Misteri Toilet Sekolahku

1
386

Aku kini telah menjadi kakak kelas. Setelah sebelumnya aku adalah siswa kelas 10, dimana lingkunganku tentu saja hanya di daerah kelas 10. Angkatanku tidak pernah ada yang berani melewati kelas di atas tingkat kami, karena kakak kelas pasti akan memandang kami dengan sinis. Kini kelasku berpindah, tidak lagi sama seperti kelas 10. Pemandangan di depan kelasku pun lebih luas dan daerah kelas 11 dekat dengan toilet. Jadi bila ingin buang air, tidak perlu menunduk melewati kakak kelas.

Cerita dimulai ketika guru olahragaku memberi tugas kelompok pada seluruh kelas 11 untuk membuat sebuah koreografi gerakan senam. Pikirku itu sangatlah mudah, apalagi banyak sekali contoh video di internet yang dapat diakses kapanpun. Ditambah, sekolahku pun menyediakan fasilitas wifi yang cukup lancar.  Kalau wifinya lagi ngadat, bisa berkunjung ke perpustakaan. Disana ada komputer dengan jaringan internet. Tetapi nyatanya, tidak semudah itu. Karena jam belajar kami padat, kami jadi tidak punya cukup waktu untuk mengerjakan tugas itu.

Berbagai tugas dari pelajaran lain seperti presentasi, ulangan harian take home, dan tugas individu terus menguras otak kami. Waktu libur yang hanya di hari Sabtu dan Minggu, terpakai untuk mengerjakan tugas-tugas itu. Teman-teman satu kelompokku pun memutuskan untuk bekerja kelompok setelah pulang sekolah. Aku pun juga menyetujuinya, karena artinya beban tugas kelompokku berkurang dan setelah itu aku bisa dengan tenang mengerjakan tugas-tugasku yang belum selesai.

Bel pulang sekolah berbunyi nyaring pada pukul setengah empat sore. Kelompok kami memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum melakukan gerakan-gerakan senam. Saat yang lainnya pergi entah kemana, aku hanya di kelas bermain gawai yang sedang diisi daya. Hingga akhirnya aku tidak sadar waktu menunjukkan pukul setengah lima, teman-temanku sudah mulai berganti pakaian olahraga. Aku juga harus bersiap-siap. Namun aku tidak melihat semua teman-teman perempuan, pikirku mungkin saja mereka sedang berganti pakaian di toilet.

Lalu aku menyusul mereka di toilet dengan terburu-buru. Keadaan toilet sangat gelap, aku mencari saklar untuk menyalakannya. Tetapi tidak ada satupun lampu yang menyala, mungkin rusak. Tanpa pikir panjang lagi aku masuk ke dalam toilet dan beberapa pintu tertutup, mungkin saja itu teman-temanku yang sedang berganti. Di dalam toilet yang tertutup, terdengar gesekan sabuk yang beradu dengan tembok keramik serta sepatu yang menyentuh lantai.

Aku pun bisa tenang, ternyata aku tidak sendiri di dalam toilet yang gelap ini. Tak lama kemudian aku mendengar suara pintu yang terbuka dari sebelah bilik toilet, itu artinya mereka sudah selesai berganti. Aku pun juga telah selesai berganti dan langsung menyusul teman-temanku. Aku melihat mereka berada di depanku sambil berlari-lari karena anak laki-laki sudah berteriak memanggil kami untuk segera berlatih.

Hari berikutnya pun tidak jauh berbeda, tetap sama. Namun kali ini aku melihat kelompok lain juga berlatih, setidaknya itu membuat sekolah tidak terlalu hening. Bedanya, kelompok lain tersebut berlatih di bawah, tepatnya di lapangan. Kelompokku menggunakan kelas lain yang sudah sepi. Seperti biasa, aku berganti di toilet yang sudah gelap itu dan keluar dengan terburu-buru. Aku melihat segerombolan perempuan baru saja naik tangga dekat toilet.

Aku mulai bingung, karena saat di toilet aku sempat mendengar beberapa orang cekikikan dengan suara sabuk yang beradu di tembok keramik maupun sepatu. Tetapi mengapa mereka baru saja naik ke lantai dua? Apa mereka berganti baju di toilet lantai bawah? Aku berusaha berpikir positif, mungkin saja ada anak OSIS yang kebetulan menggunakan toilet, meskipun menurutku tidak masuk akal.

