Sebab Cantik itu Luka

0
118

 

Judul : Cantik itu Luka
Penulis : Eka Kurniawan
Jumlah Halaman : 505 halaman
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2002

Sebab cantik itu luka. Kalimat itu dijadikan sebagai penutup dari buku setebal 505 halaman ini. Sementara pada kalimat pertamanya, Eka Kurniawan menyebutkan bahwa sore hari di akhir pekan pada bulan Maret, Dewi Ayu bangkit dari kuburan setelah dua puluh satu tahun kematian.

Dua belas hari sebelum kematian Dewi Ayu pada dua puluh satu tahun lalu, wanita itu melahirkan seorang bayi. Anaknya yang keempat, setelah melahirkan tiga orang anak perempuan dengan kecantikan yang didamba oleh seluruh Halimunda, tempat tinggal mereka. Ketiganya adalah Alamanda, Adinda, dan Maya Dewi. Pada anaknya yang keempat itu, Dewi Ayu menginginkan hal yang berbeda, meminta doa dimana pun ia ingat dan pada siapa saja yang mendengarnya. Impiannya terwujud. Anaknya yang terakhir itu terlahir dengan wujud buruk rupa.

Tanpa mengetahui bagaimana rupa dan wujudnya selama dua belas hari sebelum Dewi Ayu meninggal dunia, bayi itu ia beri nama Si Cantik. Sebelum nyaris memberi namanya Luka.

“Kau harus memberinya nama yang baik.”

“Yah. Namanya Cantik.”

“Oh.”

“Atau Luka?”

“Demi Tuhan, jangan nama itu.”

“Kalau begitu, namanya Cantik.” (hlm. 5)

Buku ini memang berkisah tentang bagaimana Dewi Ayu dan seluruh keturunannya menjalankan hidupnya. Dewi Ayu lahir dari pasangan Aneu Stammler dan Henri Stammler, dua orang bersaudara satu ayah beda ibu. Dari garis keturunan Aneu, Dewi Ayu tahu bahwa ia keturunan Ma Iyang, yang kemudian namanya menjadi nama sebuah bukit. Seorang perempuan yang dijadikan gundik kakeknya, Ted Stammler, membuat Ma Iyang dan Ma Gedik berpisah dengan cara yang tragis. Sejak mendengar kisah itu, Dewi Ayu jatuh cinta pada Ma Gedik. Ia ingin menikahi laki-laki yang seharusnya menjadi kakeknya jika tidak ada Ted Stammler, dan demikianlah yang terjadi.

Ia menikahi Ma Gedik dengan cara paksa, hingga akhirnya ditinggal mati pula dengan cara yang sama seperti bagaimana Ma Iyang meninggalkan dunia. Begitulah, awal dari segala kutukan, pun tragedi dalam keluarga Dewi Ayu, hingga membuntuti seluruh hidup anak cucunya. Selain karena dari yang awalnya ia percayai, bahwa kutukannya berasal dari ia adalah pelacur paling terkenal se-Halimunda.

Dewi Ayu hidup dalam pergolakan panjang sebagai seorang perempuan sejak usianya masih belia. Menjadi tahanan di era kolonial, dijadikan pemuas nafsu para tentara Jepang dengan cara diperkosa, melahirkan tiga anak dalam rentang waktu dekat tanpa tahu siapa saja bapaknya, hingga akhirnya dengan kesadaran diri sendiri, ia memilih untuk menjadi seorang pelacur yang mendapat bayaran paling tinggi di Halimunda.

Alamanda, si anak pertama yang tersohor akan kecantikannya pula, harus menelan pil pahit yang serupa tapi tak sama. Ia tak mengikuti jejak ibunya sebagai seorang pelacur. Alih-alih, justru ialah yang mempermainkan hati lelaki meski ia sendiri punya seorang kekasih yang dicintainya. Tulah itu ia dapatkan dengan menikah bersama seseorang yang tak ia cintai, Shodancho, setelah sebelumnya ia diperkosa. Shodancho adalah seorang veteran sejak zaman kolonial, ia orang yang disegani oleh masyarakat Halimunda, kecuali oleh perempuan yang ia cintai. Lewat Shodancho pula, kita dapat menemui beberapa masa perjuangannya dalam memerdekakan Indonesia.

Adinda tak jauh beda dengan Alamanda. Selisih umurnya hanya dua tahun dengan si sulung. Ia mencintai lelaki yang sama dengan kakaknya, si Kamerad Kliwon. Seorang komunis yang tersohor di Halimunda. Pemuda tampan yang berkarisma dan digilai oleh banyak perempuan. Ialah, laki-laki yang membuat kesabaran Adinda begitu diuji dalam pembuktian cintanya. Lewat Kamerad Kliwon, Cantik itu Luka memberi rupa perpolitikan Indonesia pada masa-masa kejayaan komunis di Indonesia.

Maya Dewi, anak ketiga, dinikahkan oleh Dewi Ayu pada kekasihnya, Maman Gendeng, orang yang sudah ia percayai, dengan alasan agar anaknya itu tidak dipermainkan maupun mempermainkan lelaki. Maman Gendeng adalah preman penguasa Halimunda. Usianya terpaut jauh dengan Maya Dewi. Tapi toh, dengan kesabarannya pula, ia dapat memetik cinta dari seorang perempuan yang sempat ia anggap sebagai anak.

Sementara Si Cantik, anak terakhir, lebih banyak disebutkan di akhir buku. Setelah segala tragedi yang dialami oleh ketiga anak pertamanya, pun cucu-cucunya yaitu Nurul Aini, Rengganis si Cantik, dan Krisan, Dewi Ayu tak banyak berharap. Ia bahkan menginginkan bayi yang ia kandung di usianya yang sudah memasuki usia hampir 50-an itu mati. Si Cantik yang buruk rupa itu, yang ditemuinya setelah dua puluh satu tahun kebangkitannya, juga memiliki tragedinya sendiri, memiliki lukanya sendiri.

Tapi tragedi adalah tragedi, dan kutukan adalah hal yang tak punya kendali. Eka Kurniawan menggambarkan kesurealisannya dalam balutan kisah keluarga yang padat, dinamis, dan turut serta menyeret pembacanya untuk memahami itu semua. Cantik itu Luka bisa jadi dibilang sebagai kisah yang melampiaskan dendam satu sama lain, dari masa ke masa, melewati zaman kolonialisme hingga neoliberalisme, dari turunan keluarga garis pertama, kedua, dan seterusnya.

Maka, bersiaplah untuk dipermainkan dalam dunia yang Eka ciptakan. Mungkin, kamu (pembaca) akan bosan sejenak, menemani setiap karakter yang digambarkan oleh Eka dengan sedemikian detail, mendampingi setiap tokohnya menjalani kehidupan sehari-harinya. Mengikuti alur maju-mundur yang dilempar semau Eka tanpa bisa kita menduganya, justru itu letak keseruannya.

Sebab begitulah Eka dengan gaya surealismenya, menciptakan adegan-adegan yang kadang kala membuat kening mengernyit karena keanehan-keanehan yang dilakukan setiap karakternya.  Mari sepakati tentang apa yang tersaji di sampul belakang buku, bahwa kisah ini memang merentangkan kutukan dan tragedi keluarga yang dibalut roman, kisah hantu, kekejaman politik, mitologi, dan petualangan.

Penulis: Dian Aulia Citra Kusuma