Mahasiswa Tewas Saat Demo, WD III FT UMS Beri Tanggapan

0
213

UMS, pabelan-online.com – Aksi mahasiswa dan pelajar yang menolak revisi UU KPK dan RUU KUHP di berbagai kota menyisakan duka. Saat demonstrasi, kericuhan dengan aparat negara tak lagi bisa terbendung hingga menimbulkan lima korban tewas.

Demonstrasi September lalu masih menyisakan duka. Dihimpun dari berbagai sumber, mahasiswa dan pelajar yang berdemo untuk menyampaikan pendapat berujung meregang nyawa. Mereka adalah Maulana Suryadi, Akbar Alamsyah, dan Bagus Putra Mahendra, pelajar yang tewas saat demo yang berujung ricuh di Kompleks Parlemen Senayan pada September lalu, dan belum diketahui penyebab pastinya.

Tak sampai disitu, dalam laporan yang ditulis merdeka.com, dua mahasiswa asal Universitas Haluoleo Kendari, Randi dan Muhammad Yusuf Kardawi menambah daftar korban, usai terlibat bentrok dengan pihak kepolisian saat demo di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Tenggara.

Randy tewas tertembak peluru tajam yang diduga milik kepolisian di bagian dada kanannya. Sementara itu, Muhammad Yusuf Kardawi tewas setelah melewati masa kritis akibat kepalanya dihantam oleh aparat. Hingga berita ini turun, belum ada kejelasan siapa sebenarnya pelaku penembakan mahasiswa tersebut dan kasus ini belum dikatakan usai.

Dilansir dari viva.co.id terkait perkembangan terakhir, ada enam personel Polda Sulawesi Tenggara yang diperiksa terkait pelanggaran Standar Operasional Prosedur (SOP) karena membawa senjata api dan belum diketahui kelanjutannya. Mendengar hal tersebut, Muhammad Alfatih Hendrawan, Wakil Dekan III Fakultas Teknik (FT) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), mengungkapkan kekecewaannya.

Baca Juga Tengah Garap Bangunan Baru, Pesma: Fasilitas Tak Kalah Dari Hotel

Ia beranggapan bahwa sebenarnya setiap manusia memiliki hak hidup dan dipelihara oleh negara. “Jelas undang-undangnya, lha dia cuma menyampaikan pendapat, kok malah sampai diambil nyawanya,” ujarnya, Selasa (15/10/2019). Pria yang juga merupakan aktivis demo 1998 ini mengungkapkan bahwa ketidakmampuan untuk menahan emosi, baik mahasiswa maupun aparatur negara masih menjadi persoalan saat di lapangan.

“Seorang mahasiswa tidak bisa menahan diri ya wajar karena dia membayar pajak, dan merasa haknya tidak dipenuhi. Akan tetapi aparat negara yang menerima sebagian pajak sebagai gajinya kemudian melakukan tindakan yang bagi saya sangat represif ya nggak bisa diterima,” tegasnya yang juga merupakan dosen program studi Teknik Mesin, Selasa (15/10/2019).

Selaras dengan pendapat tersebut, salah satu mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UMS, Radetyo Bhumyang Pandu Wirayudha menambahkan, bahwa adanya temuan korban yang tertembak oleh peluru yang diduga milik kepolisian merupakan kelalaian yang sangat fatal.

Kok bisa-bisanya kecolongan polisi membawa senjata tajam, berarti tidak ada pemeriksaan yang ketat sampai merenggut nyawa orang lain, itu kan sangat fatal,” ujarnya, Selasa (15/10/2019).

 

Reporter              : Arsy Candra Prabowo

Editor                    : Annisavira Pratiwi