Tertuju Ibu, dari Puan di Perantauan

0
157

Tertuju Ibu

Aku melangkah sekali lagi,

Masuk menembus penghubung jiwamu

Kau tak bisa pahami

Aku mendung disisimu

Namun aku hujan

saat aku dilepasmu

 

Ada masa, khawatir aku terus ditemu bayangmu

Sadar! Sungguh sadar,

Kau bernaung dalam ruang jiwa

 

Semenjak awal aku di rantau sampai lanjut,

Rasa tenangku bermuara padamu

Cukupnya hariku, karena engkau menemaniku dengan doamu

 

Tak terasa, satu tahun terlepas

Dan kau tetap menungguku pulang

Disini aku menjumpa ribuan problem

Sampai sempat berdiri getir

 

Banyak hal yang terpapas begitu saja

Banyak pula persoalan yang memacu teguh sang jiwa

Sampai kadang tanpa sadar, pelupuk mata kita saling menemu derai air mata

 

 

Puan di Perantauan

 

Oh… Puan di tanah rantau

Merapal doa meski berbalut sepi yang melingkari diri

Mati-matian kau bergelut dengan kemandirian

 

Kebahagiaan yang latah memang susah mencari jati diri

Hasrat dan cita-cita di tanah rantau menjadi saksi bisu dari fajar hingga senja

Oh puan kau ingin menjadi manusia yang dimanusiakan bukan?

Yang ingin melangkah hingga jejaknya mampu dikenang,

Harum seperti mawar walau berduri

 

Atau kau ingin menjadi teratai?

Menampung air bulat-bulat tanpa memaksa air untuk memuai,

Namun mewadahi tanpa melekat

 

Puan kau sedang menunggu buah di tanah rantauan,

Seperti apa hasilnya?

Semoga menjadi puan yang beruntung

 

Penyair: Cindi Ameliyana Wulandari