumut.pojoksatu.id, Jumat (22/3/2019).

Baca Juga: Dua Joki Baitul Arqam Tertangkap Basah

Widya bahkan mengatakan sudah mengkaji seluruh cerpen dari segi sastra, jurnalistik, dan kelayakan dimuat di media. “Kami menolak menurunkan cerpen ‘Ketika Semua Menolak Kehadiran Diriku di Dekatnya,’ karena tidak menyalahi aturan,” tukas Pemimpin Redaksi Suara USU ini.

 

Tanggapan Sekjen PPMI Solo

Tindakan Rektor USU pun mendapat kecaman banyak pihak. Mulai dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI), sampai pers mahasiswa seluruh Indonesia.

Tak ketinggalan, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Dewan Kota Solo, Muhammad Taufik Nandito, menyesalkan tindakan sewenang-wenang rektor yang memecat para pengurus Suara USU.

Ia menilai keputusan Rektor USU sangat berlawanan dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum, serta Undang-Undang nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi pasal 9 ayat 1 serta Peraturan Pemerintah No 16 tahun 2014 tentang Statuta Universitas Sumatera Utara pasal 15 ayat 1 tentang Kebebasan Akademik.

Taufik juga menyayangkan sikap Rektor USU yang menganggap bahwa pers mahasiswa tidak memiliki independensi. Padahal pers mahasiswa telah melakukan kerja jurnalistik yang sudah diatur pada Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999. Nilai-nilai kerja jurnalistik itu pun sudah diamini pers mahasiswa Suara USU.

 

“Rektor USU telah menafikan apa yang telah dilakukan awak redaksi Suara USU,” tegasnya, Rabu (26/3/2019).

Oleh karenanya, Taufik mengimbau kepada seluruh pers mahasiswa (persma) se-Solo Raya untuk bersolidaritas terhadap Suara USU sebagai kawan sesama pers mahasiswa.

Menurutnya, persma tidak perlu khawatir terhadap intervensi. Sebab kerja jurnalistik memiliki independensi yang sudah diatur undang-undang. Bahkan termasuk dalam kuadran ke dua, yang merupakan pengelompokan media tak terverifikasi di Dewan Pers, namun isi beritanya memenuhi standar jurnalistik dan Kode Etik Jurnalistik (positif dan terpercaya).

Taufik beranggapan bahwa pers mahasiswa juga mesti tahu landasan-landasan kerja jurnalistik, seperti argumentasi, pula arsip dasar untuk memperkuat kerja jurnalistik itu sendiri. Selain itu, ia pun mengatakan pentingnya pers mahasiswa untuk saling berjejaring. “Entah itu sesama kawan persma, maupun lembaga-lembaga otonom  yang dapat memperkuat solidaritas dalam pengawalan-pengawalan isu,” pungkasnya.

 

Reporter       : Rio Novianto

Editor             : Annisavira Pratiwi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here