Pacaran di Muka Umum: Pertanda Merosotnya Moralitas Mahasiswa?

0
563

(Tulisan ini pernah dimuat di Tabloid Pabelan Pos Edisi 86 dan ditulis ulang oleh Sukma Dwi Astuti)

Bagi kebanyakan muda-mudi, memiliki seorang kekasih seolah jadi hal yang wajib. Sehingga tidak jarang, kita mendengar guyonan dan ejekan tentang seorang yang tidak memiliki pacar (jomblo-red). Hal itu kian terlihat wajar ketika muda-mudi sekarang lebih terbuka dalam menangkap berbagai informasi, tak terkecuali kelamnya kultur kebarat-baratan.

Perubahan arus budaya pun menjadi tidak dapat dihindari. Bebasnya pergaulan budaya barat, nampak jelas memengaruhi pola pikir dan sudut pandang generasi muda-mudi zaman now. Hal itu makin diperlihatkan dengan perilaku mereka mengumbar kemesraan di muka umum.

Umumnya, kampus merupakan tempat dimana mahasiswa menimba ilmu. Namun kini, kampus seringkali dijadikan alternatif muda-mudi dalam memadu kasih. Tempat-tempat seperti taman, kantin kampus, maupun tempat parkir, kerap kali menjadi saksi pertemuan pasangan muda-mudi.

Tak hanya untuk melakukan aktivitas seperti halnya mengobrol; pasangan muda-mudi tersebut makin lama terkesan ora ngerti nggon. Kegiatan yang merujuk ke perbuatan tidak senonoh misalnya pelukan dan ciuman, terlihat sering dilakukan bahkan seolah menjadi hal wajar.

Melihat fenomena tersebut, berbagai universitas di Solo memiliki tanggapan masing-masing. Dwi Tiyanto, Pembantu Rektor III Bagian Kemahasiswaan Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta (UNS) 2010, menilai bahwa gaya berpacaran mahasiswa Solo zaman itu belum memasuki tahap mengkhawatirkan.

Dalam upaya antisipasi hal-hal di luar batas norma, universitas bekerja sama dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Menwa dan Satpam kampus untuk mendata orang yang masuk kampus dan berkeliling dengan mobil sirine. Jika pihak kampus menemui perilaku asusila (mesum-red), terutama di lingkup kampus, sanksi tanpa segan akan diberikan pada si pelaku.

Sanksi-sanksi tersebut diberi berdasarkan tindakan yang dilakukan tiap pasangan, dan yang terberat akan langsung dicabut haknya sebagai mahasiswa. Begitu pula dengan UMS, kampus swasta dengan jargon wacana keilmuan dan keislaman, memiliki Tim Komisi Disiplin (Komdis) yang juga memiliki tujuan untuk menertibkan mahasiswa sesuai jalur jargon kampus.

Namun pada kenyataannya, menurut Muhammad Iksan selaku Ketua Komdis UMS 2010, tim disiplin ini bersifat pasif dan hanya akan memproses tindakan menyimpang jika ada laporan. Komdis UMS kala itu bekerja menumpas tindakan asusila menggunakan SK Rektor nomor 045/I/2010 bab XI pasal 18 ayat 2.

Bila condong pada perihal mahasiswa yang cabul akan diskorsing tiga semester. Sedangkan untuk yang berzina dikenakan pasal 3 dengan hukuman drop out (dikeluarkan-red). Namun mahasiswa pun kebanyakan menutup mata dan jarang melaporkan perbuatan-perbuatan tidak senonoh tersebut.

Penyimpangan seperti ini tidak bisa selesai hanya dengan sanksi-sanksi dan peraturan kampus. Karena jelas perbuatan ini bisa dilakukan di mana saja termasuk di luar area kampus.

Maka menurut Dodi Afianto, Kepala Seksi Mentoring Lembaga Pendidikan Ilmu-Ilmu Dasar (LPID) UMS 2010, mahasiswa perlu dibentengi dengan nilai-nilai agama. Di sinilah tugas birokrat kampus untuk menerapkan hukum Islam melalui kebijakan struktural dan tugas sivitas akademika. Ihwal itu diharapkan mampu meningkatkan moral mahasiswa.

Demikian pula Sarwanto, Pembantu Rektor III Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, menyarankan agar mahasiswa mengikuti organisasi-organisasi kerohanian, baik itu Islam, Kristen, atau lainnya. Sehingga mahasiswa akan terbentengi dari perbuatan-perbuatan menyimpang dan memperbanyak kegiatan-kegiatan positif.

Penguatan iman menjadi hal terpenting, itu menjadi acuan mahasiswa dalam bertindak. Jika iman tiap mahasiswanya telah cukup kuat, godaan-godaan tidak bermoral akan mudah untuk ditepis.

 

Editor   : Alvanza A. Jagaddhita