HMP IQT Berantas Buta Alquran Lewat Pengabdian Masyarakat

0
144

UMS, pabelan-online.com – Desa Sambiloro menjadi objek pengabdian masyarakat (Pengmasy) yang dilaksanakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Alquran dan Tafsir (HMP IQT). Dalam pengabdian ini, masyarakat diberikan pengajaran Alquran dengan menggunakan metode Tsaqifah dan Ummi.

Ketua Umum HMP IQT, Muhammad Azharuddin Rozi, memaparkan bahwa dilaksanakannya Pengmasy bertujuan untuk memberantas buta huruf Alquran di kalangan masyarakat desa. Dalam mencapai tujuannya, dilakukan pengajaran Alquran dalam berbagai metode, yakni metode Tsaqifah yang dibawakan oleh Muhammad Hamdan Syakirin, dan metode Ummi oleh Muhammad Amri.

Target pengajaran adalah orang tua, remaja, dan anak-anak. Khusus para remaja, HMP IQT mengadakan pengkaderan khusus agar remaja di Desa Sambiloro mampu memberikan pengajaran Alquran terhadap masyarakat, terutama anak-anak.

Selain pengajaran Alquran, diadakan pula pengobatan sunah gratis, seperti bekam, gurah, terapi al-fashdu, totok leher, dan sebagainya. Kegiatan Pengmasy ini memperkenalkan kepada masyarakat mengenai pengobatan sesuai thibbun nabawi, sekaligus menyehatkan masyarakat. “Respon masyarakat desa terhadap kegiatan pengobatan gratis ini cukup baik, ya. Masyarakat yang berobat kemarin ada 27 pasien, kebanyakan lansia,” ujar laki-laki yang akrab disapa Rozi, Kamis (04/04/2019).

Rozi juga menjelaskan, terpilihnya Desa Sambiloro menjadi lokasi Pengmasy didukung penuh oleh Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sukoharjo, Wiwoho Aji Santoso. Selain itu, karena lokasinya mudah dicapai dan terlampau dekat, yaitu sekitar satu jam perjalanan. “Evaluasi dari pengmasy yang sebelumnya dilaksanakan di Jumapolo, Karanganyar. Lokasi tersebut cukup sulit diakses,” tambahnya.

Baca Juga: MEDC Wadahi Mahasiswa Teknik Mesin UMS Belajar Desain

Di lain waktu, Sri Wahyuni, warga Desa Sambiloro mengaku mendapat banyak manfaat dari Pengmasy ini. Terlebih dari pengajaran Alquran dengan metode Tsafiqah dan Ummi yang dilakukan HMP IQT. Dengan adanya pengobatan gratis, itu kali pertama bagi mayoritas warga mencoba berobat dengan thibbun nabawi. “Kemarin kan ibu-ibunya sudah dikasih pengajaran baca Alquran, itu juga bermanfaat bagi ibu-ibu dan warga sini,” ungkap Sri, Minggu (31/03/2019).

Sri kemudian menceritakan kondisi pengajaran Alquran di desanya, terutama mengenai pengajaran Taman Pendidikan Quran (TPQ). Selama ini TPQ di Desa Sambiloro hanya aktif ketika bulan Ramadan dan diisi oleh mahasiswa-mahasiswa dari luar desa. Di luar bulan Ramadan, TPQ ditiadakan karena tidak adanya tenaga pengajar.

Sri berharap, setelah adanya Pengmasy ini, para remaja diberi bimbingan khusus terkait pengajaran Alquran. Ia juga menaruh harapan pada remaja desa untuk meluangkan waktunya dan menghidupkan kembali TPQ di Desa Sambiloro. “Enggak setiap hari kan bisa, mungkin seminggu tiga kali, karena kalau setiap hari kan anak-anak bosan,” tutur Sri.

Reporter         : Sukma Dwi Astuti

Editor             : Annisavira Pratiwi