Hari berikutnya sama, lagi-lagi aku menemukan segerombolan perempuan berganti di tempat lain. Mereka berganti di sebelah kelas yang kebetulan tidak terkunci. Dan aku masih bingung dengan suara di sebelah bilik toilet yang selalu aku gunakan. Aku terus bertanya pada diriku sendiri tanpa tahu apa jawabannya. Setelah selesai berlatih, aku melihat jam di ruangan tersebut menunjukkan jam tujuh malam. Penjaga sekolah terlihat mulai berkeliling untuk memeriksa keadaan sekolah. Kelompok kami langsung kembali ke kelas untuk mengambil tas dan bergegas pulang.

Aku berdiri di koridor sebelah kelas untuk menunggu temanku pulang bersama. Atmosfer di sekolahku sudah sangat berubah, tidak seperti saat pagi dan siang hari. Malam ini angin terasa sangat menusuk kulit dan berusaha untuk masuk ke sela-sela baju olahragaku. Aku mengambil gawaiku untuk mengisi waktu sembari menunggu temanku. Sayup-sayup telingaku mendengar suara keran air yang mengalir sangat deras dari arah toilet. Aku membiarkannya karena aku pikir penjaga sekolah pasti akan mematikannya. Tetapi, aku merasa makin bersalah karena mendengar suara air yang tumpah dari bak yang sudah penuh karena kelebihan air.

Menunggu penjaga sekolah akan sangat lama, jadi aku memutuskan untuk mematikan sendiri keran tersebut. Aku melihat sekitarku sudah sangat sepi, terlebih lagi aku harus melewati kelas yang lampunya mati. Aku berusaha tetap berpikiran positif sembari melangkah sedikit demi sedikit menuju toilet. Suara air mengalir deras itu semakin terdengar jelas di telingaku. Saat aku baru akan memasuki toilet, aku merasakan ada seseorang yang menyentuh pundakku, yang membuatku berhenti dan badanku menegang. Aku menelan ludah lalu melihat ke belakang.

Seorang penjaga sekolah menatapku dengan tajam. “Kamu ngapain disini? Sudah malam, sana pulang,” katanya mengusirku. Aku mengangguk dan pergi menghampiri temanku yang ternyata sudah berdiri di koridor menungguku. Karena aku terlanjur penasaran dengan kejadian di toilet itu, aku mulai bertanya dengan teman satu kelompokku.

“Ifah, kamu sama yang lain kalau ganti baju waktu latihan senam dimana sih?”  tanyaku pura-pura tidak tahu.

“Loh kamu nggak ikut emangnya? Anak-anak pada ganti di toilet bawah.” Penjelasan Ifah sukses membuat bulu kudukku berdiri.

“Oh, hehe.” Aku sudah benar-benar bingung harus menjawab apa, karena aku hanya ingin terus berpikiran positif.

“Kamu kalau ganti dimana Fir?”

“Aku kalau ganti di toilet atas.”

“Emangnya kamu nggak takut? Kan lampunya mati.”

Aku masih bisa menghela nafas, aku kira bakalan ada cerita horror yang akan aku dengar. Ternyata memang karena lampunya mati.

“Enggak sih, biasa aja,” jawabku santai.

Sore berikutnya kelompokku kembali berlatih, waktu kami sudah semakin sedikit. Aku kembali berganti pakaian di toilet gelap itu lagi lebih awal karena tidak terlalu gelap. Saat sedang berganti pakaian, kesekian kalinya aku mendengar suara itu, dan aku masih berusaha berprasangka baik. Setelah selesai, aku keluar dari bilik kamar mandi dan kudengar seseorang masih berganti pakaian, jadi aku berniat menunggunya untuk keluar bersama. Sedetik kemudian, gagang pintu tersebut bergerak dan pintu sedikit terbuka. Aku melirik ke dalamnya tapi aneh, tidak ada orang yang keluar. Aku penasaran dan membuka pintu itu untuk melihat apa yang ada di dalamnya.

