Sebut 23 Persen Mahasiswa Terpapar Radikalisme, Menhan Berencana Tekankan Peran Menwa

0
324

Menteri Pertahanan (Menhan), Ryamizard Ryacudu berencana menghidupkan kembali resimen mahasiswa (Menwa) untuk mencegah penyebaran radikalisme di lingkungan perguruan tinggi.

Dilansir dari gatra.com, ada sekitar 23 persen mahasiswa terpapar radikalisme karena setuju dengan pembentukan negara Islam atau Khilafah. Hal itu disebutkan oleh Menhan saat pembekalan Komandan Lembaga Pendidikan (Danlemdik) di lingkungan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Pertahanan (Kakanwil Kemhan).

Disamping itu, Ryamizard pun menyebut bahwa di tingkat SMA ada 23,3 persen yang setuju akan jihad dan memperjuangkan negara Khilafah. Sementara itu, ada 18,1 persen pegawai swasta, 19,4 persen pegawai negeri sipil (PNS) dan 9,1 persen pegawai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengatakan tidak setuju ideologi Pancasila.

“Kalau 30 tahun lagi mahasiswa itu jadi pejabat, jadi presiden, Panglima TNI, Kapolri. Penegakan Khilafah, selesai bangsa ini. Bisa jadi banyak teroris segala macam, kita bom, mengerikan,” katanya dalam pembekalan di Kantor Kemenhan, Medan Merdeka Barat, Jakarta, Jumat (19/7/2019)

Ia berpandangan, dengan terpeliharanya paham radikalisme, bisa saja negara Indonesia hancur dalam 30 tahun ke depan. Di ranah pendidikan tinggi, Menhan menjadikan radikalisme sebagai perhatian utama. Sebab ia menilai, masa depan bangsa ada di tangan mahasiswa dan pemuda.

Menhan mengungkapkan rencananya untuk membangkitkan kembali resimen mahasiswa (Menwa) untuk mencegah penyebaran radikalisme.”Kemudian nanti ada resimen mahasiswa. Itu untuk menjaga kampusnya jangan sampai ada khilafah masuk ke situ,” tutur Menhan saat diwawancara.

Menhan menjelaskan, nantinya Menwa akan berperan menguatkan nilai-nilai Pancasila dan pemahaman Pancasila ke rekan-rekan di perguruan tinggi. Ia juga berkata, mempertahankan pola pikir cinta tanah air Indonesia menjadi tugas Menwa yang utama.

Tetapi rencana ini baru akan dibicarakan lebih lanjut dengan pihak terkait, seperti Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemenristekdikti) dan pihak kampus. “Kami rancang dulu, kan koordinasi dulu dengan Mendikti. Rektor sudah dua kali ke sini,” ucapnya, dikutip dari news.detik.com.

 

Reporter              : Annisavira Pratiwi

Editor                    : Rifqah