Angka Kelulusan TOEP di UMS Minim, Perlukah Evaluasi ETP?

0
514

UMS, pabelan-online.com – Program English Tutorial Program (ETP) di UMS telah berjalan hampir empat tahun, namun angka kelulusan saat ujian Test of English Proficiency (TOEP) masih minim.  Apa upaya yang sudah dilakukan LPIDB?

Melandasi cita-cita Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) agar para mahasiswanya mampu memasuki persaingan pasar bebas yang mendunia, UMS pun berupaya untuk meningkatkan kemampuan mahasiswanya dalam berbahasa Inggris.

Sejak tahun 2015 hingga sekarang, UMS membekali mahasiswanya untuk mengembangkan bahasa Internasional tersebut lewat lembaga yang disebut Lembaga Pengembangan Ilmu Dasar dan Bahasa (LPIDB). Pembekalan ini diberikan kepada para mahasiswa di tingkat pertama.

Melalui English Tutorial Program (ETP), kegiatan ini berbentuk pendampingan intensif untuk mendukung mata kuliah Bahasa Inggris yang ada di kelas dan dilaksanakan di luar jam mata kuliah. Sama seperti kegiatan mentoring, model belajar berkelompok dan tiap kelompoknya didampingi oleh satu tutor.

Normalnya, ETP biasa dilaksanakan 12 kali pertemuan dalam satu semester. Sejumlah 800 tutor mahasiswa dan 54 dosen pendamping ikut berkontribusi dalam program ini.

Dengan adanya ETP, Dwi Haryanti selaku Ketua Pengelola ETP berharap mahasiswa dapat mengikuti program ETP dengan sungguh-sungguh. “Seandainya program ETP ini dilaksanakan dengan baik, mestinya lulusan UMS cakap dalam berbahasa Inggris,” paparnya, Jumat (21/6/2019).

Ironisnya, masih banyak mahasiswa yang dinyatakan tidak lulus dalam pelaksanaan Test of English Proficiency  (TOEP) sebagai ujian final mata kuliah umum Bahasa Inggris. Melihat kenyataan yang ada, LPIDB telah melakukan beragam upaya, salah satunya dengan membuka kursus gratis maupun berbayar untuk mahasiswa. Namun, Dwi mengeluhkan antusias mahasiswa yang masih terbilang minim untuk hal ini.

Baca Juga Dalam Forum Diskusi Internasional AIMS 2019, Mahasiswa ISI Surakarta Terpilih Wakili Indonesia

“Kursus yang daftar 30 orang yang datang hanya 5 orang,” tukasnya.

Dwi menerangkan, bahkan tutor telah diberi pembekalan sebelum mengajar mahasiswa. Sayangnya, saat dilakukan pengayaan, lebih dari 50% tutor tidak hadir.

Dalam menanggapi keluhan dari tutor maupun mahasiswa, LPIDB membuat kuesioner yang disediakan untuk mahasiswa sebagai evaluasi program ETP.

“Evaluasinya rata rata bagus, nilai positif tinggi, akan tetapi mau rendah atau tinggi akan tetap kita crosscheck,” imbuh Dwi.

Sulaeha, salah satu tutor mengaku kesulitan dalam mengatur waktu pelaksanaan ETP. “Ketika saya bisa, peserta yang tidak bisa, begitu juga sebaliknya,” tuturnya, Jumat (21/6/2019).

Alfiani Farida, salah satu tutor mengaku dengan adanya evaluasi, ETP akan lebih baik lagi kedepannya. “Adanya evaluasi ETP menurut saya sangatlah penting, untuk pelaksanaan ETP 2019 yang lebih baik,” ujar Alfiani, Jumat (21/6/2019).

 

Reporter     : Meliana Dyah Pertiwi

Editor         : Annisavira Pratiwi