Terkejutnya aku, tidak ada siapa-siapa disana. Jantungku mulai berdegup kencang, badanku juga sulit untuk digerakkan. Tak jauh dari toilet, aku mendengar suara lari-larian dan langkah menaiki tangga dengan terburu-buru. Aku ingin menyusul dan pergi dari toilet ini tapi kakiku tertahan. Dari arah bak air terdengar suara blubuk-blubuk seperti ada seseorang yang sedang menyelam. Perlahan aku melihat rambut berwarna hitam panjang mengapung di permukaan air.

Mataku membulat seketika, keringat mulai mengalir di dahi serta punggungku. Semakin lama, tubuh wanita telihat jelas dimataku. Ia mengenakan baju putih panjang, masih berada di dalam bak tersebut. Sayangnya rambut panjang tersebut menghalangi wajahnya sehingga tidak terlihat. Awalnya dia menunduk, setelah itu dia mendongak dan sedikit menampakkan wajahnya yang mengerikan. Persis seperti film horror yang aku tonton, wajahnya dipenuhi oleh luka serta darah yang menetes jatuh ke dalam bak sehingga menimbulkan sedikit bau amis.

Aku ingin muntah saat itu, setelah aku menyadari badannya terbelah dan memunculkan organ dalamnya yang bebas bergelantungan di badannya yang atas. Kepalaku benar-benar pusing, kakiku sudah sangat lemas. Pandanganku sudah mulai kabur, lalu seingatku aku jatuh. Ketika aku terbangun, aku tak lagi di toilet itu. Kata teman-teman aku pingsan di kamar mandi. Akhirnya kami menunda berlatih senam dan memutuskan pulang ke rumah masing-masing.

Esok harinya teman-temanku mulai bercerita satu per satu kepadaku. Mereka mengaku sering mendengar suara aneh yang berasal dari toilet itu. Tak terhitung seberapa banyak cerita seram dari kakak kelas tentang toilet yang sering aku sambangi. Setelah kurenungkan, aku merasa setuju, karena setiap masuk ke dalam toilet gelap itu bulu kudukku selalu berdiri walau saat siang hari. Orang-orang yang pernah mengalami sendiri atau mendengar cerita seram tentang itu lebih memilih menggunakan toilet bawah. Meskipun itu artinya harus naik turun tangga.

“Oh ya Fira, aku mau tanya sama kamu,” Indah, salah seorang temanku bertanya padaku, “Ifah itu siapa sih?”

Aku mengerutkan keningku. Tentu aku heran, dia bertanya tentang teman satu kelas, bahkan satu kelompok denganku dan Indah.

“Ifah kan teman sekelas kita, bahkan satu kelompok senam pula.” Aku terkekeh dengannya yang berusaha membuat lelucon dengan ekspresi seriusnya.

“Tapi di kelas kita nggak ada yang namanya Ifah, kamu selalu membicarakan tentang Ifah.”

Aku tertawa terbahak-bahak, kali ini leluconnya benar-benar lucu. “Aduuh, apaan sih kamu, lucu banget. Dia kan duduk di belakang pojok tuh.”

Indah bangkit dari duduknya dan mengambil absen di meja guru. Ia memberikannya padaku, dan aku segera membukanya untuk memeriksa seseorang bernama Ifah. Hasilnya tidak ada. Aku berusaha mencari lagi, mungkin aku melewatkan sebuah nama, tapi hasilnya sama. Tidak pernah ada nama Ifah di daftar absensi. “Kok nggak ada sih?,” heranku.

Lalu, Indah menatapku dengan ekspresi yang sulit kujelaskan. Aku menoleh ke arah bangku pojok belakang tempat Ifah biasa duduk dan melihat seorang gadis menatap ke arah papan tulis. Tiba-tiba saja kepalanya berputar sepenuhnya, kemudian berhenti dan menatapku. Ia tersenyum dan aku melihat cairan merah mengalir deras melewati pipinya yang pucat. Aku yakin itu jelas bukan air mata, sebab yang aku tahu mana ada air mata yang memiliki warna.

Penulis: Nisrina Dwi Cahyani

Mahasiswa Aktif Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMS

1 KOMENTAR

Comments are closed.