Inovasi Semen dari Limbah, Mahasiswa FTUI Bawa Pulang Medali Perak Ajang ISIF Bali

0
143

Geofast, semen ramah lingkungan berbasis limbah karya tiga mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) Departemen Teknik Metalurgi dan Material, sukses boyong medali perak di ajang ISIF (International Science and Invention Fair), Bali.

Terobosan kembali dikembangkan mahasiswa FTUI dan berhasil membawa pulang penghargaan medali perak di ajang ISIF (International Science and Invention Fair) Juni 2019, Bali. Hal tersebut diutarakan juru bicara Universitas Indonesia, Rifelly Dewi Astuti, dalam keterangan pers Humas UI, dikutip dari viva.co.id.

Produk yang meraih medali perak ini diprakarsai oleh tiga mahasiswa Departemen Teknik Metalurgi dan Material UI; Achmad Fauzi Trinanda, Elton Cang, dan Rama Aditya Syarif dibawah bimbingan Sotya Astutiningsih. Produk berupa semen ramah lingkungan berbasis reaksi geosintesis silika dan alumina, semen inovasi ini dinamakan Geofast.

Ditengah masifnya pemerintah melakukan pembangunan, kebutuhan akan bahan-bahan bangunan sudah pasti meningkat, tak terkecuali semen. Hal itu yang melatarbelakangi ketiganya untuk mengkreasikan semen dengan membuat semen geopolimer dari limbah industri, sehingga lebih ramah lingkungan.

Dilansir dari tekno.tempo.co, salah satu peserta, Achmad Fauzi mengatakan dalam produksi semen konvensional (portland) yang biasa digunakan dalam pembangunan, terdapat proses yang turut berkontribusi meningkatkan pemanasan global. Proses tersebut ialah kalsinasi batu kapur menjadi CaO yang menghasilkan emisi gas karbondioksida ke atmosfer.

“Dalam jumlah besar, hal itu (semen konvensional-red) tentunya sangat tidak ramah lingkungan. Maka dengan terciptanya Geofast, diharapkan pembangunan di Indonesia berjalan baik dengan tetap menjaga lingkungan,” tuturnya.

Jika dibandingkan dengan semen portland, semen Geofast justru lebih ramah lingkungan karena menggunakan limbah industri berupa terak nikel sebagai sumber alumina silika. Selain itu, Geofast bersifat cepat kering sehingga dapat mempersingkat durasi pengerjaan.

“Semen konvensional memiliki durasi kering berkisar 28 hari, sedangkan semen Geofast 7 hari,” jelas Achmad Fauzi. Fauzi berharap, inovasi ini dapat menjadi salah satu solusi di tengah permasalahan yang ada pada masyarakat.

Reporter         : Muhammad Abror Muzakki

Editor             : Annisavira Pratiwi