Imam: Kompetitif di Tengah Kesibukan Menjadi Mahasiswa

0
252

Menjadi seorang mahasiswa berprestasi, mendapat beasiswa, aktif berorganisasi, sekaligus menjalani bisnis pribadi adalah hal yang nyaris tak mungkin bagi kebanyakan mahasiswa Milenial.

Terbayang berbagai kesibukan dan tanggungjawab yang menghadang, membuat mahasiswa jarang mampu membagi waktunya baik.

Berorganisasi lancar, namun kuliah keteteran. Atau sebaliknya, hanya menjadi seorang mahasiswa kupu-kupu dengan kompetensi akademik yang bagus, tetapi tidak memiliki peran dalam berorganisasi.

Namun Aulia Imam Maulana, menjadi satu yang berbeda dari kebanyakan mahasiswa Milenial. Mahasiswa jurusan Teknik Mesin angkatan 2016 ini memiliki serentetan prestasi, lolos beasiswa, bahkan di sela-sela kesibukannya berorganisasi, dia punya bisnis pribadi.

Laki-laki kelahiran Brebes, 2 Agustus 1997 ini menyibukkan hari-harinya dengan berbagai hal, diantaranya melalui kiprahnya di dunia kepenulisan karya ilmiah. Salah satu penelitian Imam membahas mengenai energi terbarukan dari energi angin menjadi energi listrik.

Penelitian ini berhasil meraih juara Harapan II dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) di Medan, Sumatera Utara. Saat ini pun, Imam sedang menggarap penelitian mengenai Aquaponik dengan tenaga surya untuk LKTI di Universitas Negeri Semarang (UNNES).

Tak cukup berkompetisi melalui LKTI, tahun ini Imam juga berinisiatif mendaftarkan dirinya menjadi calon Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) mewakili Fakultas Teknik.

Ketika tim Pabelan-Online menanyakan alasannya mendaftarkan diri menjadi calon Mawapres (20/06/2019), Imam menjawab, “Saya ingin tahu, sejauh mana sih kemampuan saya dibanding teman-teman dari jurusan lain dan fakultas lain.”

Gagasan-gagasan brilian yang Imam miliki tak hanya dituangkan dalam kelihaian bermain kata dan melakukan penelitian karya tulis ilmiah. Beberapa ide-ide yang ada di pikirannya juga turut ia terapkan kepada masyarakat kampung halamannya.

Pada tahun 2016, di kota kelahirannya, Brebes, Imam mendirikan sebuah perpustakaan untuk anak-anak. Dengan memanfaatkan sisa dana donatur musibah banjir Brebes, Imam berupaya memberikan fasilitas pendidikan sekaligus tempat bermain bagi anak-anak desanya. Hingga kini, Imam telah mendirikan tiga perpustakaan kecil yang bertempat di daerah Brebes dan Klaten.

Pagi itu, di depan Kantor Sekretariat Keluarga Mahasiswa Teknik Mesin (KMTM) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang cukup ramai, Imam juga sedikit bercerita mengenai mimpinya. Sejak masa sekolah, ia telah memiliki mimpi untuk melanjutkan pendidikan dengan beasiswa.

Maka dari itu, demi mewujudkan mimpinya, ia mencoba mendaftar di berbagai universitas melalui jalur beasiswa. Semuanya menemui jalan buntu, Imam mengatakan terhitung sepuluh kali ia telah ditolak oleh berbagai universitas.

Namun, hal itu tak juga menyurutkan semangat Imam dalam mengejar mimpinya. Imam pun mengincar beasiswa Bidikmisi yang ada di UMS dengan kuota beasiswa hanya satu mahasiswa per jurusan.

Perjuangan berbuah hasil, hingga kini telah tujuh semester perkuliahan ia tempuh dengan pembiayaan ditanggung oleh pemerintah.

Menurutnya yang pernah juga menjabat sebagai Ketua Umum KMTM UMS ini, menjadi seorang mahasiswa haruslah bisa berpikir cerdas, yakni mampu menentukan langkah tentang apa yang harus ia ambil dalam mengembangkan kemampuan diri dan masa depannya.

Selain itu, seorang mahasiswa juga perlu mempunyai jiwa kompetitif. Sangat disayangkan mayoritas mahasiswa zaman now kurang memiliki minat untuk berkompetisi. Padahal, setelah lulus kuliah, mencari pekerjaan adalah hal yang sangat sulit jika seseorang tidak memiliki banyak pengalaman dan jiwa kompetitif dalam dirinya.

Mengembangkan kemampuan diri pun dapat dilakukan dalam bidang apapun, tidak harus monoton sesuai jurusan yang telah ditekuni. Imam menceritakan dirinya yang telah memulai bisnis kuliner, yakni produk coklat bernama Makuto. Bisnis yang ia jalani sebenarnya tidak berhubungan sama sekali dengan jurusan Teknik Mesin-nya.

Namun, hal itu bukanlah sesuatu yang mustahil. “Justru jika suatu waktu saya telah lulus dari Teknik Mesin, lowongan pekerjaan untuk saya menjadi banyak, tidak menutup kemungkinan saya akan menjadi pembisnis dan sebagainya,” tukas Imam.

 

 

Reporter       : Ani Sariski

Penulis         : Sukma Dwi Astuti

Editor           : Annisavira Pratiwi

 

Teks telah diperbarui pada 02/11/2019 22:23